You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Cucu Phoenix Jackson

Cucu Phoenix Jackson

isyana — September 27, 2007 / 12:15 pm

Saat membolak-balik “The Eye of the Story”, buku kumpulan esai karya Eudora Welty—awalnya saya ingin mengutip sesuatu darinya tentang Chekhov—saya menemukan sebuah judul menarik, “Is Phoenix Jackson’s Grandson Really Dead?”

Judul yang merupakan pertanyaan itu merujuk pada pertanyaan yang paling sering diterima Welty lewat surat-surat dari pembacanya tentang sebuah cerpen berjudul “A Worn Path”. Cerpennya pernah saya sebut-sebut di blog ini. (Buat yang sudah membaca cerpennya, apakah pertanyaan itu juga muncul? Sebagai penulis, lewat “A Worn Path”, kekuatan Welty sepertinya terletak pada fokus yang diletakkannya akan perjalanan nenek Phoenix Jackson itu, sehingga mati atau tidaknya si cucu sepertinya bukan bagian penting dari cerita. Atau?)

Esai itu, secara tak langsung, juga memberikan pelajaran tentang cara-cara membaca karya fiksi dan apa-apa yang harus diperhatikan oleh seorang penulis. Awalnya hanya ingin mengutip sedikit-sedikit apa yang dikatakan Welty, tapi saya tak ingin mengencerkan apa yang sudah jadi sebuah kesatuan padat. Jadi, inilah terjemahan esai itu. Jika ada kalimat yang kurang pas pilihan bahasanya atau konteks terjemahannya, silahkan memberi tahu. Selamat menikmati.

“Apakah Cucu Phoenix Jackson Sebenarnya Sudah Mati?”

Seorang penulis cerita akan sangat bahagia ketika karyanya dibaca oleh para pelajar; ketika pembaca-pembaca serius ini berpikir dan merasakan sesuatu setelah menyimak karyanya adalah sebuah pengalaman yang menghidupkan si penulis. Di saat bersamaan, si penulis mungkin tidak selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik pembacanya dengan baik. Saya berandai-andai, akankah membantu mengklarifikasi sesuatu, jika saya menyiapkan jawaban umum atas pertanyaan terbanyak yang saya terima lewat surat, dari guru maupun muridnya, setelah sebuah diskusi kelas. Pertanyaan favorit yang tak punya saingan kuat adalah: “Apakah cucu Phoenix Jackson sebenarnya sudah mati?”

Pertanyaan ini merujuk pada sebuah cerita pendek yang saya tulis bertahun-tahun lalu berjudul “A Worn Path” yang menceritakan tentang perjalanan sehari seorang perempuan tua dari pekatnya kedalaman hutan menuju kota dan menuju tempat praktek dokter dengan berjalan kaki demi cucu laki-lakinya; si cucu ditinggal di rumah, sakit secara periodik, dan secara periodik pula Phoenix Jackson meminta obat untuk cucunya; mereka memberikan obatnya seperti biasa, nenek itu menerimanya dan mengulang kembali perjalanannya untuk pulang.

Saya tidak bermaksud untuk membuat pembaca menebak-nebak dengan menyembunyikan fakta apa pun; bukan urusan penulis untuk membuat penasaran. Cerita ini ditulis lewat pikiran Phoenix saat mendapatkan keperluannya. Sebagai penulis yang menyatu dengan karakternya saat menulis cerita, saya harus berasumsi bahwa anak laki-laki itu masih hidup. Sebagai pembaca, anda bebas untuk memikirkan semua kemungkinan yang anda suka, tapi: cerita ini mengundang anda untuk percaya bahwa apa pun yang akan terjadi, Phoenix akan tetap melakukan perjalanan itu selama ia mampu berjalan dan berpegang pada tujuannya. Kemungkinan bahwa Phoenix akan tetap melakukan tugasnya bahkan saat cucunya sudah meninggal terasa dalam pengabdian dan keteguhan menjalankannya. Tentunya, kejujuran artistik, yang seharusnya sudah mencukupi sebagai sebuah fakta, terdapat pada jawaban Phoenix akan pertanyaan itu. Saat seorang perawat bertanya, “Dia tidak mati kan?” Phoenix menjawab sendiri: “Dia masih sama. Dia akan bertahan.”

