You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen
2008 memang masih sangat panjang, masih banyak teks yang bisa dibaca dan bisa menggugah indera. Tapi, buat saya, Tolstoy adalah (salah satu) temuan berharga di 2008.
Well, yeah, hello! Ke mana saja selama ini? Itu, tidak bisa saya jawab. Pastinya sih berada di suatu tempat yang membuat saya tidak menemukan Tolstoy, hehe.
‘The Death of Ivan Ilyich‘ awalnya saya pikir adalah Tolstoy kedua saya setelah ‘Family Happiness/Happy Ever After’–yang saya juga suka–tapi ternyata Tolstoy pertama saya adalah ‘Hadji Murat’ dan sama sekali lupa. Entah apa yang terjadi, apakah terjemahannya kacau (kayaknya sih nggak apa-apa), karyanya memang tidak istimewa, atau karena saya membeli sebuah buku ‘defect’ yang hilang beberapa halaman akhirnya (!) dari seorang penjual buku gendongan di TIM. Ya, sepertinya yang terakhir…
Mungkin yang membuat ‘The Death..’ jadi lebih teresapi (halah) adalah saya membacanya ketika tenggorokan saya seperti sedang dipegang oleh kematian itu sendiri. Tidur dengan demam, bangun, membaca, tidur lagi, bermimpi membacanya, dan, saya ingat, ketika menjelang terbangun ada kumpulan air mata panas di pojok-pojok mata dan saya mengigau, ‘Ivan Ilyich, Ivan Ilyich, ada yang salah dari cara kita memperlakukan orang sakit’.
Dashyat nggak? Hehe…
Sepertinya belum pernah saya merasa tengah melahap kata-kata yang ada di sebuah teks, dan rasanya nikmat, seperti saat membaca ‘The Death of..’ Dan, mungkin karena saya membacanya waktu sakit, ketika Tolstoy menggambarkan Ivan Ilyich yang sadar akan keberadaan penyakit dan organ-organ dalam tubuhnya, saya juga jadi sadar dengan (apa lagi?) organ-organ di dalam tubuh. Atau itu adalah kemampuan orang-orang yang sedang sakit?
Membuat sedih membacanya, iya sih. Tapi tidak menyiksa. Saya malah jadi bertanya. Terhadap si sakit, seberapa banyak rasa kasihan itu terlalu banyak? Atau seberapa sedikit rasa kasihan untuk jadi tidak empatik? Dan anehkah dalam sebuah cerita yang mengkronologikan kematian, saya punya bagian favorit? (Ketika ’suara tuhan’ muncul dan deskripsi sakratul maut Ivan Ilyich)
Utamanya memang tentang sebuah kematian, tapi semuanya tentu berawal dari kehidupan. “The story of Ivan Ilyich’s life was of the simplest, most ordinary and therefore most terrible,” tulis Tolstoy. Benar dan tepat, tapi untuk yang terakhir, terrible, untuk Ivan Ilyich mungkin iya. Buat saya, seorang pembaca, kok ya jadinya most wonderful ya?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Chris Powers dari The Guardian sudah mulai ‘at it again’. Ada artikelnya tentang penulis cerita pendek Etgar Keret dan berita super pendek padat makna yang jadi bacaan Proust. Seperti tulisan-tulisan Powers sebelumnya, rasanya agak kering sih. Tapi setiap penulis punya pembaca sendiri dan Powers lumayan kaya referensi, jadi silahkan kalau penasaran. (Walaupun di artikel ’sharpest short stories’ itu ada dua hal yang saya anggap sangat menarik, 1. Proust yang menganggap gosip sebagai cardinal pleasure–me too! me too!–2. frase ‘committed anarchist’. Dalam anarki pun perlu komitmen ya?)
