You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Pencatat Kisah-kisah Era Jazz
Jika “The Great Gatsby” adalah sebuah hari yang sempurna, maka cerpen-cerpen F Scott Fitzgerald adalah detil-detil yang mencukupi untuk membuat satu hari jadi terasa menyenangkan. Seperti gelas kopi pertama yang harumnya bisa terekam terus seharian. Atau, cuaca sejuk di pagi hari akibat hujan yang turun malam-malam.
Tunggu. Apakah itu analogi yang baik atau malah terdengar konyol?
Maksud saya, “The Great Gatsby” adalah novel yang sempurna. Ia punya sense of place dan musim yang kuat–itu adalah cerita tentang satu musim panas yang ‘gila’–. “Gatsby” juga menunjukkan satu cara bagaimana tema-tema seperti patah hati, pengejaran dan hilangnya sebuah impian bisa ditulis dengan indah. Dan, saya suka era Jazz Age dengan segala titik puncak dan dekadensinya pada 1920an. Dengan semua pertimbangan itu, mudah untuk mengatakan “The Great Gatsby” adalah sebuah novel yang sempurna.
Tapi, F Scott Fitzgerald juga seorang cerpenis yang baik. Walaupun ‘baik’ mungkin sebuah understatement. Dia mungkin bisa menulis sebuah novel yang sempurna, tapi I like him better sebagai seorang penulis cerpen.
Wilayah yang terbatas membuat Fitzgerald lebih jelas memunculkan ‘wit’ yang menjadi ciri khasnya ketika mendeskripsikan sesuatu, suara Daisy Buchanan di “The Great Gatsby” digambarkannya sebagai “the sound of money” sementara di salah satu cerpennya, “The Diamond as Big as the Ritz”, ia menulis ungkapan perbandingan seperti “as pink as a dream”.
Novel-novel Fitzgerald banyak mengangkat tentang tema-tema memasuki pergaulan sosialita. Tapi, tuntutan-tuntutan berat memasuki gemerlap dunia orang berpunya itu lebih jelas tergambar dalam cerpen-cerpennya. Zaman Jazz pada 1920an itu juga digambarnya dengan warna-warna yang lebih berani.
Tema-tema yang ditampilkan Fitzgerald dalam novel, ditulis lebih tajam dalam cerpen-cerpennya. Dan tentu saja lebih singkat. Lewat cerpen, Fitzgerald juga tampak lebih ‘bermain-main’, ia tak berusaha terlalu keras. Sisi itulah yang selalu saya cari dari seorang penulis. Sangat menyenangkan melihatnya ’sekedar bercerita’.
Buku kumpulan cerpennya, “The Diamond as Big as the Ritz and Other Stories” juga memuat “Bernice Bobs Her Hair”, “The Ice Palace”, dan “The Cut-Glass Bowl”. Semuanya equally perfect. Btw, bukunya yang terbitan Penguin Classics dan harganya sekitar Rp 30 ribuan itu lho.
Di toko buku Kinokuniya, kalau tidak salah, saya pernah melihat kumpulan cerita pendeknya yang lebih lengkap. Judulnya “Tales of the Jazz Age”, memuat empat cerpen di atas dan belasan cerpen lain. Gutenberg ternyata memiliki versi e-book-nya; terbagi dalam dua judul “Tales of the Jazz Age” dan “Flappers and Philosophers“.
Pertanyaan saya adalah, bagaimana kita membaca e-book?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.