You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: The Garden Party and Other Stories (Bag.1)

The Garden Party and Other Stories (Bag.1)

isyana — September 30, 2007 / 11:58 pm

Dalam upaya me-re-boot perkenalan dengan Katherine Mansfield (setelah bertemu dengan sebuah kekacauan berjudul “The Garden Party”), saya memutuskan membaca kumpulan cerita pendeknya “The Garden Party and Other Stories”. Hasilnya?

Belum berjalan cukup jauh, sebenarnya. Masih dua cerita pendek di bagian awal. “How Pearl Button Was Kidnapped” dan “The Journey to Bruges”. “Pearl Button” terasa cukup cantik; imaji dan dunia yang dibangun Mansfield lewat kata-kata di cerpen itu mirip sebuah mimpi. Lebih tentang nuansa emosi dan alusi daripada sebuah gambaran jelas tentang lokasi (lewat istilah ‘House of Boxes’ yang diulang beberapa kali dan perjalanan Pearl Button ke tempat tinggal para ‘penculiknya’), kelas sosial (betapa Pearl Button melihat gaya hidup yang lain, yang lebih longgar dengan aturan-aturan daripada yang selama ini mengikatnya; ketika ia makan buah dan airnya berjatuhan di bagian depan gaunnya, Pearl ketakutan sementara ‘penculiknya’ menanggapinya dengan tenang), perbedaan ras (ditunjukkan lewat cara berbicara para ‘penculik’ Pearl Button dan kalimat “They set Pearl Button down in a log room full of other people the same colour as they were”) atau profesi (“Little men in blue coats—little blue men came running, running towards her with shouts and whistlings—a crowd of little blue men to carry her back to the House of Boxes”). Mungkin karena sudut pandangnya dari seorang anak, dunia jadi terasa seperti sebuah mimpi terus-menerus daripada penuh pembedaan mimpi vs kenyataan seperti layaknya orang dewasa. Di area ini, Mansfield menunjukkan kekuatannya menghidupkan sebuah dunia mimpi. Dia mampu mewujudkan salah satu elemen kuat yang, dalam penilaian saya, jadi salah satu indikator sebuah tulisan apik; musikalitas. Bukan sekedar memunculkan ritme tapi efek yang muncul dari keseluruhan ‘trik’ penulisan ketika disatukan. Hasil dari perpaduan deskripsi dan dialog dalam jumlah ‘tepat’ untuk menghidupkan si cerita. Sangat subyektif memang ukuran ‘tepat’ itu.

Tapi, kenapa ya, dia lagi-lagi terpaku pada ide tentang karakter yang bisa hidup lebih bahagia (perempuan anak orang kaya, biasanya) dengan mereka yang berbeda kelas sosial dan cara hidup dibanding dirinya. Laura Sheridan di “The Garden Party” sebelumnya, dan sekarang Pearl Button.

Oke, oke, itu sebenarnya bukan tema yang jadi bahasan khusus Mansfield (atau mungkin memang iya? Saya baru membaca tiga karyanya…), penulis lain mungkin sudah pernah membahas tentang kemungkinan-kemungkinan karakter akan lebih bahagia tinggal di kelompok masyarakat yang berbeda dari yang selama ini ditinggalinya, mungkin karena ingin melepaskan diri dari tatanan nilai yang mengekang. Tapi, ada sesuatu dalam cara Mansfield menggambarkan dilema itu yang terasa ugggh, mengesalkan. Saat ini, saya menuding ‘kenaifan yang dibuat-buat’ sebagai ‘sesuatu’ itu.

Sementara, cerpen satunya lagi, “The Journey to Bruges”, walaupun bukan tentang suatu hal yang khusus kecuali yang tersurat dalam judul itu, terasa baik-baik saja. (Hmm, mungkin memang benar ya ketika ada yang bilang peresensi seperti Dorothy Parker bisa lebih menunjukkan kekuatannya ketika mengulas karya yang tidak disukainya daripada karya yang disukainya. Untuk “The Journey to Bruges” yang saya anggap baik-baik saja, memang hanya itu yang bisa saya katakan).

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. Arahman Ali

    jujur aja…saya gak suka cerpen2nya Katherine Mansfield. Saya sudah baca “The Garden Party and Other Stories”, tapi gak enak dibaca. mungkin karena gaya ceritanya yang konservatif.

    October 9th, 2007 at 6:39 pm

  2. isyana

    gaya bercerita yang konservatif itu maksudnya bagaimana sih? jangan-jangan kita kesal dengan hal yang sama…

    saya malah lebih ‘mencemaskan’ yaa…itu, kenaifan yang dibuat-buat, bahwa orang dengan latar belakang ekonomi kelas atas hidupnya penuh kepalsuan, topeng, kaku, dst, sementara mereka yang dari kelas bawah dan/atau dari latar belakang etnis berbeda, hidupnya lebih jujur, lebih ‘hidup’, luwes, menyenangkan lah.

    oke, nggak ada masalah sebenarnya dengan asumsi-asumsi seperti itu, tapi cara mansfield menggambarkannya itu lho. urrgghh. pretensius.

    October 18th, 2007 at 11:31 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...