Dan, ah, ada cerpen “Free Radicals” dari Alice Munro di The New Yorker. (Tapi sudah membaca satu Munro hari ini, bukankah seperti katanya Mavis Gallant, “Stories are not chapters of novels. They should not be read one after another, as if they were meant to follow along. Read one. Shut the book. Read something else. Come back later. Stories can wait.” Tidak berarti hanya ‘boleh’ membaca satu cerpen sehari sih, tapi juga nggak mau jadi ‘cerpen overdrive’ juga…)
Sejauh mana saya masih mengingat resolusi tahun baru? Hmm, kalau diingat-ingat, ada ‘The Adulterous Woman’nya Camus, ‘The Death of Ivan Ilyich’ dari Tolstoy, beberapa cerita Nick Adams dari Hemingway, sama ‘Something I’ve Been Meaning to Tell You’ dan ‘Materials’nya Alice Munro. Akan saya coba untuk menulis lengkap resensi-resensinya…
Iya sih, asalnya kan memang berniat untuk tidak terlalu sering merujuk pada Alice Munro sebagai figur otoritas dalam dunia cerpen. Tapi saya mengatakannya saat belum mengetahui betapa luas spektrum (spektrum, luas? kaya?) karya-karyanya. Dan mumpung berbicara tentang Munro, aktris Julie Christie (yang pada usia 66 masih terlihat peachy dan tidak berubah banyak sejak ia berperan sebagai Lara di Doctor Zhivago, 43 tahun lalu) meraih penghargaan aktris terbaik di Screen Actors Guild untuk perannya di “Away From Her”–kisah tentang perempuan penderita Alzheimer yang diangkat dari cerpen Munro “The Bear Came Over the Mountain”. Saya penasaran sekali dengan filmnya (karena yang menyutradarai Sarah Polley dari “My Life Without Me”) dan penasaran pula dengan cerita pendeknya Munro.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Buat mereka yang ingin membaca lebih banyak cerpen (Me! Me! Me!) atau mereka yang sudah familiar dengan bentuk cerpen, sudah membaca banyak cerpen dan membutuhksn tantangan sebagai pembaca, boleh coba menengok ‘program’ yang diajukan penulis cerpen Kate Sutherland di blognya. Nama tantangannya, Short Story Reading Challenge. Ada blog tersendiri yang dibuat Kate untuk tantangan itu. Lengkapnya sih, silakan tengok saja, bisa jadi motivator buat mereka yang mau membaca lebih. (Atau cuma aku yang butuh motivator untuk membaca lebih?)
Dari blog bukunya Kate, ternyata ia masih menyimpan link ke sebuah artikel di harian The Guardian sejak 2004 lalu. Artikelnya ditulis oleh penulis William Boyd dan, saya akui, adalah artikel terlengkap tapi juga paling mendasar tentang pengenalan pada bentuk cerita pendek. Boyd bahkan melakukan semacam ‘pemetaan’ akan beberapa formula cerita pendek. (Dan, oh, ini ada tambahan sedikit. Boyd juga pernah menulis “Short History of the Short Story“)
Jadi, setelah membaca dua entry itu, dan membuka situs-situs yang dianjurkan Kate, hal selanjutnya yang ingin saya lakukan adalah mencari “A Good Man is Hard to Find”-nya Flannery O’Connor (cerpen ini tampaknya banyak muncul di daftar cerpen-cerpen favorit, lewat Danforth Review ini misalnya…). Tapi saya malah lebih dulu menemukan “Araby” dari James Joyce. Satu-satunya catatan yang saya buat dari membaca cerpen itu adalah: must read again (!).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Cerita pendek sering saya gunakan sebagai alat untuk mengenal seorang penulis sebelum melangkah ke karya panjangnya.
Entah benar atau tidak metode ini, tapi mungkin pembaca seperti saya yang menyebabkan seorang penulis cerita pendek terus-terusan ‘ditagih’, “Novelnya mana?” oleh penerbit. (Skenario itu saya ambil dari prakata ‘The Lives of Girls and Woman’-nya Alice Munro)
Kali ini, penulis yang ingin saya dekati adalah Henry James. Alasannya, saya pernah membaca sepertiga ‘Portrait of a Lady’ dan cukup menikmatinya. (Tapi sepertinya harus mengulang dari awal lagi, karena sudah lupa sampai di mana) Plus, saya suka tulisan-tulisannya Edith Wharton, yang mengaku tak akan ada tanpa seseorang seperti Henry James. Masih ada lagi, ‘The Ambassador’-nya Henry James, saya tidak bisa menembus kalimat pertamanya, huks.
