You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Dua Tangisan Pada Satu Malam

Dua Tangisan Pada Satu Malam

isyana — October 26, 2007 / 9:11 pm

“Dulu aku bercita-cita ingin menjadi penulis, mencobanya, dan tidak ingin lagi.”

Ia tertawa, liurnya menetes, ia berbaring dan berbantal kayu bakar yang agak besar. Puntung rokoknya yang masih menyala jatuh di kaus oblong yang lusuh dan membuat beberapa lubang. Aku ingin menolongnya, tapi kepala ini berat rasanya, dan ia sendiri tidak merasa kepanasan. Aku urung membantunya.

“Kenapa?”

“Aku pikir enak jadi penulis, diam, menyendiri, patuh pada kehendaknya sendiri.”

“Lantas?”

“Tapi, itu tidak cukup. Sebab kadang kita harus melakukan apa-apa yang tidak bisa kuterima….”

“Misalnya?”

“Misalnya, lebih banyak memberi keterangan pada apa-apa yang sudah kita tulis pada banyak orang, dengan energi yang lebih besar dibanding energi kita untuk menulis.”

(dari cerpen “Kitab Salah Paham” –Puthut EA)

Cerpen di atas adalah judul keenam dalam kumpulan cerpen “Dua Tangisan Pada Satu Malam”-nya Puthut EA. Tapi saya sudah berhenti mencoba ‘mengartikan’ cerpen-cerpennya di tengah-tengah membaca cerita nomor dua dari lima belas cerita.

Membaca cerita-cerita di kumpulan cerpen ini, saya jadi teringat dengan blurb dari Budi Darma untuk kumcer “Bon Suwung”-nya Gunawan Maryanto. Yang tentang cerpennya tidak terikat dengan penokohan dan alur, yang sering menawarkan dunia yang asing. Jujur saja, saya sempat berpikir penilaian itu lebih cocok ada di sampul belakang buku ini.

Preferensi saya atas cerpen, sepertinya, selama ini lebih pada yang ‘konservatif’. Jadi ketika berkenalan dengan karya Penulis Cerpen Paling Disukai Versi Tujuh Tahun Sriti.com ini, kok jadi agak ‘cemas’ dan sibuk mencari makna. Padahal, cerita bisa jadi hanya sebuah cerita. Ia tak perlu jadi apa-apa lagi. Tak perlu dijelaskan oleh atau menunggu penjelasan dari penulisnya. So, that’s it.

Lalu, dari keberagaman masa, lokasi, zaman dan dunia yang digambarkan, ada satu elemen yang terus ada. Pengamatan dan pencatatan yang detil akan kebiasaan-kebiasaan manusia sebagai pembentuk karakter. Dan, kalau Eka Kurniawan ‘bisa’ menulis lucu, maka Puthut EA adalah penulis patah hati. Dan kenapa narator-narator di cerita-cerita patah hati itu langsung membuat saya terpikir pada penulisnya? Bahwa mereka adalah dia. Kecurigaan yang sama persis juga muncul ketika membaca “Cinta Tak Pernah Tepat Waktu”, novelnya Puthut EA. Apakah memang para (anti) hero itu benar-benar dia?

Ah, bukankah saya harus berhenti menjadikan sebuah cerita jadi sesuatu yang lain dari ‘hanya’ cerita? (Sesuatu yang semi-biografis, misalnya)

(Btw, saya baru mengerti betapa menyenangkannya berlatih menulis dengan mengetik ulang karya yang sudah ada waktu mengetik bagian awal entry ini. Tips latihan ini, sumpah deh, saya dapat dari seorang Penulis Cerpen Profesional. Kabarnya ia punya setumpuk hasil cetakan karya-karya sastra yang ia ketik ulang sebagai bagian dari latihan mengencerkan kebekuan menulis itu. Dan ketika saya mengetik kalimat-kalimat di atas, ugh, rasanya, kata-kata itu, benar-benar enak untuk diketik. Kalau aktor Joseph Gordon-Levitt mengatakan tentang naskah film Brick-nya, “these words feel so good in my mouth”, maka buat saya kata-kata di cerpennya Puthut EA itu terasa so good untuk diketik ulang).

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.

  1. Wita

    Hahaha saya setuju sekali kalo dia disebut sang penulis patah hati.dan berpikir itu sebagian dr otobiografinya.tp saya penasaran dan ingin berkenalan dgn wanita yg prnh mematahkan hatinya.duuh..sptnya tlalu dalam.bgtu dalam lukanya.tp saya mengagumi lelaki romantis itu..karyanya jg sering bwt saya tertawa.dia berbakat..

