You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen
Pada mudik Lebaran (sebulan) lalu, saya membeli Dunia di Kepala Alice, kumpulan cerpen karya-karya Ucu Agustin. Antara membaca dan melakukan aktivitas lain, saya kerap meninggalkan buku itu di berbagai macam tempat. Di depan televisi, di meja makan, di ruang keluarga, di ruang tamu. Ini yang menyebabkan sepupu-sepupu saya ikut membaca buku yang saya tenteng dan tinggalkan itu.
Sepupu-sepupu saya yang masih kelas 2 SMP dan 2 SMA pun jadi bergantian membaca ketika buku itu sedang tergeletak di berbagai meja. Saya tidak tahu mereka membacanya sampai salah seorang (si 2 SMP) bertanya,
“Jadi, si anak kecil yang di Dunia di Kepala Alice itu, akhirnya mati?”
Mungkin jawaban yang lebih bijak adalah bertanya balik: “Menurut kamu gimana?”
Tapi terlalu cepat saya menjawab, “Iya,” dari sudut pandang saya.
Dan mendengar ini, si sepupu bereaksi, “Wah, sedih banget. Ceritanya bagus banget, tapi kok akhirnya sedih?”
Sebelumnya, saya pernah bertanya tentang berapa usia yang ‘tepat’ untuk mulai membaca suatu karya untuk orang ‘dewasa’. Kumpulan cerpen Ucu ini sering disebut atau dipasarkan sebagai kumpulan cerpen yang isinya dongeng untuk orang dewasa. Walaupun topik di kisah Alice itu sungguh berat (kekerasan seksual terhadap anak, salah satunya), ternyata pengemasan yang dilakukan oleh Ucu membuat cerita itu relatif mudah dibaca kelompok usia yang lebih muda.
Dari sini saya menyadari bahwa cerpen punya keunggulan untuk berfungsi sebagai jembatan. Dari karya ‘anak-anak’ ke cerita bertema lebih matang dalam porsi lebih kecil, daripada langsung melompat ke novel. Bukan berarti langsung melompat ke novel itu tak dibolehkan, hanya saja, itu tadi, bahwa cerpen bisa jadi jembatan bagi pembaca muda yang akan beranjak ke karya dewasa (young adult).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Mungkin pembandingan tidak sepatutnya saya lakukan.
Karena Raymond Chandler saya berpikir bahwa saya butuh sedikit lebih tua untuk membaca tentang orang-orang yang sepuluh tahun lebih tua dan berada di setengah fase kehidupannya. Memulainya dengan pasangan baru, atau pekerjaan baru atau tempat tinggal baru.
Lalu ada Lorrie Moore.
Ini adalah “Willing”, cerita pertama di kumpulan cerpen Birds of America.
Tentang seorang aktris yang karirnya sudah hampir selesai di LA dan memutuskan pindah ke sebuah kamar hotel di Chicago. Hari-harinya diisi dengan telepon ke temannya, mengunjungi orangtuanya, makan malam dengan teman yang lain dan berhubungan dengan seorang pria. Sidra, si aktris, bukan seseorang yang dengan langsung bisa membuat saya terhubung.
Ia tak digambarkan fisiknya secara jelas. Ada jemari yang kurus, atau pinggul yang muncul dalam film atau gambaran dia berubah menjadi sedikit lebih gemuk, tapi tak ada tentang rambut atau tinggi atau mata….
Oh, ada satu tentang warna kulit wajahnya, dan itu digambarkan lewat perdebatan akan warna foundation yang dibeli Sidra. Ia berkeras pada ivory sementara si SPG menyarankan beige.
Dalam jangkauan emosi, Sidra digambarkan lebih lengkap dengan semua tahap kelabilannya. Ada kebutuhan akan keterhubungan di satu titik, lalu ada referensi pop dan budaya di titik lain, lalu vanity (apa padanan yang pas dalam bahasa Indonesia?), kerendahhatian, kemampuan untuk mengidentifikasi dirinya, tapi juga kemampuannya untuk jadi jahat pada pasangannya.
Dan dengan semua elemen itu, saya jadi peduli pada Sidra dan cerita hidupnya.
She’s funny. Lorrie Moore, maksudnya.
Tapi dengan cara yang tajam. Dan kadang dengan sedikit rasa asam.
Saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi dia bisa menulis dengan rasa simpati terhadap karakter-karakternya.
Oke, mereka ditempatkan pada situasi yang belum tentu menyenangkan, tapi cara Moore menggambarkan mereka menghadapi situasi-situasi itu begitu memanusiakan, menghormati, tapi juga tak lepas dari kekonyolan reaksi dan segala macamnya.
Jadi mungkin kemampuan menggerakkan atau menghubungkan pembaca dengan karakter terletak pada metode si penulis untuk bercerita. Cara mana yang menurut mereka paling efektif untuk mencapai seseorang (tapi, apakah ini tujuan mereka menulis cerita?).
Mungkin Chandler, buat saya, jadi terlalu dingin dan polos sementara Moore lebih hangat dan ‘labil’ dan berenergi.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Apakah ada usia yang tepat untuk membaca sesuatu?
Saya sempat, dan masih sepertinya, berpikir jawabannya tidak. Bahwa setelah kita punya kemampuan membaca alfabet, maka anything goes. Jika kita berhadapan atau sedang membaca karya seorang penulis yang benar-benar berempati dengan subyeknya, maka ia tentu bisa menggambarkan rasanya menjadi seseorang yang sangat tidak terhubung dengan kita kan?
Bahwa si penulis akan mampu menggambarkan dan menghidupkan situasi yang menggerakkan karakternya, dan membuat kita seperti berada dalam adegan yang sama. Terlepas dari kita berada di usia yang berbeda atau latar belakang sosial atau masa yang berbeda.
Contohnya (oke ini contoh fiksi, tapi ada kemungkinan terjadi di dunia nyata), tahu film Matilda? Matilda kecil yang bolak-balik ke perpustakaan dan, setelah selesai membaca buku bergambar untuk anak-anak, lalu membaca Ivanhoe dan karya-karya Dickens?
Jadi, penulis yang baik akan memiliki kemampuan untuk membuat kita terhubung ke si karakter ini kan?
So I thought.
Mungkin jawabannya iya, ada usia yang tepat untuk membaca sesuatu. Contohnya adalah meledaknya industri teenlit sebagai sebuah upaya untuk memberi bacaan bagi kelompok usia remaja itu.
Tapi yang saya maksud adalah ini, Raymond Chandler. Namanya selalu disebut-sebut sebagai penulis matang yang menunjukkan bagaimana cerita pendek bisa begitu ‘sederhana’ dan kaya di saat bersamaan. Bahwa dia dikenal karena gaya penulisannya yang simpel tapi efektif. Menggunakan bahasa sehari-hari dan tak berumit-rumit.
Saya meloncat-loncat membaca kumpulan cerpennya “Where I’m Calling From”. Iya, dia menulis dengan sederhana dan ‘mudah’ dan dengan semua atribut yang sudah jadi sinonim dengan nama Raymond Chandler. Tapi saya tak kunjung tergerak.
Dalam cerita-cerita yang saya temui secara acak itu, karakter-karakternya adalah orang-orang berusia setidaknya sepuluh tahun lebih tua dari saya dan sedang mencoba memulai ulang hidupnya dengan sosok yang baru.
Jadi ada tinggalan kesan akan perceraian atau pasangan lama atau anak-anak yang sulit mereka temui. Dan tidak ada dari (penggambaran) situasi itu yang membuat saya terhubung dengan si karakter.
Apakah saya, sebagai pembaca, kurang sensitif? Atau perpustakaan emosi dalam hidup saya belum memungkinkan untuk berhubungan dengan karakter-karakternya? Atau Carver, sebagai penulis, memang hanya begitu saja.
Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi sebagai pembaca, saya perlu merasa terhubung dengan salah satu karakter dari cerita itu. Tak masalah soal kadar keterhubungan. Yang penting hubungan itu ada.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Di blog yang lain, saya tuliskan tentang aliran cerpen realisme. Silakan simak :)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
TADINYA sekadar iseng, mau tahu apa yang keluar jika saya ketikkan “cerpen” sebagai kata kunci pencarian Google. Teryata hasilnya adalah situs ini. Sebagai sebuah blog “pribadi” koleksinya cukup banyak, namun kelihatannya tidak diperbarui lagi. Entri terakhir Januari 2006.
Kemudian secara iseng lagi, saya ketikkan “situs kumpulan cerpen” dan saya dapatkan, apa lagi jika bukan Sriti.com.