Cucu itu adalah insentifnya. Tapi perjalanan itulah, upaya mendapatkan keperluan itu, yang jadi ceritanya, dan pertanyaannya tidak terletak pada apakah sebenarnya si cucu masih hidup atau sudah meninggal. Jawaban atas pertanyaan itu tidak mempengaruhi hasil cerita atau makna cerita itu dari awal sampai akhir. Sebenarnya bukan pertanyaan itu yang membuat saya terhenyak, melainkan pemikiran bahwa jika si cucu meninggal, maka ceritanya akan menjadi lebih baik. Kesan ini, tanpa kecuali, terimplikasi setiap kali pertanyaan itu diajukan.

Saya ingin mengatakan pada para pelajar yang mengirimi saya surat bahwa tidak ada yang salah ketika kenyataan adalah apa yang sudah digambarkan, dan tidak ada yang salah ketika kata-kata punya makna sama seperti yang diucapkan. Dan tidak apa-apa pula ketika kata-kata dan tampilan bisa berarti lebih dari apa yang sudah disampaikan atau ditunjukkan—ambiguitas adalah sebuah kenyataan hidup. Tanggung jawab penulis fiksi tidak hanya terletak pada apa yang ia berikan pada pembaca sebagai fakta dari sebuah given story tapi juga pada apa yang dipilihnya untuk jadi implikasi dari cerita yang sudah terbangun itu. Pada akhirnya, implikasi-implikasi ini juga akan jadi fakta dalam artian fiksi yang lebih luas. Tapi menjadi apa-apa, atas dasar prasangka baik, ketika sesuatu dimaknai berbeda dari apa yang diucapkan.

Pergulatan sang cucu adalah sesuatu yang nyata dan bagian dari kejujuran sebuah cerita, cerita tentang pelaksanaan sebuah tugas atas nama cinta. Jika si anak tak lagi hidup, maka kenyataan itu akan tetap muncul pada “buruknya” jalur yang harus dilalui Phoenix. Tapi kematian si cucu tidak dapat memperdalam kebenaran cerita itu, tidak dapat mempengaruhi kebenarannya dengan cara apa pun. Saya rasa saya sudah memberi petunjuk pada hal itu, karena ceritanya mencapai akhir sebelum Phoenix tua sampai di rumah: ia memulai kembali perjalanan itu. Atas pertanyaan “Apakah si cucu sebenarnya sudah meninggal?” saya dapat menyatakan bahwa jawabannya tidak menjadikan ceritanya berbeda. Saya juga dapat mengatakan bahwa karakter si cucu tidak saya buat agar sekedar jadi jebakan untuk Phoenix. Tapi jawaban terbaik saya adalah: “Phoenix masih hidup”.

Sumber sebuah cerita kadang bisa menjadi petunjuk yang dapat dipercaya bagi si penulis—atau dapat memberikannya petunjuk—pada subyek utamanya; dalam hal ini mungkin ia bisa berfungsi sama bagi pembacanya. Suatu hari saya melihat seorang perempuan tua seperti Phoenix. Dia sedang berjalan sendirian; saya melihatnya, dalam jarak pandang tanggung, di tengah lanskap hutan musim dingin, dan mengamatinya secara perlahan berjalan sepanjang batas penglihatan saya. Melihat perempuan tua itu membuat saya menulis cerita ini. Saya menciptakan sebuah keperluan untuk perempuan itu, tapi itu hanya jadi bagian kecil dari figurnya sendiri: keperluan apa yang dapat membuatnya pergi selain ada seseorang yang memaksanya? Kepergiannya adalah hal penting, ketahanannya menghadapi kondisi alam adalah hal nyata, dan ‘penting’ dan ‘nyata’ adalah hal yang ingin saya simpan dan saya upayakan untuk tetap muncul. Lewat imajinasi, saya membawanya cukup dekat untuk dideskripsikan wajahnya, membuatnya hadir di mata pengamatnya, tapi bayangan akan figur tubuh yang berjalan menyeberangi lapangan di musim dingin adalah imaji yang tersimpan dan tak dapat terhapuskan, dan perspektif yang menghilang ke kejauhan adalah kenyataan yang patut dicatat.

