You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Joyce, Akhirnya
Aktris dan penulis naskah kontroversial di masanya, Mae West, pernah mengatakan, mereka yang mudah terkejut harus lebih sering dibuat terkejut. People who are easily shocked, should be shocked more often. Dan saya, amat sangat terkejut saat menyadari betapa menyenangkannya mengisi waktu bersama James Joyce. Mereka yang memiliki tarian bertajuk “Tuh Kan, Gue Bilang Juga Apa?” dipersilahkan untuk memeragakannya sekarang.
Tapi, belum kok, belum sampai di “Ulysses”. Baru pada “The Dead” dari kumpulan cerpen “Dubliners”.
Entah apa yang saya pikirkan sebelumnya. Sampai sekarang masih heran, kenapa ya kok saya bisa sampai pada kesimpulan bahwa Joyce tak akan mampu menulis sesuatu yang memanusia. Bahwa ia sangat rumit, tak membumi, dan ya itu…tidak memanusia. Oke, “The Dead” memang agak melelahkan dengan catatan kaki yang bertebaran, tapi ada masa-masanya, beberapa kali malah, cerpen ini berada di momen puncaknya. Saat Gabriel Conroy menyampaikan pidatonya di jamuan makan malam Tahun Baru, contohnya. Itu satu. (Sub-pertanyaan, kita bisa merasakan monolog yang bagus, tapi apa sebenarnya yang membuatnya jadi ‘monolog efektif’ dalam sebuah tulisan?) Bagian terindahnya sih baru muncul menjelang akhir cerita, saat jamuan makan malamnya sudah selesai, dan Gabriel Conroy serta Gretta, istrinya, kembali ke hotel. Pada bagian inilah saya sering menahan dan menghela nafas, merasakan kualitas “breathless” dan “in-motion” yang pernah disebut penulis Alison MacLeod itu. Benar-benar tidak ada kata lain selain ‘indah’.
Tambahan. Secara ‘de jure’ sebenarnya cerita ini tak punya dialog, karena Joyce tak memberi tanda petik untuk menandai awal dan akhir dialog antar karakternya. Tapi secara de facto, dialog itu ada. Pertanyaan lain, ada yang tahu kenapa Joyce melakukan itu?
Dari segi waktu, mungkin cerita ini agak mirip dengan “Ulysses”. “Ulysses” menceritakan tentang satu hari, sementara “The Dead” menceritakan hanya beberapa jam. Dan Joyce-lah yang membuat saya sadar, bahwa Dublin juga punya sisi-sisi kota yang tak kalah menarik untuk diceritakan dan digambarkan dibanding kota-kota Eropa lainnya, tapi masih jarang dilakukan. Joyce pernah menulis pada saudara laki-lakinya,
“When you remember that Dublin has been a capital for thousands of years, that it is the ’second’ city of the British Empira, that is nearly three times as big as Venice, it seems strange that no artist has given it to the world.”
Tuan Joyce, I think this is the beginning of a beautiful friendship. (Saya harap).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
bahtiar
ada endonesanya too :)
November 1st, 2007 at 4:24 pm
Kerlip Teenlit » Blog Archive » Metro Paris, Harper Lee dan Yang Tak Pernah Dibaca
[…] Masa-masa indahku dengan Joyce memang baru dua hari lalu. Dan aku masih optimis akan masa depan pertemanan yang baru terjalin ini. Tapi tak seoptimis itu untuk yakin akan menyelesaikan “Ulysses” suatu hari nanti. Tampaknya sih aku tak perlu cemas jika “Ulysses” tidak akan bisa diselesaikan. Slate menerbitkan lagi satu artikel tentang penulis kontemporer yang belum pernah membaca atau belum menyelesaikan buku yang ‘patut’ dibaca. “Ulysses” dan “Moby Dick” sempat disebut beberapa kali (dua-duanya ada di lemari bukuku, entah dulu untuk alasan apa membelinya…). “Swann’s Way”-nya Proust juga disebut. Jadi lega. Dan, oh, ini satu lagi artikel ’serupa’ yang pernah diterbitkan Slate enam tahun lalu, tapi saat itu yang mengaku dosa adalah para peresensi di berbagai publikasi. Baca deh, pasti merasa lega […]
November 1st, 2007 at 9:23 pm
zen
joyce? saya tak akan lupakan bagaimana ia mendeskripsikan dan membayangkan seperti apa rasanya “selamanya di neraka”. di bab III A Portrait of the Artist as a Young Man. Ulyses? saya juga belum. hehehe….
January 11th, 2008 at 10:31 pm
daus
konon, di Austria (atau di Jerman, gitu) ada semacam klub baca Joyce yang hanya berjumlah 10-12 orang. rata-rata sudah tua. pekerjaan mereka setiap hari adalah membaca Ulyses secara berantai, lalu ada sesi tanya jawab dengan “pewaris” Joyce atas kalimat-kalimat yang sukar dipahami. kegiatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
entah sekarang sudah bab berapa.
January 30th, 2008 at 2:57 am
Si Pemimpi
ya, tepatnya klub itu di swiss, di kota zurich, kota yang menjadi pusat james joyce foundation. di kota ini juga james joyce pernah tinggal sekian waktu, di antaranya saat penulisan ulysses itu. orang indonesia di sana ada yang ikut, namanya sigit susanto. dia menyebut acara itu mengaji ulysses. pertemuannya seminggu sekali dan saat bertemu itu, ada pak “kyai”nya yang membaca sambil berhenti pada saat-saat tertentu ketika dia merasa ada yang perlu diceritakan tentang bagian itu (biasanya, itu bagian-bagian sulitnya). pernah suatu kali waktu baca ulysses, pak kyai (oh ya, namanya fritz senn, seorang tukang ledeng yang gemar banget joyce sampai diundang ke seminar-seminar joyce di seluruh dunia) menemukan hal unik dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya, ternyata isinya adalah selembar kain yang katanya “ya ini yang dimaksud dalam teks tadi”. :D
btw, saya juga joycean lho (ngaku-ngaku sendiri), saya pernah nulis beberapa artikel bersambung tentang joyce. kalau bersedia baca, monggo mampir ke blog saya di atas, terus di blog itu, lihat bagian “Teman Ngimpi” dan di situ ada link berjudul “Sisi Lain Diriku”, nah, ikuti itu terus, sampai deh ke “kuliah-kuliah joyce” yang suatu kali saya berikan :D.
February 19th, 2008 at 4:38 pm