    February 10th, 2008 at 3:13 pm

  2. Ide Menulis

    Selamat Mas Puthut! Meski pengumuman Anugerah Sastra Pena Kencana masih kurang sebulan tadi, tapi saya berani menjagokan karya sampeyan Di Sini Dingin Sekali keluar sebagai pemenangnya.
    Seperti saya tulis di http://idemenulis.blogspot.com/2008/07/puthut-ea-cerpenis-terbaik-2008.html saya sangat yakin karya anda yang pantas keluar sebagai pemenang. sekali lagi selamat mas puthut!

    July 31st, 2008 at 2:28 pm

  3. Wil'

    Lama saya tidak bisa meluangkan waktu untuk duduk bersila menikmati karya-karya sastra nan megah anak negri. bukan berarti saya lalu baca karya sastra anak turis, memang ga’ smpat baca. Saya sangat setuju dengan komentar-komentar di atas yang mengelu-elakn mas phutut ea, karena memang pantas komentar-komentar itu terlontar dari para penikmat karyanya. Pertama saya berkenalan dengan karyanya mas puthut sewaktu ada pameran buku di salah satu mall di djogja. Novel Berani Beli Cinta Dalam Karung “Cinta Tak Pernah Tepat Waktu” adalah karya pertama yang saya baca. Gara-garanya novel tersebut dijual dengan harga sangat terjangkau atau lebih tepatnya sangat murah. Selesai aku baca selang sehari kuulang lagi sampai khatam, dan ternyata memang tidaklah aku salah pilih dengan kubeli novel tersebut.
    Salute to Phutut ea!
    -djogja-

    October 18th, 2008 at 12:07 pm

  4. Abby

    Saya juga setuju dengan komentar di atas yang mengatakan kalo mas Puthut adalah sang penulis patah hati. dan sama seperti anda, saya juga merasa kalau orang yang ada di buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu itu adalah dia..
    Awalnya saya cuma iseng aja untuk membeli buku tersebut tapi setelah saya baca. Tidak pernah ada kata menyesal setelah itu.. Malah saya jadi jatuh cinta pada tulisan-tulisan dia. Karena tulisan dia bisa buat saya merasa ada di sana, ikut dalam alur cerita tersebut…

    October 20th, 2008 at 4:28 pm

  5. Ika

    Sbuah kitab yg tak suci..awal ktmu mas phutut,hehe gara2 bliau naksir tmn aku,hmm masalalu lah ya,uda gtu bliau ud lupa kali ya..
    Prnah baca2 puisi unpublishednya in his room (lucky me)..
    Waktu itu anak pandanya emang pth hati,ehm.. Dmanakah ngkau mas phutut? Salam

    June 17th, 2009 at 11:50 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Agnes — gimana caranya buat pemula untuk kirim cerpen lewat email ke kompas, jawabannya ya.... ditunggu lo...
  • fitirah — aq sama dng yugo... bkn lulusan or tdk prnh bekerja d bidang jurnalistik or komunikasi, tp sgt interest krj d ...
  • dedi — gue senang banget dgn sastra
  • dedi — sastra tu indah n gue benar-benar kagum pada sastra pa lg sastr barat tp soal pengetahuan nya gue masih minim ...
  • Akli — Persoalan tulis menulis sangat tergantung kepada pribadi. Apakah tujuan menulis itu untuk mendapat honor atau berbagi pengalaman dengan memunculkan ide ...
  • fachrurrozi — aku sangat tertarik........sekarang tanggal 29 Juni 2009, pukul 12 am WITA Tinggal satu hari nih, aku telat baca pengumuman ini Tapi, aku ...
  • tri candra sakti — mohon info kalo2 ada acara2 seperti itu. maturnuwun..
  • Wibowo Purnomohadi — Pustakawan itu biang keladi orang jadi pinter lho, mana ada profesi ahli yang menjadi tenar tanpa dia baca buku di ...
  • Lesephemi — Enjoy and be sure to pass along to your friends http://www.esnips.com/doc/79c22395-7bd6-4299-92db-cf392e381698/kutiman---this-is-what-it-became Peace
  • nita — knapa must pake kemasan lip ice?boleh ga kalo ga nyertain sarat yang itu