Ketika menulis, saya menciptakan untuk karakter saya beberapa petualangan—mimpi-mimpi dan kegagalan-kegagalan dan satu atau dua keberhasilan kecil, beberapa dorongan semangat untuk kebanggaan pribadinya, beberapa fantasi indah untuk menghiburnya, satu atau dua peristiwa yang membuatnya ketakutan, momen yang membuatnya merasa malu, momen untuk menari dan bersolek—karena ini seharusnya adalah sebuah perjalanan, dan semua hal di atas adalah bagian dari perjalanan itu, tak lepas dari ketidaktentuan hidup.

Benang naratif, dalam artian yang lebih dalam, tentu saja merupakan sebuah petunjuk proses pencarian jejak akan makna, dan kontinuitas yang sebenarnya pada sebuah cerita terletak pada majunya proses itu. Kekuatan dramatis yang sebenarnya dari sebuah cerita bergantung pada dashyatnya emosi yang memunculkan cerita itu. Nilai emosionalnya adalah ukuran kemampuan jangkauan cerita tersebut. Jika ada setitik kepuasan untuk “A Worn Path”, maka kepuasan itu bukan berasal dari situasinya tapi dari subyeknya: sebuah kebiasaan yang punya akar dalam bernama cinta.

Dari semua aspek yang mengelilingi cerita ini, dunia yang jadi bagian dari plot cerita, yang saya harapkan menjadi jelas adalah jalur rusak itu merupakan satu-satunya kepastian. Kebiasaan atas nama cinta itu membantu memotong kebingungan dan ketika bangkit dari jatuh atau menemukan jalan keluar dari kesulitan. Kebiasaan ini bahkan membantu mengingatkan jalan ketika cinta itu, pada satu saat, lupa akan alasan keberadaannya. Jalan kecil ini adalah satu-satunya hal yang penting.

Kemenangan Phoenix adalah saat ia melihat diploma yang tergantung di kantor si dokter, saat ia menemukan, “nailed up on the wall the document that had been stamped with the gold seal and framed in the gold frame, which matched the dream that was hung up in her head”. Kepulangannya dengan membawa obat hanya masalah mengikuti jejak langkah yang sudah dibuatnya. Kepulangannya adalah bagian dari perjalanan, dan bagian dari cerita, tanpa perlu dijelaskan lagi.

Jika anda adalah penulis cerita, jalan yang ditempuh Phoenix tua bisa berfungsi paralel dengan cara kerja anda. Menuju ke sana adalah masalah yang paling penting dan paling menyerap tenaga, dan masalah inilah yang jadi alasan untuk menuliskan cerita itu. Satu-satunya petunjuk anda adalah keyakinan akan subyek yang dikerjakan, tentang apa subyek ini sebenarnya. Seperti Phoenix, anda bekerja seumur hidup untuk menemukan jalan anda, menembus semua halangan atau tampilan palsu dan kesedihan-kesedihan yang anda bawa sendiri, untuk tiba pada sebuah makna—menggunakan ciptaan-ciptaan imajinasi anda, mungkin dibantu sedikit dengan mimpi dan serpihan keberuntungan. Dan akhirnya, seperti Phoenix, anda harus berasumsi bahwa, dalam bekerja, yang anda bantu adalah kehidupan, bukan kematian.

Tapi anda tetap akan melakukan perjalanan ini kan, walaupun hanya bersandar pada sebuah harapan?

(Eudora Welty, 1974)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...