You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Ratu Meja Algonquin

Ratu Meja Algonquin

isyana — June 19, 2007 / 7:58 pm

Ah, sampai di sini juga akhirnya. Penulis Jazz Age lain yang juga favoritku, Dorothy Parker. Parker, sebagai sesosok karakter, lebih terkenal akan pengamatannya tajam pada detil yang dimunculkannya dalam sinisme yang menjurus acidic, tapi tak pernah kehilangan semangat untuk mengajak orang tertawa. Dengan cara yang sinis, tentunya. Hehe.

Kalau katanya dramawan George Bernard Shaw, “The power of accurate observation is commonly called ‘cynicism’ by those who have not got it.” Nah, kutipan inilah yang, menurutku, paling tepat menggambarkan sosok Parker.

Dalam menulis puisi, Parker tidak mengakuinya sebagai puisi, ia cenderung bermain-main. Ia menyebut puisi-puisinya: tidy mockeries of art, plesetan yang rapi akan seni. Seperti di bawah ini, Parker mendaftarkan cara-cara bunuh diri:

Résumé

Razors pain you; Rivers are damp; Acids stain you; And drugs cause cramp. Guns aren’t lawful; Nooses give; Gas smells awful; You might as well live.

(Dorothy Paker= promiscuous, ‘luwes’ secara moral berdasarkan standar 1920an, pecandu alkohol, feminis, depressed, terobsesi dengan bunuh diri, dan kerap menyorot dan membuat lelucon tentang perilaku lelaki dan perempuan dalam berinteraksi)

Puisi-puisi Parker yang lain bisa dibaca di sini atau di halaman ini.

Tapi, pas menulis cerpen, Parker menunjukkan satu lagi kekuatannya selain wittycism, yaitu keluwesannya menulis dialog dengan memunculkan intonasi dan…pitch perfect gitu. Rasanya alami, ditulis tanpa ‘paksaan’. Dialog digunakannya dalam ritme yang pas. Dialog jadi pengatur nada cerita. “The Lovely Leave”, contoh pasnya. Tentang satu hari seorang tentara dapat jatah leave dari dinas untuk ketemu istrinya.

Ada “The Complete Short Stories of Dorothy Parker” di rumah. Tapi aku membacanya nyicil-nyicil, biar agak bertahan lama. Terlalu sayang kalau langsung dihabiskan cepat-cepat.

Tapi, cerita yang membuatku sampai ketawa terbahak-bahak, ini nih, judulnya “A Telephone Call“. Aku membaca cerita itu dan mendapati, oh, menunggu telpon (atau sms) dari seorang cowok itu bisa membuat kayak orang gila ya. Nggak 1920an, nggak 2007, pertanyaan utamanya tetap: “why hasn’t he call me?”

(Mungkin bedanya perempuan-perempuan di 2007 sudah pada membaca “He’s Just Not That Into You” ya?)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...