You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Jejak George Orwell di Burma
Ada beberapa situs yang memasukkan “Shooting an Elephant“-nya George Orwell sebagai sebuah esai. Ada juga yang menggolongkannya sebagai cerita pendek, bahkan tak lupa melengkapinya dengan ‘notes and study guides’ tersendiri sebagai sebuah karya fiksi.
Lepas dari persoalan ini esai atau cerpen, dari segi penulisan, ada sesuatu yang dapat dijadikan catatan tersendiri. Saat membaca “1984″, saya lebih sering terpaku pada tema besar totalitarianisme (ffiuuh) yang diajukan Orwell, tapi luput mengamati elemen-elemen detil yang membentuk tema besar itu. Caranya berdialog, pertama. Lalu caranya menggambarkan karakter, membangun penokohan atau mendeskripsikan dunia tempat karakternya berada. Lalu bagaimana ia mengatur alur dan ritme.
Ternyata kecairan bercerita tidak sepenuhnya tergantung pada dialog (ya, Papa Hemingway, anda tak selalu benar). “Shooting an Elephant” dengan dialog, atau malah tepatnya ketiadaan dialog, jadi contoh bagus. Jika rentetan deskripsi itu terjahit dengan baik–seperti pada “Shooting…” yang mengambil latar Burma sebagai lokasi–dialog tak perlu jadi sesuatu yang dirindukan.
Dan Orwell, lewat cerpen ini, menunjukkan bahwa ia adalah pencerita yang sabar. Yang runtun, perseptif, dan amat sangat kaya dalam penggambaran. Tapi ada elemen pada tindakan si (anti) hero pada cerita ini yang mengingatkan pada Winston Smith dari “1984″. Bahwa tindakan-tindakan keduanya lebih merupakan hasil ‘tekanan’ kelompok masyarakat tempat mereka tinggal daripada menunjukkan buah pikiran individualitas mereka.
Orwell memang pernah bertugas di Burma (Myanmar), tepatnya di Katha dan Moulmein, saat bergabung dengan Indian Imperial Police (1922-1927). Pengalamannya bertugas di sana adalah bahan untuk novel “Burmese Days”, dan ‘esai’ ini serta “The Hanging”. Jurnalis Emma Larkin, lewat bukunya “Finding George Orwell in Burma”, mencatat bahwa ada lelucon tentang Orwell di negara itu. Bahwa Orwell menulis bukan hanya satu, tapi tiga novel tentang Burma, “Burmese Days”, “Animal Farm” dan “1984″.
Hmm, saya jadi penasaran, kira-kira apa pendapat ‘Sang Nabi’ tentang Myanmar akhir-akhir ini ya…
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.