You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Alice Munro

Alice Munro

isyana — May 30, 2007 / 7:45 pm

Sampai sekarang, saya belum berhasil menemukan satu ekuivalen yang pas dalam bahasa Indonesia untuk kata ‘lovely’. Rasa-rasanya sih ‘lovely’ pada akhirnya adalah menyenangkan. Tapi sebelum sampai pada kesimpulan itu, ada rasa pahit, sakit dan sedih, tapi juga liris, dan cantik. Ada humor, ada juga kesederhanaan, tapi ada kesan akan ‘kelas’. Ringan, tapi terasa secara subtil ada kendali.

Oke, mungkin lebih mudah memberi contoh.

Cerita pendek karangan Alice Munro, “Bagaimana Aku Bertemu Suamiku” yang ada di buku kumpulan cerita pendek “Kisah-kisah Cinta Ganjil: Edward dan Tuhan” terbitan Banana Publisher adalah salah satu wujud ‘lovely’ itu.

Saya tidak akan menceritakan secara detil tentang isi cerpen itu, tapi intinya adalah sebuah proses pendewasaan (coming-of-age) seorang perempuan muda. Caranya, lewat kehadiran seorang lelaki, tapi juga pada akhirnya, lewat menyadari apa yang layak dan tak layak ditunggu atau dikejar dalam hidup.

Perkenalan saya dengan Alice Munro terjadi, sebagian besar, lewat obral buku. Pertama, ada ‘Lives of Girls and Women’ yang saya beli seharga Rp 5 ribu di sebuah obral buku bekas. Itu pun karena di jaket bukunya ada kutipan dari peresensi harian Inggris The Guardian. Selama ini, saya sama sekali belum pernah mendengar Alice Munro.

Lalu, dua kali obral buku QB di Plaza Semanggi dan Jalan Sunda, saya mencoba mencari sebanyak mungkin buku-buku karya Alice Munro. Lewat penjual buku bekas yang menjajakan dagangannya di sebuah milis pun saya langsung cepat-cepat menghubungi ketika dia punya stok buku Alice Munro.

Sejauh ini, baru satu setengah bukunya dari sekitar…tujuhan mungkin, yang sudah saya baca. Tapi, saya sering bingung, apa yang harus saya lakukan dengan cerita-cerita ini?

Ya iyalah, pastinya dibaca. Cuma, pas mbaca, kadang bertanya-tanya, ‘apa yang harus aku cari di sini?’ Atau, ‘ceritanya kok rada haunting gini ya…’ (Bukan karena ceritanya tentang hantu-hantuan, tapi kok manusia, dengan emosi-emosi ‘normalnya’ bisa memberi rasa yang cukup seram ya?)

Akhirnya, saya menemukan sedikit petunjuk untuk membaca Alice Munro. Dari tumpukan buku bekas di aksara, saya membeli ‘Several Strangers: Writing from Three Decades’ yang isinya kumpulan tulisan seorang editor sastra di beberapa harian di Inggris, namanya Claire Tomalin.

Dalam resensi berjudul ‘Time and Distance’ atas kumpulan cerpen ‘The Progress of Love’ karya Munro, Tomalin menulis ini:

“These are not stories that set out to make neat moral pints, they are not fables, and there are no narrative tricks in them. They are rooted in the sheer eccentricity of human beings and the places in which they perform: draughty boarding-house rooms, a deserted swimming pool, a rural skating rink with its scratchy gramophone waltzes. They reveal comfortable old Canada to us as exotic terrain.”

Lebih lanjut, masih dari Tomalin:

“Short stories still get short shrift. They are hard to review, hard to sell, not often awarded prizes. It seems absurd when you consider how firmly established the genre has been for century, how various it is, and how much of our best modern fiction is embodied in it: think of Pritchett, Naipaul, Bellow, to name only three living masters whose short fiction equals their full-length work. (Tambahan: resensi ini dimuat pada 1987, di harian The Observer) For Alice Munro, it is clearly the natural medium. She is never going to write a blockbuster, thank goodness. Read not more than one of her stories a day, and allow them to work their spell slowly: they are made to last.”

Oke, mulai sekarang, ‘A Munro a day’ bakal jadi dosis rutin vitamin sastra yang akan saya konsumsi.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...