You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Penafsir Kebahagiaan
Melihat Eka Kurniawan** berdiri di depan gerbang masuk sebuah pameran batik Sabtu (22/9) lalu di Jakarta Convention Center*, saya jadi teringat ada cerpennya yang muncul di Kompas seminggu sebelumnya dan lumayan saya sukai. Judulnya “Penafsir Kebahagiaan“. (Karena itu saya juga teringat dengan kewajiban pada blog ini yang sudah terlalu jarang dibelai.)
Ada bagian-bagian dari cerpen itu yang membuat tersadar bahwa yang selama ini absen dari cerpen-cerpen Indonesia adalah humor (atau yang absen dari cerpen-cerpen Indonesia yang muncul di Kompas?). Bukan berarti ‘Penafsir Kebahagiaan’ punya segunung dari yang absen itu, tapi ada momen-momen dialog atau sekedar satu baris kalimat di cerpen itu yang membuat saya tersedak dengan tawa kecil.
Misalnya ini:
“Gimana?” tanya Jimmi. “Kupikirkan dulu satu malam.” “Baiklah. Jadi, siapa namamu?” “Lucy.” “Kita sedang berbisnis, beri tahu aku nama aslimu.” “Siti.”
Yang lucu? Cara penyampaiannya dengan gaya deadpan, sepertinya. Sama halnya dengan dua potong dialog di bagian akhir cerpen yang tak akan dikutip di sini, takut jadi spoiler. Mungkin karena saya selalu punya preferensi pada humor yang seperti itu, cerpen ini jadi teringat-ingat terus.
(*)= Atau mungkin itu hanya orang lain yang mirip dia, tapi mampu mengingatkan saya untuk mengupdate blog ini, hehe.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
mikael
gue setuju banget tentang kurangnya humor, bukan hanya di kompas menurut gue, juga di koran tempo, media indonesia, seputar indonesia, jawa pos, kpg, grasindo, gpu, semuanya. dan bahwa eka mungkin satu2nya penulis sekarang yang karya2nya diakui sebagai ’sastra’, tapi masih bisa, hampir selalu, lucu. sudah sejak cantik itu luka. lucunya, orang2 ’sastra’ yang menganggap tulisan2 eka ’sastra’, dan kadang2 menulis esei tentangnya, sejauh gue tahu tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang betapa lucunya dia. kecuali sedikit mungkin katrin bandel di dua esei ttg eka di bukunya seks, sastra, perempuan. dan kau benar, kelucuan itu bergantung sangat besar dari delivery-nya yg sangat deadpan. menurutku, itu dia curi dari don quixote. bukan tanpa alasan kalau cantik itu luka dimulai dengan quotation dari situ. eg, ‘apakah kau telah jadi seorang komunis?’ tanya ibunya, cemas dan tampak putus asa. ‘hanya orang komunis yang murung.’ ‘aku jatuh cinta,’ kata kliwon pada ibunya. ‘itu lebih menyedihkan.’ (cantik itu luka, hlm. 184) ngakak gue.
October 20th, 2007 at 3:35 am
isyana
aarrrggghhh. akhirnya. i could kiss you for commenting that. bener, kan? kan? kan? humor jadi elemen yang hilang dari cerpen indonesia?
minggu pagi yang cerah tiba-tiba jadi penuh dengan kemuraman setelah membaca cerpen-cerpen di berbagai koran minggu. entah kenapa, kok rasanya jadi…kurang manusia, begitu.
October 24th, 2007 at 8:39 pm
Dua Tangisan Pada Satu Malam — Teroka Cerpen
[…] dan pencatatan yang detil akan kebiasaan-kebiasaan manusia sebagai pembentuk karakter. Dan, kalau Eka Kurniawan ‘bisa’ menulis lucu, maka Puthut EA adalah penulis patah hati. Dan kenapa narator-narator di cerita-cerita patah hati […]
October 26th, 2007 at 9:11 pm