You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: …Lalu ada Lorrie Moore

…Lalu ada Lorrie Moore

isyana — September 20, 2008 / 9:38 pm

Mungkin pembandingan tidak sepatutnya saya lakukan.

Karena Raymond Chandler saya berpikir bahwa saya butuh sedikit lebih tua untuk membaca tentang orang-orang yang sepuluh tahun lebih tua dan berada di setengah fase kehidupannya. Memulainya dengan pasangan baru, atau pekerjaan baru atau tempat tinggal baru.

Lalu ada Lorrie Moore.

Ini adalah “Willing”, cerita pertama di kumpulan cerpen Birds of America.

Tentang seorang aktris yang karirnya sudah hampir selesai di LA dan memutuskan pindah ke sebuah kamar hotel di Chicago. Hari-harinya diisi dengan telepon ke temannya, mengunjungi orangtuanya, makan malam dengan teman yang lain dan berhubungan dengan seorang pria. Sidra, si aktris, bukan seseorang yang dengan langsung bisa membuat saya terhubung.

Ia tak digambarkan fisiknya secara jelas. Ada jemari yang kurus, atau pinggul yang muncul dalam film atau gambaran dia berubah menjadi sedikit lebih gemuk, tapi tak ada tentang rambut atau tinggi atau mata….

Oh, ada satu tentang warna kulit wajahnya, dan itu digambarkan lewat perdebatan akan warna foundation yang dibeli Sidra. Ia berkeras pada ivory sementara si SPG menyarankan beige.

Dalam jangkauan emosi, Sidra digambarkan lebih lengkap dengan semua tahap kelabilannya. Ada kebutuhan akan keterhubungan di satu titik, lalu ada referensi pop dan budaya di titik lain, lalu vanity (apa padanan yang pas dalam bahasa Indonesia?), kerendahhatian, kemampuan untuk mengidentifikasi dirinya, tapi juga kemampuannya untuk jadi jahat pada pasangannya.

Dan dengan semua elemen itu, saya jadi peduli pada Sidra dan cerita hidupnya.

She’s funny. Lorrie Moore, maksudnya.

Tapi dengan cara yang tajam. Dan kadang dengan sedikit rasa asam.

Saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi dia bisa menulis dengan rasa simpati terhadap karakter-karakternya.

Oke, mereka ditempatkan pada situasi yang belum tentu menyenangkan, tapi cara Moore menggambarkan mereka menghadapi situasi-situasi itu begitu memanusiakan, menghormati, tapi juga tak lepas dari kekonyolan reaksi dan segala macamnya.

Jadi mungkin kemampuan menggerakkan atau menghubungkan pembaca dengan karakter terletak pada metode si penulis untuk bercerita. Cara mana yang menurut mereka paling efektif untuk mencapai seseorang (tapi, apakah ini tujuan mereka menulis cerita?).

Mungkin Chandler, buat saya, jadi terlalu dingin dan polos sementara Moore lebih hangat dan ‘labil’ dan berenergi.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...