You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: ‘The Nick Adams Stories’

‘The Nick Adams Stories’

isyana — February 19, 2008 / 8:46 pm

Saya pernah membacanya di suatu tempat, tapi lupa di mana, tentang etis atau tidak menerbitkan karya coba-coba seorang penulis besar setelah si penulis meninggal.

Ada yang bilang tidak, karena si penulis sudah secara sadar memutuskan untuk tidak menerbitkan karya-karya itu ketika masih hidup. Tapi para biografer, penggemar, dan ‘burung-burung bangkai’ yang tidak pernah puas dengan apa yang diberikan si penulis saat ia sudah menjadi seorang Penulis tapi menginginkan juga seluruh peninggalan intelektual si subyek (dan sepertinya saya masuk golongan ini) menilainya etis-etis saja. Sepanjang (entah keberadaan kata ini ‘tulus’ atau tidak) peninggalan itu digunakan untuk membantu menjelaskan karya si penulis. Menurut anda?

Bab pertama ‘The Nick Adams Stories’, ‘The Northern Woods’, tentang masa kecil alter ego Ernest Hemingway di daerah hutan Michigan, sebenarnya lebih terasa sebagai seorang blogger sedang belajar menulis. Dan tidak berarti itu sesuatu yang buruk atau bagaimana, tapi ini, saya membayangkan, jika Hemingway memiliki sebuah blog, maka mungkin cerita-cerita itulah yang akan dimunculkannya di blognya. Atau mungkin dalam kasus Hemingway, ditulis di buku catatan Moleskin-nya (jika stiker di setiap produk buku catatan seharga ratusan ribu rupiah itu bisa dipercaya. Berapa sih sebenarnya harga buku Moleskin di masa Hemingway menggunakannya?)

Nick Adams, Jack Barnes (’Fiesta: The Sun Also Rises’) adalah alter ego-alter ego Hemingway. Tapi Adams, karena diikuti terus perkembangannya oleh Hemingway sejak anak-anak di hutan Michigan, tentara di Perang Dunia, veteran perang yang resah, sampai penulis yang berusaha menyempurnakan seninya, disebut sebagai karakter Hemingway yang fully developed.

Ada artikel bagus tapi puanjang di The Guardian tentang apa yang menjadikan karakter ‘fully developed’. Judul artikelnya ‘A life of their own‘. Ternyata bukan penggambaran fotografis, atau sifat-sifat yang mudah disukai.

“The vitality of literary character has then, perhaps, less to do with dramatic action, novelistic coherence and even plain plausibility - let alone likeability - than with a larger, philosophical or metaphysical sense, our awareness that a character’s actions are profoundly important, that something profound is at stake, with the author brooding over the face of that character like God over the face of the waters. That is how readers retain in their minds a sense of the character “Isabel Archer”, even if they cannot tell you what she is exactly like. We remember her in the way we remember an obscurely significant day: something important has been enacted here.”

“I would be quite happy to abolish the very idea of “roundness” in characterisation, because it tyrannises us - readers, novelists, critics - with an impossible ideal. “Roundness” is impossible in fiction, because fictional characters, while very alive in their way, are not the same as real people. It is subtlety that matters - subtlety of analysis, of inquiry, of concern, of felt pressure - and for subtlety a very small point of entry will do.”

Tentang karakter yang didasari dari hidup si penulis, artikelnya The Guardian itu memetakan dua tipe penulis, yang menciptakan karakter ‘baru’ dan yang tertarik pada ‘the self’. James Woods, penulisnya, memang tidak menyebut Hemingway secara spesifik di kategori kedua, tapi saya rasa dia bisa masuk di situ. Dan nggak masalah juga, asal karakter-karakter itu bisa tetap punya ‘nyawa’.

Ada sih cerpen-cerpen Hemingway yang ‘jadi’ di buku ini, The Killers, Big Two-Hearted River, The Light of the World, Now I Lay Me, dan Fathers and Sons (ingat dengan: “uncomfortably, tightly, sweetly, moistly, lovely, tightly, achingly, fully, finally, unendingly, never-endingly, never-to-endingly, suddenly ended.”?), tapi di bagian ‘Northern Woods’ rasanya lebih seperti sketsa-sketsa atau bagian kecil dari sesuatu yang akan ditempelkan pada karya ‘besar’. (Atau mungkin Hemingway memang menginginkannya seperti itu, toh ini adalah pria yang menciptakan cerpen enam kata gitu lho…)

Jika pikiran saya masih berantakan dalam mencoba mengungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan, maka ini, saya suka membaca draft karya, usaha gagal, atau potongan kecil yang bisa jadi, bisa tidak ditempelkan pada suatu ‘gambar besar’ atau ketika sebuah karya masih jadi kerangka, karena, ya itu, pemetaan pembuatan sebuah karya bisa membuat saya lebih memaknai karyanya.

Mungkin penulis seperti Cormac McCarthy atau Salinger (khususnya Salinger, debatable, karena lagi membaca ‘Seymour–An Introduction’) akan membenci tipe-tipe pembaca seperti saya, yang tidak cukup dengan apa yang disajikan, tapi untuk memaknai sesuatu yang tidak saya mengerti lalu mencari tahu sebanyak mungkin tentang apa yang dibaliknya. Apa yang disajikan seharusnya jadi cukup kan? Tapi, I eat this stuff dengan rakusnya seperti … mungkin seperti orang-orang pada berbondong-bondong ke blognya Dian Sastro (hehe).

Jadi, usaha gagal, coret-coretan asal, tulisan memalukan, atau tidak memalukan tapi belum final, surat-surat, catatan di buku harian, I’m in. Dari semuanya itu, ada saat-saat ketika saya merasa: oh, ternyata penulis juga manusia.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...