You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Rokok, Aqua dan Sherwood Anderson
Dari hasil membongkar-bongkar lemari buku, saya jadi menemukan lagi buku mini-nya Sherwood Anderson yang judulnya “Kematian di Dalam Hutan” terbitan Yayasan Akubaca. Apakah masih ada yang ingat sama buku-buku kecil itu?
Saya sebenarnya sudah mengambil foto, tapi susah mentransfer, hehe. Jadi saya coba menggambarkan ya. Buku yang slogannya, “buku kecil karya besar” itu luasannya hanya sekitar 10×8 cm. Harganya Rp 5 ribuan. Selain cerpen-cerpennya Sherwood Anderson, Akubaca juga pernah menerbitkan buku mini versi yang sama tapi isinya cerpen-cerpen O. Henry. Dijualnya, kalau nggak salah sih, di lapak-lapak, pakai gantungan plastik yang ada pocket-pocketnya ya?
Saya baru menemukan dan membeli buku mini itu tahun lalu. Harga aslinya kan Rp 5 ribu, tapi waktu saya beli di toko buku pojokan TIM dijual Rp 7500. Agak bertanya-tanya, lho kok harganya jadi lebih mahal? Tapi, nggak apa-apalah. Lha wong ide menerbitkan buku mini saja, menurut saya, adalah million dollars idea. Iya nggak?
Makanya, saya lagi menunggu-nunggu, kapan gerakan seperti ini muncul lagi. Ya, membuat karya-karya sastra menjadi sesuatu yang aksesibel dengan harga yang murah. Dan ide menjual di lapak rokok itu lhooo. Pas lagi beli rokok atau air mineral botolan, sekalian beli bukunya Sherwood Anderson. Itu kan dahsyat. Membuat orang yang mampu mempengaruhi Hemingway, F Scott Fitzgerald dan William Faulkner jadi sejajar dengan beli permen karet di warung.
Bagaimana dengan masalah hak cipta? Ya, memang itu salah satu faktor yang bisa memangkas harga buku. Orang-orang Akubaca, setidaknya AS Laksana, bukan tak lupa dengan hal itu, tapi dia bilang:
“Waktu itu aku cuma berkeinginan untuk memperkenalkan karya sastra dunia semurah mungkin. Kalau tak suka, orang tak terlalu rugi. Kalau suka, ia bisa mencari yang lain.”
(ini dari wawancara, 25/4/2006 buat sebuah artikel tentang seluk-beluk penerbitan buku)
Kalau kita bisa ‘mengesampingkan’ urusan nurani soal hak cipta….hmm, mungkin sebenarnya ini bukan istilah yang tepat, ya. Mungkin lebih tepat, menentukan prioritas. Prioritasnya pada hak cipta atau memperkenalkan karya sastra dunia dengan harga semurah mungkin.
Oke, saya ulangi.
Kalau kita sudah bisa menentukan prioritas, buat sesuatu seperti itu lagi yuk. Maksudnya, daripada menunggu ada pihak yang menghidupkan lagi usaha-usaha seperti itu, mungkin lebih baik memulai sendiri.
Sumber tulisannya toh banyak. Bisa ke sini atau ke sini. Tenaga, ya bisalah kita saling menterjemahkan dan saling mengedit. Modal, urunan. Margin keuntungan pasti bakal tipis banget. Tapi bukankah menyenangkan melihat wujud sebuah upaya?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.