Jadi, pilihan jatuh pada ‘Ghost Stories of Henry James’. Walaupun saya harus memilih mengabaikan rasa takut saya karena penasaran bagaimana seorang maestro dalam cerita kehidupan sosial menulis cerita hantu. Mungkin ingin mengetes juga, apakah hantu era Victoria masih bisa membuat saya ketakutan setelah ‘The Shining’ dan citra anak perempuan kembarnya atau yang baru-baru ditonton, ‘Wind Chill’.
Tapi kelakuan manusia-manusia di ‘The Romance of Certain Old Clothes’ dan ‘The Ghostly Rental’, dua cerita pertama di kumcer itu, lebih membuat saya bergidik (agak) ngeri daripada kelakuan hantu-hantunya. Di ‘The Romance of Certain Old Clothes’, saya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Viola dan Perdita Willoughby, terhadap satu sama lain dan pada dirinya sendiri. Baik saat keduanya sama-sama hidup atau saat salah satunya sudah mati. Sementara di ‘The Ghostly Rental’…yah, saya tidak bisa bercerita banyak, takutnya malah jadi spoiler. Intinya itu sih, kita tidak pernah tahu sejauh mana ketahanan hati manusia.
Ada ungkapan bahwa lewat fiksi kita bisa mengetahui sejauh mana manusia bisa berlaku, mencapai, berjalan atau punya kemampuan. How far we can go. Sesuatu yang, lewat dua cerita pendek Henry James, terbukti tidak hanya terbatas pada fiksi orang hidup. Lewat cerita tentang yang sudah mati, ternyata ‘go’-nya yang hidup masih bisa diceritakan. Kematian tak jadi batas akhir ‘go’ itu. Mungkin malah jadi awal.
Selain itu, pesan lainnya…oh, mungkin ini. Jangan pernah bermain-main dengan mereka yang sudah mati. Bukan pesan yang baru, tapi sepertinya cukup manjur.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Nama (pena) O Henry dan penulisan cerita pendek tampaknya sudah sejajar seperti sinonim.
Oke, itu hanya sebuah opini yang saya ajukan dengan humble, mengingat baru tujuh dari 41 cerita pendeknya yang saya baca di 41 Stories by O Henry :) (Dan ternyata dia menulis 400an..)
Tapi, pertimbangkan fakta-fakta ini. Penghargaan untuk penulisan cerita pendek terbaik diambil dari nama pena William Sydney Porter tersebut. Banyak penulis cerita pendek lainnya yang menyempurnakan atau bermain-main dengan bentuk cerita pendek, malah mungkin membawa cerita pendek ke arah yang baru. Karakter utama O Henry sebagai penulis cerita pendek adalah ia seorang peramu twist yang handal dalam cerita-ceritanya.
Jika O Henry dan cerita pendek sudah seperti sinonim, maka hubungan O Henry dan twist of irony bisa jadi sudah sebuah klise. Tapi apa sih klise itu? Bukannya hanya sebuah cara gampang menggeneralisasi buat mereka yang tak mau repot-repot memahami keseluruhan ‘gambar besarnya’?
Jadi? Kesimpulan saya sih, klise pasti berakar pada sesuatu.
Tentang twist dalam cerita pendek O Henry, contoh utamanya, ‘The Gift of the Magi’. Bisa jadi inilah akar klise itu. Cerita yang layak ada di halaman pertama “O Henry for Dummies” sepertinya… Tapi O Henry, walaupun tentang twist, bukan hanya tentang ‘The Gift of the Magi’.
Twist yang diramunya bisa jadi membosankan dan terkesan maksa seperti di ‘The Social Triangle’, mulai terasa kejutannya di ‘Tobin’s Palm’, atau komedik seperti di ‘Springtime a la Carte’. Bisa juga twistnya terasa agak samar karena dipanjangkan, tersebar tidak merata di seluruh cerita, bukan sesuatu yang singkat dan membuat tercekat di akhir cerita. ‘The Last Leaf’ dan ‘Best-Seller’, contohnya. Tapi saat itu terjadi, saya jadi melihat cara O Henry menuliskan karakter manusia. Sejauh ini, gabungan antara twist dan cerita pendek favorit saya adalah ‘Schools and Schools’.
Sebabnya? Karena masih bisa membuat saya berseru, ‘Hah!’
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Saya menulis agak lebih panjang di blog Teenlit tentang saya ingin menjadi pembaca seperti apa pada 2008 nanti. Intinya sih, pembaca yang meminimalkan prasangka.
