You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Koleksi Cerita Pendek
Tak perlu diulang lagi sebenarnya, betapa saya masih menganggap cerpen sebagai sebuah format penulisan yang asing. Menikmatinya atau mengaguminya saja, saya masih bertanya-tanya, apa-apa sih sebenarnya yang harus diperhatikan. Tapi seharusnya menikmati cerita pendek tak serumit menikmati wine kan? (Walaupun, dalam sebuah diskusi, Bambang Harymurti-nya Tempo pernah menyamakan antara membaca dan minum wine. “It’s an acquired taste,” katanya waktu itu. Jadi harus sering-sering minum atau sering-sering membaca untuk bisa ‘nyandu’. Tapi, euurrggh. Saya tidak ingin menjadikan aktivitas membaca jadi sesuatu yang snob dan pretensius seperti mengidentifikasi wine…)
Yang dapat membuat terus membaca, tentu saja, salah satunya, rekomendasi. Karena masih asing, jadi–seperti di Facebook–saya mencari whatever I can get. Tapi, sebelum memberi rekomendasi, penulis Alison MacLeod punya definisi tersendiri tentang kekhasan bentuk cerita pendek. Katanya,
Writing a short story is a high-wire act, sentence by sentence, foot by foot. Very few story writers work with the safety net of a plot conceived in advance. They trust in the humming tension of a single opening line or in an image that rises in their mind, or in a fragment of a character’s voice. They might have a sense of where they want their characters to go; they rarely know how they’ll get them there. At times it’s unnerving work. Lose your concentration or the line of tension in the story and both you and it fall. The best short stories have a breathless, in-motion quality to them….
Dari definisi itu, saya baru menangkap dan setuju pada kalimat terakhirnya, bahwa cerita pendek terbaik punya kualitas ‘breathless, in-motion’. MacLeod juga memberikan daftar 10 cerita pendek terbaik versinya. Di nomor satu (walaupun saya yakin ia tak bermaksud mengurutkannya seperti Top 10), MacLeod menempatkan “The Nose“-nya Gogol. Saya malah lebih penasaran dengan “The Overcoat“, karena sekarang sedang membaca novel “The Namesake”-nya Jhumpa Lahiri. Salah satu karakter di “The Namesake” mengutip Dostoievsky yang mengatakan bahwa kita semua datang dari “Overcoat”-nya Gogol. “The Dead” dari Joyce juga masuk daftar di atas. Cerpen ini akan saya tulis resensinya di entry berikut.
Dan saya jadi amat sangat penasaran dengan gaya Sylvia Plath menulis cerita pendek pada “Johnny Panic and the Bible of Dreams” (mengaku bersalah atas kekaguman pada novel semi otobiografisnya, “The Bell Jar”, dan kagum pada Woody Allen yang tajam menangkap sosok Sylvia Plath sebagai: “interesting poetess whose tragic suicide was misinterpreted as romantic by the college girl mentality” lewat “Annie Hall”). Saya tampaknya juga harus mencari cerpen dari DH Lawrence.
Hmm. Bulan baru hampir datang. Daftar membaca tampaknya sudah harus mulai disusun lagi…
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
mikael
try lorrie moore, masih ada beberapa kopi kelihatannya di qb kemang. self-help, like life, birds of america. then you know, wine is for losers. btw, got my own blog in these hereparts, it’s in mycityjakarta, somewhere, lupa urlnya.
November 15th, 2007 at 1:21 pm
nunu
iya neh…..punya cerpen karya D.H Lawrence Nggak???? aq punya yang judulnya The Rocking-Horse Winner, ada yang lain gak?????
November 10th, 2008 at 9:11 am