You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Masih Berlanjut Ya?

Masih Berlanjut Ya?

isyana — September 5, 2007 / 7:52 pm

Cary Grant, sebagai CK Dexter Haven, di “The Philadelphia Story” sempat bilang pada Tracy Lord yang diperankan Katharine Hepburn, “You’ll never be a first rate human being, let alone a first-rate woman until you have some regard for human frailty”.

Saat ini, saya dengan senangnya menyerah untuk tidak jadi “first rate human being let alone a first rate woman” karena benar-benar tak ingin menghormati kerapuhan manusia. Saya sedang ingin mencekik seseorang, atau beberapa orang mungkin lebih tepat, saking geregetannya dengan perdebatan kubu TUK dan Anti TUK atau antara Memo Indonesia dan “lawan-lawannya” yang masih saja terjadi.

Cekikannya tidak bermaksud membunuh orang. Tapi cukup seperti Homer Simpson yang geregetan sama Bart dan berseru, “Why, you little….!” Bart: Ekkkk, ekkk, ekkkk.

Persoalan baru ini muncul dari reportase wartawan Media Indonesia Chavcay Syaifullah pada 26 Agustus 2007. Tulisannya sangat khas Chavcay. Menyerang. Yang saya sayangkan, kok ya menyerang nggak pakai strategi ya? Tendensius. Vulgar. Frontal.

Kita bisa kok menyerang dengan cantik. Apa gunanya Dian Sastro berkoar-koar, play with your beauty? Hehe. Tapi mungkin Chavcay tak ingin bermain cantik. Dia orang terakhir yang saya pikir ingin bermain dengan cantik.

Tulisan itu mendapat bantahan dari Direktur Utan Kayu International Literary Biennale Sitok Srengenge yang mempertanyakan etika jurnalisme yang dipakai Chavcay, terbit 2 September 2007 lalu. Redakturnya Chavcay, tak bersedia jatuh tanpa perlawanan, di edisi yang sama, menambahkan catatan (scroll agak ke bawah untuk menemukan ‘Catatan Tambahan’-nya ya). Perdebatan selanjutnya (dan gugatan balik) juga datang dari penyair Saut Situmorang.

Dan di edisi koran yang sama, di tanggal yang sama, juga ada esai dari M Fadjroel Rachman bertajuk “Sastrawati Menulis Identitas Seksual“. Yang membuat gatal adalah kesimpulan akhirnya:

Oleh karena itu, “Siapa pun yang takut terhadap kebebasan dan tanggung jawab pribadi, takut terhadap perbedaan, kehidupan dan progresivitas, dilarang membaca karya sastrawati Indonesia abad XXI”.

Prude, I am not. Tapi, hanya karena kita eneg dan ingin sesuatu yang lain, bukan berarti kita takut kan? Mengutip cerpenis pemenang Pulitzer Katherine Anne Porter–mentor untuk Eudora Welty sekaligus jurnalis, eseis, novelis dan aktivis politik–tentang Erica Jong:

“Awful creatures like Erica Jong have been presumptuous enough to say they represent woman. They represent the lowest kind of woman there is. And the strange thing is that instead of making themselves equal with men, they have descended to the level of the vilest men we have.”

C’est tout.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...