Tapi sebagai pembaca cerita pendek, 2007 sepertinya sudah cukup membuat saya berprasangka pada beberapa penulis. Katherine Mansfield contohnya. Sartre juga. Dan saya jadi terlalu sering berendam di kolam aman dari Salinger dan Kayam. Nah, saya ingin keluar dari kolam hangat yang nyaman itu pada 2008.
Ada beberapa O Henry yang sudah dibaca bulan-bulan terakhir 2007 lalu, mengetik resensinya akan jadi pekerjaan rumah pertama saya. Pun dengan cerita-cerita hantu Henry James. Berbicara tentang Henry James, ada biografi baru tentang James yang ditulis oleh Sheldon M Novick bertajuk ‘The Mature Master’. Resensi buku itu dari New York Times, ada di sini.
Oh, ke mana aku akan menyeburkan diri setelah keluar dari kolam hangat nyaman (kenapa ini jadi terdengar seperti kembali ke rahim ya?) Salinger-Kayam? Entah kenapa, dari kemarin malam jadi ingin membuka kumcer Exile and the Kingdom-nya Camus. Dan jadi tertegun ketika mengetahui bahwa hari ini, 4 Januari, adalah 48 tahun meninggalnya Camus. What freaky coincidence is this?
Sejauh ini, baru halaman 18 dari cerpen pertama: The Adulterous Woman.
Setelah Camus, kalau saya bisa mendapat akses ke cerita-cerita pendek dari orang-orang bernama belakang Rusia selain Chekhov, nah itu juga teritori yang menarik untuk dijelajahi. Mencari Gogol, mungkin.
Atau seseorang yang sama sekali belum pernah saya ketahui atau dengar ‘reputasinya’. Mikael, yang jadi komentator setia blog ini dan blogger di My City Jakarta, misalnya mengusulkan Lorrie Moore. Dari deskripsinya di Amazon.com:
“Lorrie Moore made her debut in 1985 with Self-Help, which proved that she could write about sadness, sex, and the single girl with as much tenderness–and with considerably more wit–than almost any of her contemporaries.”
Hmm, terdengar begitu menjanjikan.
Dan, pernah mendengar aktor Robert Englund? Ia adalah aktor yang terus-terusan memerankan Freddy Krueger dalam serial Nightmare on Elm Street. Lewat blog The Millions, Englund menyatakan bahwa temuan favoritnya 2007 lalu adalah “Birds of America’-nya Lorrie Moore. Seharusnya saya tidak jadi khawatir kan? :)
Oh, sebagai hadiah tahun baru (hehe), sebuah cerpen dari Junot Díaz–New Yorker menyebutnya sebagai 20 penulis top pada abad 21–Alma. (Yang, entah kenapa, kok saya cukup suka ya cerpen ini?)
Hampir lupa. Selamat tahun baru!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Apakah posting tentang polemik penerbitan versi ‘baru’ cerita-cerita pendek Raymond Carver masih menarik? Jika ya, ada kronologis lengkap polemik itu yang dikompilasi oleh Richard Lea di blog The Guardian.
Berbicara tentang blog koran yang sama, Chris Powers melanjutkan serinya tentang A brief study of short story bagian dua, tiga, empat, lima dan enam. Yes, I have slacked that much.
Dan jika Raymond Carver (dan karyanya) belum bosan dibicarakan, silahkan temukan cerpennya “Beginners” di situs The New Yorker. Hmm, mungkin ini saatnya bagi saya mengenal Carver yang, belum apa-apa, sudah saya cap maskulin, minimalis dan terlalu Amerika.
Lucu. Lewat blog ini saya menyadari betapa penuh prasangkanya saya sebagai seorang pembaca…
Dan, jika masih ada waktu berputar-putar di situs The New Yorker, cerita pendek “The King of Sentences” dari Jonathan Lethem cukup membuat saya lega ada orang lain yang memikirkan kemungkinan mengejar, menguntit, membuntuti, memburu God-Writer mereka untuk sekedar bertemu…atau lain-lain. (Ya, tentu saja, God-Writer buat saya adalah Salinger).