Bagaimana dengan teman-teman? Apakah situs cerpen favorit kalian?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Membaca koran yang ringkas dan cergas itu hari Minggu kemarin, eh ternyata ada terjemahan cerpennya Junot Diaz. Diaz, yang katanya mewakili generasi penulis baru Amerika Serikat itu adalah peraih hadiah Pulitzer untuk karya fiksi pada 2008.
How to Date a Browngirl (Black Girl, White Girl, or Halfie) (linknya versi audio. Sudah mencari-cari yang versi teks, tapi harus mbayar di New Yorker. Pun di versi Koran Tempo. Kalau sudah di-upload Sriti.com kali ya, nanti di-link ke sini) adalah yang saya bayangkan sebagai tumbuh besar sebagai orang Amerika.
Oke, semenyenangkan-menyenangkannya Diaz (dan dalam kamus saya, menyenangkan bisa berarti bittersweet, lucu tapi depresif, observasi yang tajam dan detil, bentuk yang unik), komentar pertama yang muncul adalah: jadi Diaz akan menjadi bagian dari promosi redaktur budaya koran ringkas dan cergas?
(Tapi sebenarnya, kalau iya, apa masalahnya? Karya bagus tetap karya bagus kan?)
Bahkan sebelum kemenangan Pulitzernya, Diaz sudah ‘diramalkan’ akan jadi penulis yang ‘hip’. Hip dalam arti tidak terlalu pasaran, tapi cukup, bila namanya disebut, diasosiasikan dengan kekerenan. (Zadie Smith mungkin contoh lain penulis ‘hip’)
Tapi, ini ada beberapa wawancara dengan Diaz. Atau analisa tentangnya. Agar kita lebih terinformasi dan siap terhadap ada atau tidak agenda-agenda budaya (haha!).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Mengagumi Salinger seharusnya tidak diartikan dengan menghilang dari peredaran dan tidak mengeluarkan karya-karya (atau posting-posting) baru. Alasan kesibukan lain sepertinya sudah terlalu sering dipakai bukan?
Jadi ya, sudahlah. Lebih baik untuk langsung ke inti ceritanya kan ya?
Joyce mungkin sering melapisi karyanya dengan banyak simbol untuk jadi kunci ke makna-makna tertentu. Tapi menikmati cerpennya, The Sisters, di lapis pertama saja sebenarnya sudah cukup mengasyikkan.
Mengasyikkan dalam arti, ya sudah cukup memberi bahan-bahan pemikiran dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Ada kan, cerpen yang setelah dibaca, cuma jadi lempeng aja. Nggak memunculkan apa pun. Nggak mbuat marah, mikir, senang, tersentuh, atau berbagai ragam rupa emosi lainnya lah. Nah, dari ragam rupa emosi yang dimunculkan The Sisters, bisa dibilang ini cerpen yang menyenangkan.
Ceritanya dilihat dari sudut pandang seorang anak muda setelah kematian mentornya, Father Flynn. Hubungan si narator dan Father Flynn, walaupun singkat, digambarkan agak kompleks.
Si pastur, melihat potensi si narator, menaruh harapan-harapan dan kepercayaan akan profesi kawan mudanya di masa depan. Si narator sebenarnya tetap menghormati panutannya itu, tapi tak urung merasa terbebani oleh harapan yang ditimpakan padanya. Terbukti, saat Father Flynn meninggal, yang dirasakan si narator, salah satunya, adalah rasa lega.
(Untuk ‘anak cerita’ itu, tentang harapan orang tua terhadap anak muda yang diharapkan akan menjadi penerusnya, saya cuma bisa menghela nafas dan bilang: Ah ya, we know how that story would always end)
Tapi baru pada bagian akhir sosok Father Flynn jadi lebih ‘penting’. Bukan sekadar orang yang sakit, cacat, lalu meninggal. Bahwa ternyata ia adalah sosok yang ambigu. Setidaknya dengan keyakinannya.
(Sosok pemimpin spiritual dan keraguan terhadap keyakinan tampaknya adalah topik yang selalu menarik dibahas. Contoh, subplot Father Karras di The Exorcist)
Ambiguitas sikap Father Flynn itu tampaknya yang membuat saya tak bisa melepaskan The Sisters dari ingatan. Itu dan signifikansi kata-kata “Wide awake and laughing-like to himself…”
Juga pada cara si narator malah lebih sibuk memikirkan rok saudara perempuan Father Flynn yang terpasang secara ceroboh. Dan tentang bagian hak sepatu boot perempuan itu.
