You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Hati-hati Ada Galian
Harap maklum.
Posting tentang Alice Munro sebelumnya sepertinya akan jadi sebuah work in progress. Nggak akan tuntas hanya dengan satu tulisan. Saya akan terus mencoba menggali siapa sosok yang disebut sebagai “our Chekhov” oleh penulis Cynthia Ozick ini dan tentang berbagai aspek dari karya-karyanya.
Sosok penulis ini begitu menarik perhatian saya karena dengan membaca cerita-cerita pendeknya (tapi panjang, bisa sekitar 30 halaman buku) dan resensi-resensi bukunya, saya jadi bertanya-tanya, kok dia tidak jadi ‘figur otoritas’ dalam genre cerita pendek ya?
(Atau mungkin belum jadi?)
Maksudnya figur otoritas? Ya, lebih sering disebut namanya, lebih banyak yang kenal namanya, sering jadi sumber yang dikutip ketika topik cerpen dibicarakan, karya-karyanya sering disebut; hal-hal seperti itulah yang ujung-ujungnya berarti lebih banyak publikasi.
Tapi ya, seperti kata Claire Tomalin, Munro tidak akan menulis sebuah blockbuster, sehingga mungkin saja hal itu berarti namanya juga tidak akan jadi di ujung lidah semua orang.
Oh ya, tentang Chekhov, Munro punya kutipan sendiri:
“I have recently re-read much of Chekhov and it’s a humbling experience. I don’t even claim Chekhov as an influence because he influenced all of us. Like Shakespeare his writing shed the most perfect light - there’s no striving in it, no personality. Well, of course, wouldn’t I love to do that!“
(sumber: wawancara dengan Alice Munro di situs penerbit Random House)
Ternyata, pada wawancara yang sama, Alice Munro juga bercerita bahwa bentuk cerita pendek yang dipilihnya pun tergolong sesuatu yang baru. ‘Long short story’, ia istilahkan.
“I seem to turn out stories that violate the discipline of the short story form and don’t obey the rules of progression for novels. I don’t think about a particular form, I think more about fiction, let’s say a chunk of fiction. What do I want to do? I want to tell a story, in the old-fashioned way–what happens to somebody–but I want that ‘what happens’ to be delivered with quite a bit of interruption, turnarounds, and strangeness. I want the reader to feel something is astonishing–not the ‘what happens’ but the way everything happens. These long short story fictions do that best, for me.”
Mungkin, sekarang ada momentumnya Alice Munro punya audiens yang lebih luas dari sebelumnya, walaupun mungkin juga pertambahan itu tidak terlalu drastis. Salah satu cerita Munro, “The Bear Came Over the Mountain” diadaptasi jadi sebuah film berjudul “Away From Her” oleh sutradara Sarah Polley. Resensi majalah The New Republic, menyimpulkan film ini sebagai sesuatu yang : “delicate, seriously disturbing and lovely”. Komentar-komentar yang bisa ditempelkan pada cerita-cerita pendek Alice Munro lainnya. Itulah identitas utama cerita-cerita pendeknya. Resensi lain dari filmnya, bisa ditemukan di situs New York Times.
Cerita “The Bear Came Over the Mountain” kemudian diterbitkan ulang menggunakan judul yang sama dengan filmnya. Tapi, dalam prakatanya, Polley, yang bermain sangat apik dalam “My Life Without Me”, menuliskan satu hal yang saya juga alami ketika membaca cerita-cerita pendek Munro. Kata Polley, “I returned to it many times in the following months, trying to make sense of the hold it had over me.”
Dalam kesederhanaannya bercerita, Alice Munro juga menawarkan sebuah enigma bagi para pembacanya. Cara ‘memperlakukannya’, ternyata, adalah dengan terus-menerus menggali.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.