Teroka Cerpen

Telaah dan Berbagi Karya Cerpen

“Gerhana Mata”: Preferensi atas Dialog

Saya tak biasanya dikirimi sms Minggu pagi untuk disuruh membaca apa yang ada di koran Minggu. Tapi, dua Minggu terakhir, ada sms yang masuk dari teman dekat, menyuruh membaca halaman Seni & Budaya-nya Kompas.

Pesan-pesan pendek ini bukannya tidak disambut dengan senang hati, I would always welcome a short message from a dear friend. Tapi si teman dekat juga bukan tipe orang yang mengirim sms bernada perintah (halus, sih) seperti itu. Jadi agak merasa heran ketika sms itu masuk. Ternyata, ada lelaki beristri yang tengah getol mengirimkan sms ke teman dekat saya itu sehubungan dengan halaman Seni & Budaya Kompas Minggu.

Pesan pendek pertama datang Minggu, 20 Mei lalu:

“Nari, nari…cb bc gerhana mata.Cerpen kompas tulisan djenar”

Setelah berebut sebentar dengan pembaca lain di rumah–karena ternyata ada antrian–akhirnya saya menemukan cerpen yang dimaksud. Singkat saja, ternyata. Ada beberapa hal yang menarik, walaupun secara keseluruhan, cerpen itu bukan sesuatu yang istimewa. Well, it’s not my cup of tea. Or coffee.

Saya lagi-lagi bingung, kenapa teman saya repot-repot meng-sms ya?

“Ok, so?” (Itu isi balasan saya pada si teman)

“G br skr bc tulisan djenar.Tp dia pinter jg membgn cerita di kolom sesempit itu.”

(Ah. Entah kenapa kok rasanya menyegarkan sekali ya ketika ada yang bilang dia baru pertama kali membaca tulisan Djenar. Maksudnya, Djenar, dan Ayu Utami juga sepertinya, adalah penulis-penulis yang sudah melewati titik overpublicity dan, saya pikir awalnya, telah menjadi nama yang sangat umum. Sampai-sampai sulit rasanya untuk membentuk sebuah opini pribadi yang tidak dipengaruhi oleh saturasi media [apakah ini istilah yang tepat?] tentang mereka. Artinya tidak dipengaruhi? Ya, pernah merasa apa-apa yang dikatakan orang tentang kedua penulis itu bukan sesuatu yang baru? Hanya sekedar ’soundbite’ dari apa-apa yang sudah pernah ditulis atau dikatakan sebelumnya? Nah, itu ukuran saya. Memang subyektif. Karena itu, ketika ternyata, ada juga orang yang suka membaca, tidak terbatas aksesnya pada hal-hal yang berbau kultural, berminat bahkan, tapi mengaku baru pertama kali membaca tulisan Djenar dan menganggapnya pintar membangun cerita di kolom yang sempit, itu saya rasa, yang membuat saya berkomentar…’oh, so refreshing’.)

“Mgkn emg gayanya dia pendek2. Tp biasanya kolomnya sering lbh pjg. Tergantung penulisnya kayaknya.”

“mungkin topiknya aja yang bikin tulisan sependek itu nyentil ke kolom yg lebih luas di pembacany.”

Mungkin memang topiknya. Tapi membaca tentang perselingkuhan dan jatuh cinta di Minggu pagi sebenarnya bukan ide yang membuat saya bergegas-gegas untuk bangun dari tempat tidur setelah Sabtu malam yang sepi. Memang sih, ada imaji-imaji yang menurut saya cerdas, seperti ‘pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan’. Itu sebuah imaji semi-semi surealis yang bisa meletikkan satu cerita tersendiri.

Lalu cara Djenar menggiring pembacanya lewat susunan kalimat ke ‘definisi’ Gerhana Mata juga terkesan ‘logis’. Rapih dan runtun dan ringan dan ritmis.

Tapi saya merasa kehilangan dialog. Oke, ada kalimat-kalimat tidak langsung di ‘Gerhana Mata’ yang mengesankan sebuah dialog terjadi. Tapi ya, rasanya beda dengan dialog beneran.

Entah kenapa, saya selalu mencari dialog dalam cerita pendek. Saya selalu ingin ngetes ’seberapa alamiahnya’ kata-kata dalam dialog itu ketika diucapkan sambil menebak-nebak cara dialog ini ditulis. Dialog, menurut saya, adalah bagian paling rumit dalam sebuah bangunan karya fiksi. Dialog juga yang jadi salah satu ukuran saya untuk seberapa mind-blowingnya karya fiksi. Atau produk budaya lain. (Ya, saya kagum berat dengan skenario film ‘Before Sunrise’ dan ‘Before Sunset’ yang menitikberatkan pada dialog dua pemain utamanya untuk menjalankan cerita dan mampu mempertunjukkan apa-apa yang tidak disampaikan di permukaan. Dua-duanya adalah contoh ekstrim dialog-dialog life-like bisa jadi pilar utama sebuah karya. Sejak melihat dua film itu, saya terobsesi menemukan penerapan gaya penceritaan seperti itu di fiksi).

Ketika saya bilang, this is not my cup of tea or coffee, ya sederhana saja. Saya tidak menemukan bentuk dialog di dalam ‘Gerhana Mata’. Ini sebenarnya hanya masalah preferensi.

Jika (jika lho, ji-ka) ‘Gerhana Mata’ mengadopsi dialog di sela-sela paragrafnya, saya tak yakin apakah bentuknya akan jadi lebih baik. Berbeda pasti, tapi mungkin tak akan seketat dan selancar bentuk ‘jadinya’.

Popularity: 12%

There are 3 comments for this entry. Add yours

  1. Firman Firdaus

    Kalo dialog dalam fiksi, coba simak Umar Kayam dalam Seribu Kunang-kunang di Manhattan.

    May 29th, 2007 at 3:27 pm

  2. Isyana Paramitha Oktasari

    Ceritanya bagus !!!

    March 22nd, 2008 at 7:43 pm

  3. kronikpuisi

    Djenar? Dialog? What the hell is going on in Indonesian literature? Semakin jauh dari puisi saja rasanya.

    March 29th, 2008 at 8:29 am

Join the discussion. Add your comment.

Asia Blog Network

AsiaBlogging.com News

Teroka Cerpen is part of Asia Blogging Network