You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Membangun Kubu
Mungkin sebenarnya agak terlambat untuk mulai bicara tentang pertentangan antara the-so-called sastra liberal dan non liberal. Sayyid pun sudah mendokumentasikannya dengan baik di Lentera Susastra (oh ya, sebenarnya Minggu [19/8] lalu masih ada perkembangannya lebih lanjut, nanti coba saya masukkan link-nya ke sini). Jadi, apa yang masih tersisa?
Buat saya perdebatan yang berlarut-larut ini malah jadi refleksi ketidakdewasaan pihak-pihak yang berseteru. Bagaimana tidak dewasa? Mungkin ini sebuah pengamatan subyektif, tapi dari esai-esai yang saling membalas itu, kok malah terasanya ada nada puas ketika sang lawan berhasil dihajar. Seperti tidak ada bedanya dengan bergosip untuk membunuh karakter lawan. Mereka yang terlibat malah terlihat sibuk membangun strategi perlawanan daripada sekedar mempertahankan prinsip, atau apa pun alasan yang digunakan.
Saya tidak percaya dengan kubu dalam sastra. Ellsworth Toohey mungkin cuma sekedar tokoh fiksi, tapi ia berhasil mempengaruhi saya untuk percaya pada penilaian diri sendiri. Saya sudah melihat Ellsworth Toohey-Ellsworth Toohey lain dan mereka tak jauh beda dengan yang asli.
April 2006 lalu, Sutardji Calzoum Bachri juga sempat bilang seperti ini:
“Semangat cari gampang ini, akhirnya melahirkan para sastrawan medioker. Para medioker tidak punya semangat hidup seribu tahun lagi, tapi sekadar ingin survive sesaat. Atau ingin dianggap berarti dan cukup puas menghadiri komunitasnya. Penulis antologi puisi O, Amuk dan Kapak ini, melihat asyik masyuk dalam komunitas sendiri, menjadi jago kandang, melahirkan sastrawan silaturahmi. Dalam bentuk lain, komunitas ini jika maju dan berkembang akan memperkenalkan satu bentuk sastra Gilda. “Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji,” tegas Sutardji.
Peraih penghargaan Pulitzer 1973, Eudora Welty juga tampaknya bukan orang yang membutuhkan kehadiran sebuah kubu, kok.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan ini, bahwa pengalaman pribadi tidak kalah berharganya dari pengalaman kolektif. Sederhana memang, tapi dari perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini, kenapa masih merasa butuh banyak-banyakan massa sih hanya sekedar untuk menentukan standar selera estetika?
Pembaca kan bukan orang-orang bodoh yang butuh diarahkan ke kanan dan ke kiri kan?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
sayyid
Penggiringngan terhadap idealisme yang mengarah kepada ideologi, saya pikir sudah tidak zamannya lagi sastra Indonesia seperti itu. Cukup sudah, gara2 ideologi tatanan masyarakat kita hancur. Komunis dengan Lekranya pernah membekuk habis seluruh karya sastra yang termasuk dalam budaya anti revolusi. Meskipun orang2 setelahnya (orang2 yg percaya kepad Tuhan: Manikebu) malah lebih jahat daripada orang2 Lekra sendiri.
Cukup sudah masyarakat kita menonton pembdodohan yang berkepanjangan ini. Saya harap, kawan2 dari Sastra Liberal maupun non, agar sesegera mungkin melepaskan embel2 di belakang sastranya. Agar sastra Indonesia dapat berbudaya dan berkreasi tanpa intervensi.
August 21st, 2007 at 11:31 pm