Teroka Cerpen

Telaah dan Berbagi Karya Cerpen

“The Sisters”: Kompleksnya (Menjelang) Kematian

Mengagumi Salinger seharusnya tidak diartikan dengan menghilang dari peredaran dan tidak mengeluarkan karya-karya (atau posting-posting) baru. Alasan kesibukan lain sepertinya sudah terlalu sering dipakai bukan?

Jadi ya, sudahlah. Lebih baik untuk langsung ke inti ceritanya kan ya?

Joyce mungkin sering melapisi karyanya dengan banyak simbol untuk jadi kunci ke makna-makna tertentu. Tapi menikmati cerpennya, The Sisters, di lapis pertama saja sebenarnya sudah cukup mengasyikkan.

Mengasyikkan dalam arti, ya sudah cukup memberi bahan-bahan pemikiran dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Ada kan, cerpen yang setelah dibaca, cuma jadi lempeng aja. Nggak memunculkan apa pun. Nggak mbuat marah, mikir, senang, tersentuh, atau berbagai ragam rupa emosi lainnya lah. Nah, dari ragam rupa emosi yang dimunculkan The Sisters, bisa dibilang ini cerpen yang menyenangkan.

Ceritanya dilihat dari sudut pandang seorang anak muda setelah kematian mentornya, Father Flynn. Hubungan si narator dan Father Flynn, walaupun singkat, digambarkan agak kompleks.

Si pastur, melihat potensi si narator, menaruh harapan-harapan dan kepercayaan akan profesi kawan mudanya di masa depan. Si narator sebenarnya tetap menghormati panutannya itu, tapi tak urung merasa terbebani oleh harapan yang ditimpakan padanya. Terbukti, saat Father Flynn meninggal, yang dirasakan si narator, salah satunya, adalah rasa lega.

(Untuk ‘anak cerita’ itu, tentang harapan orang tua terhadap anak muda yang diharapkan akan menjadi penerusnya, saya cuma bisa menghela nafas dan bilang: Ah ya, we know how that story would always end)

Tapi baru pada bagian akhir sosok Father Flynn jadi lebih ‘penting’. Bukan sekadar orang yang sakit, cacat, lalu meninggal. Bahwa ternyata ia adalah sosok yang ambigu. Setidaknya dengan keyakinannya.

(Sosok pemimpin spiritual dan keraguan terhadap keyakinan tampaknya adalah topik yang selalu menarik dibahas. Contoh, subplot Father Karras di The Exorcist)

Ambiguitas sikap Father Flynn itu tampaknya yang membuat saya tak bisa melepaskan The Sisters dari ingatan. Itu dan signifikansi kata-kata “Wide awake and laughing-like to himself…”

Juga pada cara si narator malah lebih sibuk memikirkan rok saudara perempuan Father Flynn yang terpasang secara ceroboh. Dan tentang bagian hak sepatu boot perempuan itu.

Mungkin sudah bisa sebenarnya ya untuk mulai bilang: When in doubt, go with Joyce.

(Dan ughh, Joyce menyelesaikan Dubliners pada usia 25?)

Popularity: 15%

Join the discussion. Add your comment.

Asia Blog Network

AsiaBlogging.com News

Teroka Cerpen is part of Asia Blogging Network