You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Mengawali Tentang Eudora Welty
Namanya saya dengar pertama kali dari, mana lagi, serial ‘Gilmore Girls’. Tapi mendengar namanya disebutkan, saya seperti menemukan kunci ke cahaya ilmu pengetahuan yang disebut-sebut Salinger di “Franny and Zooey”. Namanya seperti mewakili sebuah dunia mengagumkan, yang selama ini ternyata sudah ada, tapi belum pernah saya ketahui sebelumnya. Padahal, selama ini saya mengira sudah mengetahui semua nama-nama yang ‘harus’ saya ketahui, tapi ternyata masih ada ‘Eudora Welty‘.
Pada QB Book Sale setahun lalu, saya mencoba mencari sebanyak mungkin Eudora Welty dan menemukan dua novel, satu kumpulan esai tentang sastra dan satu kumpulan cerita pendeknya. Perempuan yang lahir di Jackson, Mississippi ini pernah meraih hadiah Pulitzer untuk novelnya “The Optimist’s Daughter”. Walaupun novelnya meraih Pulitzer, tapi dalam hati, Welty lebih merasa sebagai seorang penulis cerpen.
Ternyata, figur Welty sebagai salah satu ‘otoritas’ dunia cerpen pernah dimasukkan dalam buku “Yuk, Nulis Cerpen Yuk”-nya Muhammad Diponegoro. Baru kemarin-kemarin, iseng-iseng membolak-balik buku itu dan ternyata ada ringkasan tentang Welty di sana. Hmm, kok namanya tetap terselip dalam ingatan ya?
Ada beberapa fakta yang menarik tentang Welty dalam buku Muhammad Diponegoro itu, salah satunya adalah kutipan dari wawancara si penulis menjelang ulang tahunnya yang ke-72 dengan Saturday Review. Tentang cerpen, ia mengatakan, “Saya yakin, secara alamiah saya lebih seorang cerpenis daripada novelis. Saya berpikir dalam impuls-impuls (alur) tunggal. Dan saya menganggap cerpen sebagai suatu impuls lirik, sesuatu yang berawal dan berjalan terus, lalu berakhir dalam satu garis kurva tunggal. Sekalipun dalam menggarapnya tidak demikian. Novel, tentu saja, sejak lahirnya merupakan bentuk tersendiri dari segi energi, arah dan tujuan. Jadi, jika saya menemukan apa yang saya kira sebuah cerpen ternyat akan menjadi novel–begitulah cara saya menulis novel– saya pun harus membuang cerita itu, lalu kembali dan memulai lagi dengan timing yang sama sekali berbeda.”
Yang menarik dari Welty, sebagai seorang penulis, kehidupannya tak penuh dengan riuh rendahnya drama. Ia mengakui, ” I am a writer who came of a sheltered life. A sheltered life can be a daring life as well. For all serious daring starts from within.”
Dalam bab pengantar di kumpulan cerita pendeknya “Selected Stories of Eudora Welty“, cerpenis dan mentor Welty, Katherine Anne Porter, menulis, “She considers her personal history as hardly worth mentioning, a fact in itself surprising enough, since a vivid personal career of fabulous ups and downs, hardships and strokes of luck, travels in far countries, spiritual and intellectual exile, defensive flight, homesick return with a determined groping for native roots, and a confusion of contradictory jobs have long been the mere conventions of an American authors’s life.” (Mungkin bukan sekedar ‘konvensi’ hidup penulis Amerika, tapi juga penulis-penulis di berbagai belahan dunia lainnya).
Penulis yang disebut kerap menggunakan gaya Southern Gothic ketika menulis itu juga mengaku sebagai seorang yang “underfoot locally”, artinya memiliki kehidupan sosial dalam jumlah yang ‘normal. Tapi kehidupan sosial dalam jumlah yang ‘normal’ di kota berukuran menengah di bagian Selatan Amerika bisa menjadi pekerjaan full time, tapi Welty masih bisa menyediakan waktu untuk menulis. Teman-temannya sampai heran, karena mereka sering bertemu Welty, kapan ia punya waktu untuk menulis cerita-cerita pendeknya.
Dari situ terlihat, Welty tak membutuhkan tempat-tempat asing atau berbahaya sebagai bahan cerita-ceritanya. Ia percaya bahwa pengalaman-pengalaman ‘lokal’nya sudah cukup untuk mulai menulis. Cerpen-cerpen yang ditulisnya pun, setting lokasinya, tak pernah melewati batas wilayah negara bagian tempat Welty tinggal. Keberadaan Welty membuktikan adagium “tulislah apa yang kamu ketahui” bisa jadi sesuatu yang mencukupi dalam penulisan fiksi.
Kata Porter, “She shall not need even to live in New York in order to feel that she is having the kind of experience, the sense of ‘life’ proper to a serious author.” Welty pernah kuliah di New York, tapi setelah selesai, ia memutuskan kembali ke Jackson dan hidup bersama ibunya dan teman-teman masa kecilnya secara sederhana.
Porter menambahkan, hampir semua penulis Selatan yang ia kenal adalah “early, omnivorous, insatiable readers“. Pembaca-pembaca muda yang tak segan melahap semua jenis buku dan tak mudah terpuaskan. Welty juga termasuk dalam pola ini.
“She had at arm’s reach the typical collection of books which existed as a matter of course in a certain kind of Southern family, so that she had read the ancient Greek and Roman poetry, history and fable, Shakespeare, Milton, Dante, the eighteenth-century English and the nineteenth-century French novelists, with a dash of Tolstoy and Dostoievsky, before she realized what she was reading.”
Ini mungkin bisa jadi contoh, betapa ‘menyadari’ apa yang kita baca dan terintimidasi dengan nama-nama besar bisa jadi hambatan untuk meresapi bentuk alami sesuatu yang sedang kita baca itu.
Dan di tengah perdebatan antara berbagai kelompok literer yang berebut pengaruh, Welty bisa jadi contoh alternatif yang segar. Porter mencatat bahwa Welty sama sekali tak pernah belajar teknik menulis di satu institusi pun. “She has never belonged to a literary group, and until after her first collection was ready to be published she had never discussed with any colleague or older artist any problem of her craft. Nothing else that I know about her could be more satisfactory than this; it seems to me immensely right, the very way a young artist should grow, with pride and independence and the courage really to face out the individual struggle ; to make and correct mistakes and take the consequences of them, to stand firmly on his own feet in the end.”
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
firman firdaus
nari, bolehkah daku pinjam buku Moh Diponegoro itu? hehe, punyaku hanyut dibawa banjir. Cari2 lagi di toko buku susah. Mau fotokopi aja deh.
June 6th, 2007 at 4:21 pm
isyana
boleeeehh. sekalian mau pinjem tom wolfe’s new journalism kan? tapi gimana ngambilnya? masih sering main ke kantor? hehehe.
June 9th, 2007 at 12:49 am
Firman Firdaus
nanti kalo pas main ke kantor aku kabari sehari sebelumnya. thanks.
June 11th, 2007 at 12:06 pm