You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Taman dalam Cerpen
Harian Kompas, edisi Sabtu 2 Juni 2007 lalu menerbitkan tulisan cerpenis Ratno Fadillah tentang taman dan penggambarannya dalam cerpen-cerpen Indonesia sebagai sebuah ekspresi demokrasi. Judul lengkap tulisannya, “Ekspresi Demokrasi Cerpen Indonesia“. (Ya, saya cuma me-parafrase tema utama dari judul tulisannya…)
Penulisnya mencatat upaya beberapa cerpenis Indonesia, seperti Seno Gumira Adjidarma (SGA), Agus Noor sampai Hamsad Rangkuti yang melakukan interpretasi terhadap ruang publik, terutama taman kota di Jakarta, dalam karya-karya mereka. Salah satu kesimpulan yang ditarik penulis adalah:
“Dengan menautkan narasi hasil representasi cerpen Agus Noor itu dengan hasil pengamatan SGA terhadap taman-taman kota, dapat tergambar jelas bahwa taman telah mengalami pergeseran makna secara sosial kultural.”
Cuma, pergeseran makna secara sosial kultural terhadap taman-taman di Jakarta, lewat cerpen, sepertinya bukan ‘baru-baru’ saja dilakukan kan?
Saya ingat, pernah membaca buku kumpulan cerpennya Pramoedya Ananta Toer dalam bahasa Inggris, judulnya “Tales from Djakarta” yang bercerita tentang seorang pelacur yang daerah kerjanya di taman sekitar Monas, depan Istana Negara. Cerpennya Pram, yang saya lupa judulnya itu, juga menggambarkan kondisi prostitusi secara umum di lokasi yang sama dengan setting waktu, kalau tidak salah, sekitar tahun 1950an-1960an.
Jadi, kalau dilihat dari cerpen Pram, berarti pergeseran makna sosial kultural terhadap taman juga bukan satu fenomena baru? Yang lebih ironis mungkin ketika kita menyadari, selama ini berarti tidak ada upaya serius dalam mengatasi kurangnya ruang publik di Jakarta.
Saya menyadari, SGA menggambarkan dengan sangat realistis fungsi taman kota yang ada di Jakarta lebih sebagai “tempat tinggal gelandangan, anak-anak jalanan, atau pekerja seks liar yang mencari mangsa”. Tapi, saya tetap tak bisa menghapus imaji akan rendez-vous romantis seperti di film-film Woody Allen ketika mendengar ungkapan “taman kota”.
Realistiskah mengharapkan sepersepuluh, atau seperduapuluh saja, dari Central Park untuk muncul di Jakarta?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.