Mungkin sudah bisa sebenarnya ya untuk mulai bilang: When in doubt, go with Joyce.
(Dan ughh, Joyce menyelesaikan Dubliners pada usia 25?)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Harian The Guardian punya rubrik tetap. Namanya Digested Read. Inti rubriknya adalah memberikan versi singkat sebuah buku, semacam rangkuman, tapi saya nggak bisa melihat niatan serius dari rubrik ini kecuali untuk mem-bitchslap (duh Facebook sekali) si penulis buku.
Saya tak punya alasan untuk mem-bitchslap The Killers-nya Hemingway sebenarnya, tapi ini cara nge-blog yang belum pernah saya lakukan sebelumnya :)
Oke, ini digested read-nya (versi saya):
Dua pria bersarung tangan masuk ke sebuah kedai, memesan menu makan malam yang belum waktunya disajikan. Walaupun sudah dijelaskan oleh si pelayan bahwa waktu makan malam belum tiba, mereka berkeras memesan menu makan malam. We want dinner! We want dinner! (bukan kata-kata tepatnya, tapi itu intinya) sebelum akhirnya mereka mengalah, memesan roti isi dan memakan roti masih mengenakan sarung tangan. Seorang Nick Adams (alter ego ‘paling terkenal’ Hemingway) juga ada di situ. Seusai makan, dua pria itu menyandera dan mengikat Adams dan juru masak di dapur (ugghh, mengikat orang dengan perut penuh habis makan sepertinya pekerjaan berat deh), sementara si pelayan di depan disuruh mengusiri orang-orang sampai target yang diincar para pembunuh bayaran itu datang (kenali ciri-ciri pembunuh bayaran: Makan roti isi mengenakan sarung tangan. Waspadalah!). Yang ditunggu tak muncul, para pembunuh bayaran pun pergi. Adams dengan segala konflik moralnya ingin mengingatkan si target pembunuhan. Si target pembunuhan ternyata sedang bersembunyi di kamar kos sewaannya dan tidak bisa memutuskan, keluar kamar nggak ya? Atau sembunyi di sini saja? Mati di luar nggak ya? Atau hidup tapi nggak bisa ke mana-mana? Di kamar atau ke luar? Ke luar atau di kamar? I really can’t decide.
Selesai.
(Cukup Monty Python nggak?)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Dalam The Jane Austen Book Club, salah satu karakternya (Sylvia, kalau tidak salah) mengatakan bahwa ada plot tentang pendekatan dan percintaan (courtship) tapi tak menulis tentang plot pada pernikahan. Mungkin karena Jane Austen tak pernah menikah. Mungkin juga karena apa yang terjadi sesudahnya tak sedramatis seperti pada masa courtship itu. Atau ya karena Jane Austen ‘hanya’ ingin menulis tentang masa-masa courtship itu. Toh apa yang dia tulis tentang masa itu juga sudah cukup berlapis-lapis kan?
Tunggu.
Bagaimana saya bisa sampai di Jane Austen? Oh ya. Happy Ever After/A Family Happiness-nya Tolstoy terasa seperti dimulai saat Jane Austen berhenti. Ceritanya tentang seorang perempuan muda bernama Masha, Marya Alexandrovna, yang berusia 17 tahun di awal cerita.
Masha jatuh cinta pada teman ayahnya sekaligus walinya, Sergei Mihailovich yang dua kali (plus, plus) lebih tua darinya. Ini bukan hanya cerita jatuh cintanya Masha, tapi juga jatuh cintanya Sergei Mihailovich. Cerita-cerita ini mungkin terjadi, walaupun saya agak dibuat sedikit tidak nyaman membacanya. (Dia seusia ayahmu, Masha! Dia teman ayahmu!) Ketertarikan pria-pria menjelang paruh baya pada perempuan-perempuan muda, I get it. Tapi ketertarikan seorang remaja pada pria seusia ayahnya?