Secara tidak sengaja, saya menemukan blog buku dengan nama Chekhov’s Mistress. Dalam pikiran saya, Chekhov lebih sebagai seorang rebound guy yang sangat baik. Buat mereka yang butuh terjemahan ChickSpeak, rebound guy adalah istilah yang digunakan untuk seorang pria yang dikencani atau dipacari setelah putus, hanya untuk melupakan patah hati dari hubungan sebelumnya. Sifat hubungannya sih cenderung tidak serius dan kecil kemungkinannya untuk berjalan lebih lanjut. Tapi yang disediakan oleh si rebound guy adalah pengalihan perhatian. Nah, Chekhov, buat saya, bisa memberi cerita-cerita pengalih perhatian yang baik dari kekecewaan dunia nyata. Dia bisa punya kekuatan untuk menenggelamkan saya dalam tokoh-tokohnya, membuat saya peduli dan memikirkan terus apa yang terjadi pada karakter-karakternya dan perasaan-perasaan mereka. Kesimpulannya, a good rebound guy.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Sejak kemarin malam sampai tengah pagi tadi, saya berkutat dengan “Ruang Inap No 6, Sekumpulan Cerpen Pilihan Anton Chekhov”. Dari segala sisi, buku itu masih mulus. Halamannya masih agak menyatu. Ketahuan sekali kalau belum pernah dibaca.
Yang membuat saya memutuskan untuk tidak membiarkan tumpukan debu makin tebal pada buku ini adalah tulisan Chris Power di blog bukunya The Guardian. Judulnya “A brief survey of the short story: part one” yang pada edisi perdananya membahas tentang Anton Chekhov.
Saya membaca “Ruang Inap No 6″ dengan satu pertanyaan di kepala; apa saja sih elemen-elemen yang dapat membuat sebuah cerita disebut Chekhovian? Karya Chekhov sebelumnya yang saya baca adalah “Pengakuan” yang ternyata isinya adalah cerita-cerita sangat pendek, komedik, tapi biasanya punya twist-twist pedas di akhirnya. Apakah itu Chekhovian?
Tapi sepertinya cerita yang saya baca itu adalah yang digolongkan Power sebagai permulaan karir kepenulisan Chekhov. Ia memulainya dengan menjadi seorang hack–seseorang, seniman atau penulis yang mengeksploitasi, demi uang, kemampuan kreatifnya untuk menghasilkan karya-karya yang membosankan, tidak imajinatif dan palsu; atau seseorang yang menghasilkan karya-karya banal dan medioker dengan harapan memperoleh kesuksesan komersial dari karya tersebut (wow, sepertinya tidak ada yang bisa lebih tepat mendeskripsikan Avril Lavigne dari terjemahan ini deh). Lewat menjadi hack ini, Chekhov menghasilkan 500 cerita cerita sangat pendek dalam waktu delapan tahun atas nama Antosha Chekonte.
Tapi, twist pedas di cerita-cerita sangat pendek yang ‘banal’ itu juga muncul di “Roman dengan Kontrabas”. Dan “Karya Seni”. Ironi-ironi yang tajam, kejam, pedas tapi nikmat yang, saya asal-asalan menebak di sini, mempengaruhi Roald Dahl. “Bintara Prishibeyev”, ketika dibaca setelah “Roman dengan Kontrabas”, jadi seperti dua sisi koin yang sama. “Roman..” menawarkan skenario kemungkinan yang bisa menjadikan seseorang tampak ‘aneh’, seperti di “Prishibeyev”. Dua-duanya juga menggambarkan ambiguitas kejiwaan manusia. Atau mungkin tepatnya bukan ambigu. Tapi Chekhov tengah mendeskripsikan daerah tak terpetakan dalam pikiran manusia. Sehingga kita tak bisa dengan mudah mengategorikannya masuk ke wilayah ‘kegilaan’ atau ‘kewarasan’.
“Manusia dalam Kotak” juga punya elemen-elemen itu; kebiasaan dan perilaku manusia yang tak bisa langsung dinamai dengan gila atau waras. Mungkinkah elemen ini yang dimaksud dengan Chekhovian? Sementara pada “Wanita dengan Anjing”, kenapa saya merasa ini versi yang lebih pendek, tapi lebih efektif, daripada “Madame Bovary”? Dan lebih tidak misoginis, kalau boleh dirasa-rasa.
