You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Dari Lampion Sastra

Dari Lampion Sastra

isyana — June 13, 2007 / 7:39 pm

Akhirnya. Saya menemukan laporan dari Lampion Sastra edisi Jumat minggu lalu (8/6). Memang dari liputan milik orang lain, tapi setidaknya ada sedikit bahan tentang apa yang ditampilkan dan diperdebatkan di acara petang hari itu. Laporannya saya copy paste di bawah, karena saya tidak menemukan link ke halaman eksternalnya. Opini pribadi, ada di bawah laporan lengkapnya. Enjoy.

Gugatan Fiksi Kilat untuk Cerita Pendek SORE itu (8/6), Lampion Sastra, acara rutin bulanan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tidak diselenggarakan di Ruang Kreativitas Sanggar Baru, melainkan di Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Namun seperti biasa, lampion-lampion merah masih digantungkan di ruas-ruas jalan menuju tempat acara sebagai pernak-pernik yang menghipnosis. Hadirin yang datang cukup banyak. Setidaknya sedikit di atas jumlah biasanya. Tema yang ditawarkan cukup menantang, Matinya Cerita Pendek: Pembacaan Fiksi Kilat (Flash Fiction) atau Cerita Sangat Pendek. Panggung minimalis, yang terdiri dari tiga bangku di tengah dan dua di sisi kiri kanan, tidak mengurangi kedalaman aksi pembacaan fiksi kilat oleh Niniek L Kariem, Rara Gendis, dan Adi Kurdi. Dari merekalah hadirin diperdengarkan secara khidmat fiksi-fiksi kilat dari mulai Jorge Luis Borges, Franz Kafka, Ismail Kadare, hingga Sapardi Djoko Damono, Satyagraha Hoerip, dan Iswadi Pratama. Di Indonesia, menurut Ayu Utami, Nukila Amal, dan Zen Hae (3 penulis dari Komite Sastra DKJ), fiksi kilat walaupun masih dianggap sebagai karya liar dan tak berbentuk, kini semakin berkembang. Dengan begitu, bagi mereka menjadi satu kesalahan ketika masih ada anggapan bahwa yang kilat maupun yang populer dinilai sesuatu yang salah, tidak pantas, tidak bermartabat, dan idiom-idiom jelek lainnya. Yang perlu dilakukan saat ini adalah membaca, memahami, dan kemudian mengkaji struktur, wacana serta relasi-relasi maknawi yang terkandung dalam genre fiksi kilat ini. Memang, sampai saat ini masih terdapat pertanyaan fundamental tentang apa sebenarnya fiksi kilat. Dan penjelasan yang dihadirkan cenderung bersifat plural atau mungkin bisa dibilang belum ada kesepakatan baku. Barangkali itu lebih baik, terkadang sebuah kebakuan cenderung menjebak dalam keterkungkungan kreatif. Namun sebagai awal penjelajahan, dapat diuraikan secara pendek, singkat, dan padat pula bahwa fiksi kilat adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas dari pada cerita pendek. Di Tanah Air ada yang menamainya cerita mini disingkat cermin atau fiksi mikro, dan masih banyak lagi. Di Prancis karya fiksi kilat dinamai nouvelles. Di China lebih imajinatif, mereka menyebutnya dengan cerita pendek kecil, cerita pendek semenit, cerita setapak tangan (maksudnya, jumlah baris-barisnya berukuran tak lebih dari telapak tangan). Singkatnya nama-nama di atas sama merujuk pada cerita yang sangat pendek, kilat, lebih pendek cari cerita pendek (cerpen). Pertanyaannya kini seberapa pendek cerita tersebut sehingga dapat disebut flash fiction? Ada yang mengatakan antara 250-1.000 kata, sedangkan ukuran cerita pendek umumnya antara 2.000-20.000 kata. Versi lain mengatakan maksimal 750 kata. Ada juga yang menetapkan maksimal 1.500 kata. Juga ada satu jenis fiksi kilat atas cerita 50 kata atau cerita 100 kata menggunakan jumlah kata yang spesifik. Ketika menanggapi acara ini, cerpenis Hudan Hidayat mengungkapkan cerpen sebagai genre sastra, tidak akan pernah habis atau selesai, seperti novel atau puisi yang ditulis orang-orang. “Bolehlah pada suatu masa, genre ini melemah saat sang senimannya lesu dan kehilangan arah. Tetapi untuk mengatakan ini pun harus menjejerkan keseluruhan cerpen yang ditulis atau mengambil titik kuatnya sebagai sampel,” ujar Hudan. Lebih jauh ia malah mempertanyakan maksud DKJ menyelenggarakan acara seperti ini. “Para pengurus Komite Sastra DKJ tidak ada satu pun yang ahli di bidang penulisan cerpen. Tiba-tiba mereka membuat acara yang menyakiti hati para cerpenis yang telah berjuang habis-habisan untuk tegaknya tradisi cerpen di Indonesia. Ini adalah satu kesalahan besar Komite Sastra DKJ saat ini,” jelasnya. (Penulis: Chavcay Syaifullah; Sumber: Media Indonesia, 8/6/2007)

Saya agak merasa gatal membaca kutipan di paragraf terakhir. Bukan karena saya beranggapan sebaliknya tentang para pengurus Komite Sastra DKJ atau menyetujui kutipan itu. Masalah kapabilitas, terserah pada standar penilaian masing-masing.

Tapi, yang saya tanyakan, apa sih tradisi cerpen Indonesia yang sudah tegak? Atau malah, tradisi cerpen Indonesia itu yang seperti apa sih? Apa yang harus tiap hari Minggu baru bisa ditemui di koran? Sehingga, flash fiction ini digolongkan tidak bisa masuk ke ‘tradisi’?

Jika tradisi sudah ada dan tegak berdiri, kenapa melakukan sesuatu di luar tradisi jadi dianggap melakukan suatu kesalahan besar? Dianggap menyakiti hati, okelah. Tradisi dilanggar pasti ada yang sakit hati. Tapi kesalahan besar?

Yakin?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...