You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: “The Sisters”: Kompleksnya (Menjelang) Kematian

“The Sisters”: Kompleksnya (Menjelang) Kematian

isyana — June 10, 2008 / 4:45 am

Mengagumi Salinger seharusnya tidak diartikan dengan menghilang dari peredaran dan tidak mengeluarkan karya-karya (atau posting-posting) baru. Alasan kesibukan lain sepertinya sudah terlalu sering dipakai bukan?

Jadi ya, sudahlah. Lebih baik untuk langsung ke inti ceritanya kan ya?

Joyce mungkin sering melapisi karyanya dengan banyak simbol untuk jadi kunci ke makna-makna tertentu. Tapi menikmati cerpennya, The Sisters, di lapis pertama saja sebenarnya sudah cukup mengasyikkan.

Mengasyikkan dalam arti, ya sudah cukup memberi bahan-bahan pemikiran dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Ada kan, cerpen yang setelah dibaca, cuma jadi lempeng aja. Nggak memunculkan apa pun. Nggak mbuat marah, mikir, senang, tersentuh, atau berbagai ragam rupa emosi lainnya lah. Nah, dari ragam rupa emosi yang dimunculkan The Sisters, bisa dibilang ini cerpen yang menyenangkan.

Ceritanya dilihat dari sudut pandang seorang anak muda setelah kematian mentornya, Father Flynn. Hubungan si narator dan Father Flynn, walaupun singkat, digambarkan agak kompleks.

Si pastur, melihat potensi si narator, menaruh harapan-harapan dan kepercayaan akan profesi kawan mudanya di masa depan. Si narator sebenarnya tetap menghormati panutannya itu, tapi tak urung merasa terbebani oleh harapan yang ditimpakan padanya. Terbukti, saat Father Flynn meninggal, yang dirasakan si narator, salah satunya, adalah rasa lega.

(Untuk ‘anak cerita’ itu, tentang harapan orang tua terhadap anak muda yang diharapkan akan menjadi penerusnya, saya cuma bisa menghela nafas dan bilang: Ah ya, we know how that story would always end)

Tapi baru pada bagian akhir sosok Father Flynn jadi lebih ‘penting’. Bukan sekadar orang yang sakit, cacat, lalu meninggal. Bahwa ternyata ia adalah sosok yang ambigu. Setidaknya dengan keyakinannya.

(Sosok pemimpin spiritual dan keraguan terhadap keyakinan tampaknya adalah topik yang selalu menarik dibahas. Contoh, subplot Father Karras di The Exorcist)

Ambiguitas sikap Father Flynn itu tampaknya yang membuat saya tak bisa melepaskan The Sisters dari ingatan. Itu dan signifikansi kata-kata “Wide awake and laughing-like to himself…”

Juga pada cara si narator malah lebih sibuk memikirkan rok saudara perempuan Father Flynn yang terpasang secara ceroboh. Dan tentang bagian hak sepatu boot perempuan itu.

Mungkin sudah bisa sebenarnya ya untuk mulai bilang: When in doubt, go with Joyce.

(Dan ughh, Joyce menyelesaikan Dubliners pada usia 25?)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...