You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Mencari Austen via Budi Darma
Semuanya berawal dari kumcer “Orang-orang Bloomington”. Di cerpen berjudul “Yorrick” Budi Darma menulis:
Caroline, adik Matthew mirip ibunya. Andaikata dia dipinang oleh Brandon dia akan menjadi istri Brandon, andaikata dia dipinang oleh Willoughby dia akan menjadi istri Willoughby, dan andaikata ia dipinang oleh Lowe dia akan menjadi istri Lowe.
Lalu, di cerpen lain “Charles Lebourne” dalam kumcer yang sama, Budi Darma menulis:
“Hanya saya berkeberatan andaikata nanti ada seseorang bernama Wayne, atau Steve, atau Malvin anak Harriet Smith, atau Isabella Thorpe, atau Lydia Wickham menelikung Bapak.”
Colonel Brandon, Willoughby, Harriet Smith, Isabella Thorpe dan Lydia Wickham (nee Bennett). Subtil dan hampir terlewat, tapi nama-nama karakter di novel Austen itu muncul di karya-karya Budi Darma. Saya penggemar berat novel-novel Jane Austen. Dan saya selalu mengira nggak ada cowok yang, secara sukarela, membaca karya-karya Austen. Makanya, cukup kaget ketika ada seorang penulis lelaki Indonesia yang membaca Austen dan mungkin menarik pengaruh dari karya-karyanya.
(tambahan; Ya, saya mengakui pendapat saya tentang ‘identitas’ pembaca Austen perlu diperbarui)
Tapi, yang membuat saya lebih penasaran adalah, apa sih yang menarik dari novel-novel Jane Austen untuk seorang Budi Darma? Budi Darma sebagai seorang penulis yang cerita-ceritanya ‘eerie’ dan cenderung absurd (yang di permukaan tampaknya karyanya sangat tidak berhubungan dengan founding mother of romantic comedy) dan Budi Darma saat menulis disertasi dengan judul, “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novels”.
Lewat ucapan ulang tahun untuk Budi Darma di sebuah milis, saya nimbrung nanya tentang pengaruh Austen di “Orang-orang Bloomington”. Jawabannya:
P.S. Memang benar beberapa nama dalam novel Jane Austen nyelonong masuk ke Orang-Orang Bloomington, tapi pada waktu menulis, saya tidak sadar. Mengapa demikian? Mungkin karena waktu itu saya membaca banyak karya Jane Austen. Apakah ada unsur-unsur lain, seperti misalnya tema, karakterisasi, gaya bertutur, dan sebagainya nyelonong masuk saya tidak tahu, namun mungkin tidak ada.
Hmmm. Kalau jawabannya hanya itu, jujur, saya merasa tidak puas. Mungkin karena semua orang punya imajinasinya masing-masing untuk membuat sesuatu terasa lebih logis dan imajinasi saya sudah keburu berjalan jauh sebelum akhirnya dihadapkan pada reality check.
Tapi, for all it’s worth, this is my two cent.
Lewat Budi Darma, saya menyadari bahwa novel-novel Jane Austen ternyata tidak se-optimis yang saya kira. Tidak seceria dan seromantis yang saya kira. Ada kualitas “eerie” juga di sana. Misalnya, orang-orang dengan niat jahat seperti Willoughby atau Wickham, itu kan sebenarnya sesuatu yang amat menakutkan, apalagi dengan setting kehidupan pedesaan yang tampaknya aman-aman saja. Skala kerusakan yang mereka bisa lakukan kan sebenarnya cukup dahsyat. Dari karya-karya Budi Darma, saya menyadari bahwa Austen ternyata juga dark dan sinister.
Selain itu, ada ketegaan yang dimunculkan Austen ketika menulis karakter-karakter jahat dan karakter-karakter ‘konyol’nya, seperti pada Mrs Bennett atau Mrs Elton. Sebagai penulis, Austen benar-benar tanpa ampun untuk terus-menerus mencatatkan kekonyolan demi kekonyolan mereka di sepanjang buku. Kok dia bisa sekejam itu ya?
Austen juga kejam ketika membuat pembacanya merasa karakter-karakter konyol ini adalah lost cases. Sudah tidak ada jalannya untuk jadi orang yang ’sensible’, kata kunci Austen ketika menggambarkan karakter yang positif.
Dan ketegaan itu juga, saya rasa, yang diadopsi oleh Budi Darma dalam menulis karakter-karakternya di kumcer “Orang-orang Bloomington”, seperti pada karakter anak kecil Orez di cerpen berjudul “Orez”.
Mungkin ini sebenarnya yang dimaksud dengan intertekstualitas. Tapi ini hanya sekedar analisis kecil-kecilan. Ada pendapat lain?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
dicky
kalo nggak salah, itu diskusinya di milis apresiasi sastra ya? jeli juga. nice blog eniwei…
June 18th, 2007 at 4:56 pm
isyana
iya, bener. waktu itu mas akmal di milis apsas berinisiatif ngirim email ucapan selamat ulang tahun ke pak budi darma. kayaknya waktu itu kerasa pas banget, soalnya aku baru selesai mbaca orang-orang bloomington dan penasaran sama referensi ke tokoh2 di karakter jane austen.
thank youuu, sering2 main yaaa.
June 18th, 2007 at 7:55 pm
yy
hiii…aq gak terlalu banyak baca karyanya jane austen, jadi mungkin terkesan dg ‘pride and prejudice’,
July 14th, 2007 at 2:50 pm