You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen » Article: Sekilas Raymond Chandler
Apakah ada usia yang tepat untuk membaca sesuatu?
Saya sempat, dan masih sepertinya, berpikir jawabannya tidak. Bahwa setelah kita punya kemampuan membaca alfabet, maka anything goes. Jika kita berhadapan atau sedang membaca karya seorang penulis yang benar-benar berempati dengan subyeknya, maka ia tentu bisa menggambarkan rasanya menjadi seseorang yang sangat tidak terhubung dengan kita kan?
Bahwa si penulis akan mampu menggambarkan dan menghidupkan situasi yang menggerakkan karakternya, dan membuat kita seperti berada dalam adegan yang sama. Terlepas dari kita berada di usia yang berbeda atau latar belakang sosial atau masa yang berbeda.
Contohnya (oke ini contoh fiksi, tapi ada kemungkinan terjadi di dunia nyata), tahu film Matilda? Matilda kecil yang bolak-balik ke perpustakaan dan, setelah selesai membaca buku bergambar untuk anak-anak, lalu membaca Ivanhoe dan karya-karya Dickens?
Jadi, penulis yang baik akan memiliki kemampuan untuk membuat kita terhubung ke si karakter ini kan?
So I thought.
Mungkin jawabannya iya, ada usia yang tepat untuk membaca sesuatu. Contohnya adalah meledaknya industri teenlit sebagai sebuah upaya untuk memberi bacaan bagi kelompok usia remaja itu.
Tapi yang saya maksud adalah ini, Raymond Chandler. Namanya selalu disebut-sebut sebagai penulis matang yang menunjukkan bagaimana cerita pendek bisa begitu ‘sederhana’ dan kaya di saat bersamaan. Bahwa dia dikenal karena gaya penulisannya yang simpel tapi efektif. Menggunakan bahasa sehari-hari dan tak berumit-rumit.
Saya meloncat-loncat membaca kumpulan cerpennya “Where I’m Calling From”. Iya, dia menulis dengan sederhana dan ‘mudah’ dan dengan semua atribut yang sudah jadi sinonim dengan nama Raymond Chandler. Tapi saya tak kunjung tergerak.
Dalam cerita-cerita yang saya temui secara acak itu, karakter-karakternya adalah orang-orang berusia setidaknya sepuluh tahun lebih tua dari saya dan sedang mencoba memulai ulang hidupnya dengan sosok yang baru.
Jadi ada tinggalan kesan akan perceraian atau pasangan lama atau anak-anak yang sulit mereka temui. Dan tidak ada dari (penggambaran) situasi itu yang membuat saya terhubung dengan si karakter.
Apakah saya, sebagai pembaca, kurang sensitif? Atau perpustakaan emosi dalam hidup saya belum memungkinkan untuk berhubungan dengan karakter-karakternya? Atau Carver, sebagai penulis, memang hanya begitu saja.
Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi sebagai pembaca, saya perlu merasa terhubung dengan salah satu karakter dari cerita itu. Tak masalah soal kadar keterhubungan. Yang penting hubungan itu ada.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.