Mengenai apa itu Chekhovian, masih harus saya rumuskan lagi. Toh buku ini baru setengah dibaca. Saya harap ini bukan posting yang terakhir tentang Chekhov.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Aktris dan penulis naskah kontroversial di masanya, Mae West, pernah mengatakan, mereka yang mudah terkejut harus lebih sering dibuat terkejut. People who are easily shocked, should be shocked more often. Dan saya, amat sangat terkejut saat menyadari betapa menyenangkannya mengisi waktu bersama James Joyce. Mereka yang memiliki tarian bertajuk “Tuh Kan, Gue Bilang Juga Apa?” dipersilahkan untuk memeragakannya sekarang.
Tapi, belum kok, belum sampai di “Ulysses”. Baru pada “The Dead” dari kumpulan cerpen “Dubliners”.
Entah apa yang saya pikirkan sebelumnya. Sampai sekarang masih heran, kenapa ya kok saya bisa sampai pada kesimpulan bahwa Joyce tak akan mampu menulis sesuatu yang memanusia. Bahwa ia sangat rumit, tak membumi, dan ya itu…tidak memanusia. Oke, “The Dead” memang agak melelahkan dengan catatan kaki yang bertebaran, tapi ada masa-masanya, beberapa kali malah, cerpen ini berada di momen puncaknya. Saat Gabriel Conroy menyampaikan pidatonya di jamuan makan malam Tahun Baru, contohnya. Itu satu. (Sub-pertanyaan, kita bisa merasakan monolog yang bagus, tapi apa sebenarnya yang membuatnya jadi ‘monolog efektif’ dalam sebuah tulisan?) Bagian terindahnya sih baru muncul menjelang akhir cerita, saat jamuan makan malamnya sudah selesai, dan Gabriel Conroy serta Gretta, istrinya, kembali ke hotel. Pada bagian inilah saya sering menahan dan menghela nafas, merasakan kualitas “breathless” dan “in-motion” yang pernah disebut penulis Alison MacLeod itu. Benar-benar tidak ada kata lain selain ‘indah’.
Tambahan. Secara ‘de jure’ sebenarnya cerita ini tak punya dialog, karena Joyce tak memberi tanda petik untuk menandai awal dan akhir dialog antar karakternya. Tapi secara de facto, dialog itu ada. Pertanyaan lain, ada yang tahu kenapa Joyce melakukan itu?
Dari segi waktu, mungkin cerita ini agak mirip dengan “Ulysses”. “Ulysses” menceritakan tentang satu hari, sementara “The Dead” menceritakan hanya beberapa jam. Dan Joyce-lah yang membuat saya sadar, bahwa Dublin juga punya sisi-sisi kota yang tak kalah menarik untuk diceritakan dan digambarkan dibanding kota-kota Eropa lainnya, tapi masih jarang dilakukan. Joyce pernah menulis pada saudara laki-lakinya,
“When you remember that Dublin has been a capital for thousands of years, that it is the ’second’ city of the British Empira, that is nearly three times as big as Venice, it seems strange that no artist has given it to the world.”
Tuan Joyce, I think this is the beginning of a beautiful friendship. (Saya harap).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
(Resensi “The Dead” akan saya tulis setelah ini. Janji.)
Ada yang mencatat siapa-siapa saja pemenang penghargaan buku atau sastra tiap tahunnya? Saya ingat pemenang Nobel Sastra sampai tiga tahun ke belakang, tapi tak berusaha menebak-nebak saat belum diumumkan. Atau secara khusus menunggu-nunggu. Seperti saya menunggu Oscar Night. :)
Oke, tapi, bagaimana dengan Man Booker Prize?
“The Gathering”, sebuah saga keluarga Irlandia yang membuat depresi dam terjual tak lebih dari 3000 eksemplar di Inggris, adalah pemenang Booker Prize tahun ini. Penulisnya, Anne Enright asal Dublin (hey, sama dengan Joyce yang akan saya tulis sebentar lagi), berhak mendapat hadiah sebesar £50,000.
Jika anda seperti saya, tak tahan dengan depresi dalam ketebalan tertentu, mungkin kita bisa sama-sama memulai dengan cerita pendek Enright, “Caravan“. Mari mengonsumsi depresi dalam dosis kecil terlebih dulu. Walaupun, kalau dipikir-pikir, bukankah kita sudah sering bertemu depresi tiap Minggu pagi di halaman sastra koran?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.