You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: “The Garden Party”
“The Garden Party“-nya Katherine Mansfield sekilas mengingatkan akan bagian awal “Mrs Dalloway”-nya Virginia Woolf. Setting waktunya, mungkin. Sama-sama menggambarkan persiapan sebuah pesta yang diharapkan jadi tersukses oleh tamu-tamunya.
Ada pembicaraan tentang bunga di “The Garden Party” yang agak mengingatkan dengan “Mrs Dalloway said she would cut the flower herself.” Dan juga tentang interaksi antara para tuan rumah dan tamu-tamu yang ‘datang’ sebelum pesta dimulai.
Satu entry di buku harian Virginia Woolf, lewat “A Writer’s Diary“, mencatat bahwa Woolf tidak tahan membaca “Bliss” (bisa merujuk pada judul kumpulan cerpennya atau cerpen berjudul itu). Saya tidak sedang berada di sekitar “A Writer’s Diary” sekarang, jadi saya tidak bisa mengutip dengan tepat apa kata-kata Woolf tentang Mansfield. Tapi komentarnya terasa sangat keras.
Agak mengherankan ketika editor sastra dan penulis biografi tokoh-tokoh sastra Inggris Claire Tomalin dalam kumpulan resensi bukunya “Several Strangers” menulis bahwa Woolf seperti menemukan partner intelektual dan penulisan yang setara pada Mansfield. Woolf juga sempat mengatakan bahwa tulisan Mansfield, “The only writing I have ever been jealous of”. Ya, orang memang bisa berubah pikiran kan.
Tapi, membaca “The Garden Party”, saya lebih percaya pada penilaian Woolf yang pertama. Ini cerpen yang…kok saya bisa jijik ya membacanya? Tak bermaksud sekasar itu sebenarnya, cuma saya benar-benar punya sesuatu di pangkal tenggorok untuk dimuntahkan saat membaca beberapa bagian cerpen itu.
Yang paling terasa adalah kenaifan perbandingan dan penggambaran antar kelas sosialnya. Lalu nada penceritaannya yang sangat menggurui. Dan terasa pretensius. Tidak jujur. Buat saya malah tidak ada kejujuran atau ketulusan. Totally and utterly pretentious. Kenaifan yang pretensius. Pura-pura.
Saya masih bergidik lho menulis telaah ini dan membaca ulang cerpennya.
Tapi, okelah, kalau Woolf cemburu dengan tulisan-tulisan Mansfield. Yang bisa dirasionalisasi, mungkin karena Woolf dan Mansfield memasukkan unsur tentang pertentangan kelas dalam tulisan mereka, dan mungkin (mungkin lhooo), Mansfield lewat ‘The Garden Party’ bisa dibilang lebih jujur dalam memotret kenaifan orang-orang seperti Laura Sheridan yang berada di kelas sosial yang sama dengan Nyonya Dalloway.
Mungkin, nanti-nantinya, saya bisa mengakui bahwa Mansfield adalah penulis yang lebih jujur dari Woolf. Sekarang, saya masih bertanya-tanya, apakah pretensi yang dibangun di “The Garden Party” itu disengaja atau memang Mansfield menulis seperti itu?
Beauty, katanya, is in the eye of the beholder. Telaah saya hanya sebuah pendapat subyektif. Yang berbeda pendapat, monggo…
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Isyana
Hey twin sister (in name only hahahaha)! I did a paper called Reading Aotearoa (that’s Maori for New Zealand) back in first year and I had to read this book called Seven New Zealand Novellas from cover to cover. The first novella is by the great Kate, not sure if that’s called The Garden Party, but it’s got a pastoral setting and the plot involves a married couple with a sister-in-law who tries to seduce the husband (and Laura Sheridan actually rings a bell…) The book’s gone now. Sold it to a bookstore because I was rust broke.
I’m kind of uncultured in Mansfield, but having read another of her work (this short story called How Pearl Button Was Kidnapped), I can understand that you reckon she’s pretentious in the depiction of class issues. Well she’s likewise in Pearl Button.
Have you ever heard of Witi Ihimaera? Kalo belum mungkin pernah denger film The Whale Rider? Itu diadaptasi dari novel dia by the same title and it gave its leading actress Keisha Castle-Hughes an Oscar nomination for Best Actress. He’s WICKED! Aku paling suka buku dia yang judulnya Ihimaera: His Best Stories. Agak susah ngejelasin gaya nulis dia, but to sum it up he turns irony and very clever humor into one irresistable combo. That should add to your experience of New Zealand literature mate :)
August 29th, 2007 at 6:25 pm