Plus, sepertinya perasaan Masha di awal-awal cerita ini lebih karena dorongan dan sugesti dari pengasuhnya, Katerina Karlovna, Katya. Mungkin seperti Marianne ke Colonel Brandon (Sense & Sensibility) yang lebih karena dorongan ibu dan kakaknya, yang merasa “kayaknya Colonel Brandon orang yang baik deh” dan jadilah mereka pada akhirnya. Dan mungkin ini cerita yang bisa dibaca back-to-back dengan Emma. Buat yang kesusahan membayangkan tipe pernikahan yang dilalui Mr Knightley dan Emma (pernikahan antara dua orang yang usianya jauh, Mr Knightleynya teman keluarga dari kecil, juga terbiasa melihat Emma sebagai anak kecil sampai akhirnya dewasa, yang Mr Knightley-nya—seperti Sergei Mihailovich—‘violently in love’), hmm di sini Tolstoy masuk. Happy Ever After bercerita tentang transisi dari romantisme courtship ke (yang saya bayangkan sebagai) ‘plot’ tentang pernikahan.
(Kalau diingat lagi, Dr Zhivago? Menjelang tutup tahun 2007 lalu, saya memilih menenggelamkan diri dalam cerita—versi film—di masa musim dingin Rusia yang berkepanjangan. Sub cerita tentang Lara dan Viktor Ypolitovich kan juga mirip-mirip dengan Masha-Sergei Mihailovich. What is it with Russian men and their goddaughters? This is not an all you can eat buffet, you know.)
Yang saya kagumi dari Tolstoy (as if there’s not enough to be admired at) adalah…begini. Pada satu titik saat membaca cerita ini, saya mulai bertanya, darimana datangnya kata-kata ini? Apakah Tolstoy pernah menulis dengan ‘perencanaan’, dengan menciptakan sebuah struktur, dengan mempertimbangkan efek pada pembaca ketika memilih suatu gaya atau metode?
Happy Ever After, sama dengan The Death of Ivan Ilyich, terasa datang dari jiwa. Seperti sebuah keran yang sedang terbuka….Mungkin ini bukan perbandingan yang tepat, keran yang dibuka dan ditutup kan berarti ada perencanaan ya? Ini rasanya seperti sesuatu yang otomatis saja. Aliran sungai, mungkin lebih tepat. Alami, mengalir, bisa mengaduk-aduk emosi, dan ada sentuhan ketuhanan atau kedewaan (godliness) di situ, profetik.
Ada juga rasa kemanusiaan yang besar. Dalam artian bukan sekedar ‘mengetahui’ tentang jalan pikiran dan hati manusia (as if this is not great enough), tapi kepercayaan besar yang diletakkan Tolstoy pada keduanya. Entah ‘apa’ yang dilakukan Tolstoy secara khusus, karena semuanya datang dari tulisan, tapi pada akhir cerita selalu ada sesuatu dalam hati saya yang berubah. Yang membuat saya menghela nafas dan bilang, oh kemanusiaan bisa menawarkan sebanyak ini to.
(Dan somehow, prospek tentang Anna Karenina jadi tidak begitu menakutkan lagi…)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Saya pernah membacanya di suatu tempat, tapi lupa di mana, tentang etis atau tidak menerbitkan karya coba-coba seorang penulis besar setelah si penulis meninggal.
Ada yang bilang tidak, karena si penulis sudah secara sadar memutuskan untuk tidak menerbitkan karya-karya itu ketika masih hidup. Tapi para biografer, penggemar, dan ‘burung-burung bangkai’ yang tidak pernah puas dengan apa yang diberikan si penulis saat ia sudah menjadi seorang Penulis tapi menginginkan juga seluruh peninggalan intelektual si subyek (dan sepertinya saya masuk golongan ini) menilainya etis-etis saja. Sepanjang (entah keberadaan kata ini ‘tulus’ atau tidak) peninggalan itu digunakan untuk membantu menjelaskan karya si penulis. Menurut anda?
Bab pertama ‘The Nick Adams Stories’, ‘The Northern Woods’, tentang masa kecil alter ego Ernest Hemingway di daerah hutan Michigan, sebenarnya lebih terasa sebagai seorang blogger sedang belajar menulis. Dan tidak berarti itu sesuatu yang buruk atau bagaimana, tapi ini, saya membayangkan, jika Hemingway memiliki sebuah blog, maka mungkin cerita-cerita itulah yang akan dimunculkannya di blognya. Atau mungkin dalam kasus Hemingway, ditulis di buku catatan Moleskin-nya (jika stiker di setiap produk buku catatan seharga ratusan ribu rupiah itu bisa dipercaya. Berapa sih sebenarnya harga buku Moleskin di masa Hemingway menggunakannya?)
Nick Adams, Jack Barnes (’Fiesta: The Sun Also Rises’) adalah alter ego-alter ego Hemingway. Tapi Adams, karena diikuti terus perkembangannya oleh Hemingway sejak anak-anak di hutan Michigan, tentara di Perang Dunia, veteran perang yang resah, sampai penulis yang berusaha menyempurnakan seninya, disebut sebagai karakter Hemingway yang fully developed.
Ada artikel bagus tapi puanjang di The Guardian tentang apa yang menjadikan karakter ‘fully developed’. Judul artikelnya ‘A life of their own‘. Ternyata bukan penggambaran fotografis, atau sifat-sifat yang mudah disukai.
“The vitality of literary character has then, perhaps, less to do with dramatic action, novelistic coherence and even plain plausibility - let alone likeability - than with a larger, philosophical or metaphysical sense, our awareness that a character’s actions are profoundly important, that something profound is at stake, with the author brooding over the face of that character like God over the face of the waters. That is how readers retain in their minds a sense of the character “Isabel Archer”, even if they cannot tell you what she is exactly like. We remember her in the way we remember an obscurely significant day: something important has been enacted here.”
“I would be quite happy to abolish the very idea of “roundness” in characterisation, because it tyrannises us - readers, novelists, critics - with an impossible ideal. “Roundness” is impossible in fiction, because fictional characters, while very alive in their way, are not the same as real people. It is subtlety that matters - subtlety of analysis, of inquiry, of concern, of felt pressure - and for subtlety a very small point of entry will do.”
Tentang karakter yang didasari dari hidup si penulis, artikelnya The Guardian itu memetakan dua tipe penulis, yang menciptakan karakter ‘baru’ dan yang tertarik pada ‘the self’. James Woods, penulisnya, memang tidak menyebut Hemingway secara spesifik di kategori kedua, tapi saya rasa dia bisa masuk di situ. Dan nggak masalah juga, asal karakter-karakter itu bisa tetap punya ‘nyawa’.
Ada sih cerpen-cerpen Hemingway yang ‘jadi’ di buku ini, The Killers, Big Two-Hearted River, The Light of the World, Now I Lay Me, dan Fathers and Sons (ingat dengan: “uncomfortably, tightly, sweetly, moistly, lovely, tightly, achingly, fully, finally, unendingly, never-endingly, never-to-endingly, suddenly ended.”?), tapi di bagian ‘Northern Woods’ rasanya lebih seperti sketsa-sketsa atau bagian kecil dari sesuatu yang akan ditempelkan pada karya ‘besar’. (Atau mungkin Hemingway memang menginginkannya seperti itu, toh ini adalah pria yang menciptakan cerpen enam kata gitu lho…)
Jika pikiran saya masih berantakan dalam mencoba mengungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan, maka ini, saya suka membaca draft karya, usaha gagal, atau potongan kecil yang bisa jadi, bisa tidak ditempelkan pada suatu ‘gambar besar’ atau ketika sebuah karya masih jadi kerangka, karena, ya itu, pemetaan pembuatan sebuah karya bisa membuat saya lebih memaknai karyanya.
Mungkin penulis seperti Cormac McCarthy atau Salinger (khususnya Salinger, debatable, karena lagi membaca ‘Seymour–An Introduction’) akan membenci tipe-tipe pembaca seperti saya, yang tidak cukup dengan apa yang disajikan, tapi untuk memaknai sesuatu yang tidak saya mengerti lalu mencari tahu sebanyak mungkin tentang apa yang dibaliknya. Apa yang disajikan seharusnya jadi cukup kan? Tapi, I eat this stuff dengan rakusnya seperti … mungkin seperti orang-orang pada berbondong-bondong ke blognya Dian Sastro (hehe).
Jadi, usaha gagal, coret-coretan asal, tulisan memalukan, atau tidak memalukan tapi belum final, surat-surat, catatan di buku harian, I’m in. Dari semuanya itu, ada saat-saat ketika saya merasa: oh, ternyata penulis juga manusia.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja