Koleksi Cerita Pendek

2 comments isyana — October 30, 2007 / 11:20 pm

Tak perlu diulang lagi sebenarnya, betapa saya masih menganggap cerpen sebagai sebuah format penulisan yang asing. Menikmatinya atau mengaguminya saja, saya masih bertanya-tanya, apa-apa sih sebenarnya yang harus diperhatikan. Tapi seharusnya menikmati cerita pendek tak serumit menikmati wine kan? (Walaupun, dalam sebuah diskusi, Bambang Harymurti-nya Tempo pernah menyamakan antara membaca dan minum wine. “It’s an acquired taste,” katanya waktu itu. Jadi harus sering-sering minum atau sering-sering membaca untuk bisa ‘nyandu’. Tapi, euurrggh. Saya tidak ingin menjadikan aktivitas membaca jadi sesuatu yang snob dan pretensius seperti mengidentifikasi wine…)

Yang dapat membuat terus membaca, tentu saja, salah satunya, rekomendasi. Karena masih asing, jadi–seperti di Facebook–saya mencari whatever I can get. Tapi, sebelum memberi rekomendasi, penulis Alison MacLeod punya definisi tersendiri tentang kekhasan bentuk cerita pendek. Katanya,

Writing a short story is a high-wire act, sentence by sentence, foot by foot. Very few story writers work with the safety net of a plot conceived in advance. They trust in the humming tension of a single opening line or in an image that rises in their mind, or in a fragment of a character’s voice. They might have a sense of where they want their characters to go; they rarely know how they’ll get them there. At times it’s unnerving work. Lose your concentration or the line of tension in the story and both you and it fall. The best short stories have a breathless, in-motion quality to them….

Dari definisi itu, saya baru menangkap dan setuju pada kalimat terakhirnya, bahwa cerita pendek terbaik punya kualitas ‘breathless, in-motion’. MacLeod juga memberikan daftar 10 cerita pendek terbaik versinya. Di nomor satu (walaupun saya yakin ia tak bermaksud mengurutkannya seperti Top 10), MacLeod menempatkan “The Nose“-nya Gogol. Saya malah lebih penasaran dengan “The Overcoat“, karena sekarang sedang membaca novel “The Namesake”-nya Jhumpa Lahiri. Salah satu karakter di “The Namesake” mengutip Dostoievsky yang mengatakan bahwa kita semua datang dari “Overcoat”-nya Gogol. “The Dead” dari Joyce juga masuk daftar di atas. Cerpen ini akan saya tulis resensinya di entry berikut.

Dan saya jadi amat sangat penasaran dengan gaya Sylvia Plath menulis cerita pendek pada “Johnny Panic and the Bible of Dreams” (mengaku bersalah atas kekaguman pada novel semi otobiografisnya, “The Bell Jar”, dan kagum pada Woody Allen yang tajam menangkap sosok Sylvia Plath sebagai: “interesting poetess whose tragic suicide was misinterpreted as romantic by the college girl mentality” lewat “Annie Hall”). Saya tampaknya juga harus mencari cerpen dari DH Lawrence.

Hmm. Bulan baru hampir datang. Daftar membaca tampaknya sudah harus mulai disusun lagi…

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Jejak George Orwell di Burma

Comments isyana — October 30, 2007 / 1:26 pm

Ada beberapa situs yang memasukkan “Shooting an Elephant“-nya George Orwell sebagai sebuah esai. Ada juga yang menggolongkannya sebagai cerita pendek, bahkan tak lupa melengkapinya dengan ‘notes and study guides’ tersendiri sebagai sebuah karya fiksi.

Lepas dari persoalan ini esai atau cerpen, dari segi penulisan, ada sesuatu yang dapat dijadikan catatan tersendiri. Saat membaca “1984″, saya lebih sering terpaku pada tema besar totalitarianisme (ffiuuh) yang diajukan Orwell, tapi luput mengamati elemen-elemen detil yang membentuk tema besar itu. Caranya berdialog, pertama. Lalu caranya menggambarkan karakter, membangun penokohan atau mendeskripsikan dunia tempat karakternya berada. Lalu bagaimana ia mengatur alur dan ritme.

Ternyata kecairan bercerita tidak sepenuhnya tergantung pada dialog (ya, Papa Hemingway, anda tak selalu benar). “Shooting an Elephant” dengan dialog, atau malah tepatnya ketiadaan dialog, jadi contoh bagus. Jika rentetan deskripsi itu terjahit dengan baik–seperti pada “Shooting…” yang mengambil latar Burma sebagai lokasi–dialog tak perlu jadi sesuatu yang dirindukan.

Dan Orwell, lewat cerpen ini, menunjukkan bahwa ia adalah pencerita yang sabar. Yang runtun, perseptif, dan amat sangat kaya dalam penggambaran. Tapi ada elemen pada tindakan si (anti) hero pada cerita ini yang mengingatkan pada Winston Smith dari “1984″. Bahwa tindakan-tindakan keduanya lebih merupakan hasil ‘tekanan’ kelompok masyarakat tempat mereka tinggal daripada menunjukkan buah pikiran individualitas mereka.

Orwell memang pernah bertugas di Burma (Myanmar), tepatnya di Katha dan Moulmein, saat bergabung dengan Indian Imperial Police (1922-1927). Pengalamannya bertugas di sana adalah bahan untuk novel “Burmese Days”, dan ‘esai’ ini serta “The Hanging”. Jurnalis Emma Larkin, lewat bukunya “Finding George Orwell in Burma”, mencatat bahwa ada lelucon tentang Orwell di negara itu. Bahwa Orwell menulis bukan hanya satu, tapi tiga novel tentang Burma, “Burmese Days”, “Animal Farm” dan “1984″.

Hmm, saya jadi penasaran, kira-kira apa pendapat ‘Sang Nabi’ tentang Myanmar akhir-akhir ini ya…

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Dua Tangisan Pada Satu Malam

4 comments isyana — October 26, 2007 / 9:11 pm

“Dulu aku bercita-cita ingin menjadi penulis, mencobanya, dan tidak ingin lagi.”

Ia tertawa, liurnya menetes, ia berbaring dan berbantal kayu bakar yang agak besar. Puntung rokoknya yang masih menyala jatuh di kaus oblong yang lusuh dan membuat beberapa lubang. Aku ingin menolongnya, tapi kepala ini berat rasanya, dan ia sendiri tidak merasa kepanasan. Aku urung membantunya.

“Kenapa?”

“Aku pikir enak jadi penulis, diam, menyendiri, patuh pada kehendaknya sendiri.”

“Lantas?”

“Tapi, itu tidak cukup. Sebab kadang kita harus melakukan apa-apa yang tidak bisa kuterima….”

“Misalnya?”

“Misalnya, lebih banyak memberi keterangan pada apa-apa yang sudah kita tulis pada banyak orang, dengan energi yang lebih besar dibanding energi kita untuk menulis.”

(dari cerpen “Kitab Salah Paham” –Puthut EA)

Cerpen di atas adalah judul keenam dalam kumpulan cerpen “Dua Tangisan Pada Satu Malam”-nya Puthut EA. Tapi saya sudah berhenti mencoba ‘mengartikan’ cerpen-cerpennya di tengah-tengah membaca cerita nomor dua dari lima belas cerita.

Membaca cerita-cerita di kumpulan cerpen ini, saya jadi teringat dengan blurb dari Budi Darma untuk kumcer “Bon Suwung”-nya Gunawan Maryanto. Yang tentang cerpennya tidak terikat dengan penokohan dan alur, yang sering menawarkan dunia yang asing. Jujur saja, saya sempat berpikir penilaian itu lebih cocok ada di sampul belakang buku ini.

Preferensi saya atas cerpen, sepertinya, selama ini lebih pada yang ‘konservatif’. Jadi ketika berkenalan dengan karya Penulis Cerpen Paling Disukai Versi Tujuh Tahun Sriti.com ini, kok jadi agak ‘cemas’ dan sibuk mencari makna. Padahal, cerita bisa jadi hanya sebuah cerita. Ia tak perlu jadi apa-apa lagi. Tak perlu dijelaskan oleh atau menunggu penjelasan dari penulisnya. So, that’s it.

Lalu, dari keberagaman masa, lokasi, zaman dan dunia yang digambarkan, ada satu elemen yang terus ada. Pengamatan dan pencatatan yang detil akan kebiasaan-kebiasaan manusia sebagai pembentuk karakter. Dan, kalau Eka Kurniawan ‘bisa’ menulis lucu, maka Puthut EA adalah penulis patah hati. Dan kenapa narator-narator di cerita-cerita patah hati itu langsung membuat saya terpikir pada penulisnya? Bahwa mereka adalah dia. Kecurigaan yang sama persis juga muncul ketika membaca “Cinta Tak Pernah Tepat Waktu”, novelnya Puthut EA. Apakah memang para (anti) hero itu benar-benar dia?

Ah, bukankah saya harus berhenti menjadikan sebuah cerita jadi sesuatu yang lain dari ‘hanya’ cerita? (Sesuatu yang semi-biografis, misalnya)

(Btw, saya baru mengerti betapa menyenangkannya berlatih menulis dengan mengetik ulang karya yang sudah ada waktu mengetik bagian awal entry ini. Tips latihan ini, sumpah deh, saya dapat dari seorang Penulis Cerpen Profesional. Kabarnya ia punya setumpuk hasil cetakan karya-karya sastra yang ia ketik ulang sebagai bagian dari latihan mengencerkan kebekuan menulis itu. Dan ketika saya mengetik kalimat-kalimat di atas, ugh, rasanya, kata-kata itu, benar-benar enak untuk diketik. Kalau aktor Joseph Gordon-Levitt mengatakan tentang naskah film Brick-nya, “these words feel so good in my mouth”, maka buat saya kata-kata di cerpennya Puthut EA itu terasa so good untuk diketik ulang).

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

“The Stare”

Comments isyana — October 24, 2007 / 5:43 pm

Doris Lessing meraih Nobel Sastra 2007. Yawn. Berita yang sudah lewat banget. Tapi yang nggak pernah terlambat adalah membaca karya-karyanya kan?

Nobel diberikan bukan hanya untuk satu karya. Tapi untuk semua karya yang dihasilkan sepanjang hidup si sastrawan. Karya-karyanya itu kan yang lalu dianggap mewakili nilai-nilai apa pun yang ingin disorot oleh penentu hadiah Nobel pada tahun itu. Buat Doris Lessing, ia dianggap mewakili “that epicist of the female experience, who with skepticism, fire and visionary power has subjected a divided civilization to scrutiny.”

(Dan atas penggambaran itu, Lessing menjawab pada Editor-in-Chief Nobelprize.org, Adam Smith: “Well I don’t really know what they had in mind when they wrote it, you see. I mean they were faced with a quite astonishing number and range of writing. To sum it all up must have been quite formidable, don’t you think?”)

Tapi, yang ingin saya presentasikan sebenarnya adalah…”The Stare“. Cerita pendek ini kembali dimunculkan di situs majalah The New Yorker pasca berita kemenangan Lessing. Apakah cerpen ini memenuhi deskripsi tentang Lessing dari komite Nobel, itu penilaian yang sangat subyektif. Tapi bukankah ‘idealnya’ sebuah karya cukup dinikmati saja tanpa penulisnya, atau orang lain, merasa perlu menjelaskan nilai-nilai apa yang diwakili karya tersebut?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Demi Yang Baru dan Inovatif

2 comments isyana — October 24, 2007 / 4:20 pm

Dalam keragu-raguan, mulailah dengan Umar Kayan.

(Cukup berima nggak?)

Harap maklumi usaha saya memecah kebekuan, karena jelas-jelas, saya tidak membaca sebanyak yang saya inginkan bulan ini. Sebagai pembaca cerpen, bulan ini, saya malah lebih sering kabur ke kumpulan kolom Umar Kayam di majalah Tempo, ‘Titipan Umar Kayam’.

Dalam perjalanan pulang ke ibukota pasca Lebaran lalu, saya dan seorang teman membahas buku itu via sms. Kami ternyata sedang sama-sama membaca buku itu tanpa sepengetahuan masing-masing. Saya termangu dan takjub di kolom tentang lukisan Zaini dan fungsi pelukis serta penulis sebagai penafsir keindahan. Si teman lebih terpaku pada cara Pak Kayam menulis obituari. Sesampainya di Jakarta, sedikit meng-google, dan tahulah sekarang sudah berdiri Yayasan Umar Kayam.

Yang unik dari situs Yayasannya, sampai ada foto-foto keluarga segala turut ditampilkan. Bagian karya sebenarnya mendaftar lengkap cerpen-cerpen, esai, disertasi, dan semua kumpulan kolom yang pernah diterbitkannya, tapi tidak memunculkan karya itu secara lengkap. Lebih sebagai sinopsis atas karya yang sudah terbit itu. Kenapa tidak di-Gutenberg-kan sekalian ya? Atau mungkin masalah hak cipta dan penerbit dst?

Tapi, apa pun itu, semoga yayasan ini bisa terus menjalankan misinya seperti Kompas (15/9) mengutip Direktur YUK Kusen Alipah Hadi:

“Lembaga semacam ini dibutuhkan untuk mendorong munculnya pemikiran-pemikiran baru yang inovatif,” katanya di sela-sela acara selamatan pembukaan YUK di Yogyakarta, awal pekan ini. “Di sini setiap orang bisa mengasah ketajaman rasa dan pikir sebagai upaya membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera,” kata Kusen

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

The Garden Party and Other Stories (Bag.1)

2 comments isyana — September 30, 2007 / 11:58 pm

Dalam upaya me-re-boot perkenalan dengan Katherine Mansfield (setelah bertemu dengan sebuah kekacauan berjudul “The Garden Party”), saya memutuskan membaca kumpulan cerita pendeknya “The Garden Party and Other Stories”. Hasilnya?

Belum berjalan cukup jauh, sebenarnya. Masih dua cerita pendek di bagian awal. “How Pearl Button Was Kidnapped” dan “The Journey to Bruges”. “Pearl Button” terasa cukup cantik; imaji dan dunia yang dibangun Mansfield lewat kata-kata di cerpen itu mirip sebuah mimpi. Lebih tentang nuansa emosi dan alusi daripada sebuah gambaran jelas tentang lokasi (lewat istilah ‘House of Boxes’ yang diulang beberapa kali dan perjalanan Pearl Button ke tempat tinggal para ‘penculiknya’), kelas sosial (betapa Pearl Button melihat gaya hidup yang lain, yang lebih longgar dengan aturan-aturan daripada yang selama ini mengikatnya; ketika ia makan buah dan airnya berjatuhan di bagian depan gaunnya, Pearl ketakutan sementara ‘penculiknya’ menanggapinya dengan tenang), perbedaan ras (ditunjukkan lewat cara berbicara para ‘penculik’ Pearl Button dan kalimat “They set Pearl Button down in a log room full of other people the same colour as they were”) atau profesi (“Little men in blue coats—little blue men came running, running towards her with shouts and whistlings—a crowd of little blue men to carry her back to the House of Boxes”). Mungkin karena sudut pandangnya dari seorang anak, dunia jadi terasa seperti sebuah mimpi terus-menerus daripada penuh pembedaan mimpi vs kenyataan seperti layaknya orang dewasa. Di area ini, Mansfield menunjukkan kekuatannya menghidupkan sebuah dunia mimpi. Dia mampu mewujudkan salah satu elemen kuat yang, dalam penilaian saya, jadi salah satu indikator sebuah tulisan apik; musikalitas. Bukan sekedar memunculkan ritme tapi efek yang muncul dari keseluruhan ‘trik’ penulisan ketika disatukan. Hasil dari perpaduan deskripsi dan dialog dalam jumlah ‘tepat’ untuk menghidupkan si cerita. Sangat subyektif memang ukuran ‘tepat’ itu.

Tapi, kenapa ya, dia lagi-lagi terpaku pada ide tentang karakter yang bisa hidup lebih bahagia (perempuan anak orang kaya, biasanya) dengan mereka yang berbeda kelas sosial dan cara hidup dibanding dirinya. Laura Sheridan di “The Garden Party” sebelumnya, dan sekarang Pearl Button.

Oke, oke, itu sebenarnya bukan tema yang jadi bahasan khusus Mansfield (atau mungkin memang iya? Saya baru membaca tiga karyanya…), penulis lain mungkin sudah pernah membahas tentang kemungkinan-kemungkinan karakter akan lebih bahagia tinggal di kelompok masyarakat yang berbeda dari yang selama ini ditinggalinya, mungkin karena ingin melepaskan diri dari tatanan nilai yang mengekang. Tapi, ada sesuatu dalam cara Mansfield menggambarkan dilema itu yang terasa ugggh, mengesalkan. Saat ini, saya menuding ‘kenaifan yang dibuat-buat’ sebagai ‘sesuatu’ itu.

Sementara, cerpen satunya lagi, “The Journey to Bruges”, walaupun bukan tentang suatu hal yang khusus kecuali yang tersurat dalam judul itu, terasa baik-baik saja. (Hmm, mungkin memang benar ya ketika ada yang bilang peresensi seperti Dorothy Parker bisa lebih menunjukkan kekuatannya ketika mengulas karya yang tidak disukainya daripada karya yang disukainya. Untuk “The Journey to Bruges” yang saya anggap baik-baik saja, memang hanya itu yang bisa saya katakan).

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Kilasan Terakhir Hidup Granny Weatherall

1 comment isyana — September 30, 2007 / 11:56 pm

Adegan apa, dari seluruh momen kehidupan anda, yang akan tersangkut di ingatan saat terbaring di ranjang kematian? Dan ketika saat itu tiba, bisakah kita punya kuasa akan ingatan yang muncul di saat-saat terakhir itu? (Yang kedua, ini pertanyaan pribadi)

Buat Nenek (Granny) Weatherall, memori yang muncul adalah peristiwa ditinggalkan di altar oleh kekasihnya. Ranjang kematian Granny Weatherall jadi setting utama cerita pendek karya Katherine Anne Porter, “The Jilting of Granny Weatherall”. Dari saat-saat terakhir hidup Granny Weatherall, Porter menggambarkan beberapa alur sekaligus. Granny dan kejadian-kejadian masa lalunya; kekasih yang meninggalkannya, rasa sakit hati dan malu yang dialaminya, tapi berujung pada pertemuannya dengan lelaki lain yang jadi suaminya, lalu pada masa mudanya sebagai seorang wanita dewasa dan ibu dari anak-anaknya yang dilihat balik penuh dengan rasa bangga.

Alur kedua adalah percakapan internalnya di saat ‘ini’, masa sekarang, the present time. Ini adalah Granny Weatherall yang sepenuhnya sadar akan kondisi di sekitarnya dan dapat memberikan reaksi yang menunjukkan karakternya sejujurnya, bossy salah satunya. Terhadap kehadiran dokternya, terhadap benda-benda yang dimintanya, dan tentang orang-orang yang ia ingin hadir di dekatnya. Sayangnya, kesadaran-kesadaran itu hanya muncul dalam pikirannya saja. Ketika ia mengungkapkan permintaan-permintaannya, tak ada yang mengerti apa yang diucapkan oleh Granny Weatherall. Di sinilah kondisi ‘sebenarnya’ situasi itu digambarkan, tentang betapa parahnya kondisi Granny Weatherall, betapa ia tengah berjuang meregang nyawa, lewat percakapan antara si dokter dan anak perempuannya. (Atau mungkin, ketika pembaca sampai pada bagian itu, mereka sudah menyadari, kenyataan hanyalah masalah sudut pandang semata, terserah sudut pandang Granny-kah atau dokter-anak perempuan yang dipilih untuk dipercayai).

Tapi, kembali pada pertanyaan di atas. Jika anda terbaring di ranjang kematian (atau apa pun yang jadi tempat kita terbaring saat sekarat nanti), memori apa yang anda harap akan muncul untuk ‘menyimpulkan’ intisari hidup anda?

Well, kita memang belum tahu, apakah proses meregang nyawa akan dengan murah hati memberi kita kesempatan untuk mengingat sesuatu, apalagi satu momen secara khusus, tapi setelah membaca cerpen itu, saya jadi tergelitik untuk memilih satu ingatan khusus itu.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Langkah Bayi Menuju W Somerset Maugham

Comments isyana — September 27, 2007 / 4:52 pm

Jika menulis cerpen kerap digunakan oleh penulis sebagai ’sasana berlatih’ untuk sampai pada Karya Besar bernama novel(*), maka bagi pembaca, cerpen juga bisa jadi arena latihan untuk membaca karya seorang penulis sebelum menyimak novelnya. Ya, setidaknya buat pembaca yang suka mengambil langkah-langkah bayi terlebih dahulu sebelum melompati gunung, hehe.

Sebelumnya trik ini saya lakukan untuk berkenalan dengan karya Faulkner. Sekarang, saya gunakan untuk berkenalan dengan W Somerset Maugham. “Of Human Bondage”, “The Moon and Sixpence” atau “The Razor’s Edge” kerap jadi referensi untuk mulai membaca Maugham. Tapi karena atribut-atribut kehebatan sering ditempelkan di sampul-sampul bukunya, belum-belum sudah deg-degan sendiri kalau mau membaca.

Saya berterimakasih pada Jalan Semarang di Surabaya yang menjual buku-buku bekas. Di sanalah saya menemukan “The Somerset Maugham Pocket Book” yang menyatukan novel komplit “Cakes and Ale”, naskah drama komplit “The Circle”, empat cerita pendek (”Rain”, “The Human Element”, “Mr Know All” dan “A Friend in Need”), sketsa perjalanan, dan empat esai-esainya, semuanya terangkum dalam harga Rp 10 ribu saja.

Akhirnya memutuskan membaca Mr Know All dan A Friend in Need, yang serta merta membuat berkomentar, kok rasa-rasanya tidak jauh berbeda dengan cerpennya Roald Dahl ya? Ada twist yang ’sakit’ di bagian akhir cerita, walaupun protagonis Maugham tetap berperan sebagai orang ’sadar’ yang mempertanyakan kekejaman atau keanehan yang dihadapinya.

Dua cerpen itu diambil dari sudut pandang orang pertama, sehingga dari Mr Know All, Somerset Maugham dituduh seorang rasis. Tapi “Of Human Bondage” katanya juga bersifat otobiografis, apakah sudut pandang orang pertama kerap jadi kekhasan karya Maugham?

Hmm, mungkin sebelum melangkah ke full length novel, saya masih harus mampir dulu di cerita pendek agak panjangnya, yang dibilang cerpen terbaiknya, “Rain“.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

91 tahun Roald Dahl

Comments isyana — September 27, 2007 / 4:33 pm

Oke, tanggal tepatnya sebenarnya sudah lewat. 13 September lalu. Tapi mumpung bulannya belum habis (bisssaa aja), nggak ada salahnya momen itu diperingati.

Roald Dahl memang lebih dikenal sebagai penulis cerita anak-anak. Matilda, Charlie and the Chocolate Factory, BFG, The Marvellous Mr Fox, Danny Champion of the World, adalah beberapa di antaranya. Sebagai penulis cerita anak-anak, saya mengingat Dahl sebagai penulis yang sangat piawai menghidupkan kata. Penggambaran-penggambaran yang diberikannya selalu memunculkan reaksi, mulai dari jijik, takut, berdebar, sedih, simpati, mencintai, sampai lapar dan mulut berliur (sampai sekarang, di kepala saya, ada sebuah ide tersendiri akan rasa-rasa coklat buatan Willy Wonka yang tak saya dapatkan dari coklat-coklat di pasaran…menghela nafas).

Tapi, baru beberapa tahun lalu saya menyadari bahwa Dahl juga ‘bisa’ menulis untuk orang dewasa. ‘Skin‘, kumpulan cerita pendeknya, adalah yang pertama yang saya baca. Baru membaca cerita pertama, ih, saya sudah bergidik ngeri. Cerpen-cerpen Dahl ternyata terkesan sangat nyaman membangun kengerian. Skenario kejadian yang awalnya terkesan sehari-hari, tiba-tiba berbatasan dengan kekejaman yang agak absurd. Dan dari situ saya menyadari, cerita anak-anak Dahl juga sebenarnya tak kalah mengerikannya. Orangtua Matilda dan kepala sekolah Miss Trunchbull di ‘Matilda’ contohnya. Atau anak laki-laki berusia tujuh tahun yang harus melanjutkan sisa hidupnya sebagai seekor tikus di “The Witches”. Imogen Russell Williams dari The Guardian mendaftar keberatan-keberatan lain dari para orang dewasa tentang karya anak-anak Dahl.

Kekuatan Dahl mungkin memang di situ, bisa menuliskan kekejaman yang gelap yang dibangun lewat bahasa dan imaji keseharian. Juga lewat ritme. Sekedar memberi gambaran, saya sertakan pranala ke “Lamb to the Slaughter“.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Cucu Phoenix Jackson

Comments isyana — September 27, 2007 / 12:15 pm

Saat membolak-balik “The Eye of the Story”, buku kumpulan esai karya Eudora Welty—awalnya saya ingin mengutip sesuatu darinya tentang Chekhov—saya menemukan sebuah judul menarik, “Is Phoenix Jackson’s Grandson Really Dead?”

Judul yang merupakan pertanyaan itu merujuk pada pertanyaan yang paling sering diterima Welty lewat surat-surat dari pembacanya tentang sebuah cerpen berjudul “A Worn Path”. Cerpennya pernah saya sebut-sebut di blog ini. (Buat yang sudah membaca cerpennya, apakah pertanyaan itu juga muncul? Sebagai penulis, lewat “A Worn Path”, kekuatan Welty sepertinya terletak pada fokus yang diletakkannya akan perjalanan nenek Phoenix Jackson itu, sehingga mati atau tidaknya si cucu sepertinya bukan bagian penting dari cerita. Atau?)

Esai itu, secara tak langsung, juga memberikan pelajaran tentang cara-cara membaca karya fiksi dan apa-apa yang harus diperhatikan oleh seorang penulis. Awalnya hanya ingin mengutip sedikit-sedikit apa yang dikatakan Welty, tapi saya tak ingin mengencerkan apa yang sudah jadi sebuah kesatuan padat. Jadi, inilah terjemahan esai itu. Jika ada kalimat yang kurang pas pilihan bahasanya atau konteks terjemahannya, silahkan memberi tahu. Selamat menikmati.

“Apakah Cucu Phoenix Jackson Sebenarnya Sudah Mati?”

Seorang penulis cerita akan sangat bahagia ketika karyanya dibaca oleh para pelajar; ketika pembaca-pembaca serius ini berpikir dan merasakan sesuatu setelah menyimak karyanya adalah sebuah pengalaman yang menghidupkan si penulis. Di saat bersamaan, si penulis mungkin tidak selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik pembacanya dengan baik. Saya berandai-andai, akankah membantu mengklarifikasi sesuatu, jika saya menyiapkan jawaban umum atas pertanyaan terbanyak yang saya terima lewat surat, dari guru maupun muridnya, setelah sebuah diskusi kelas. Pertanyaan favorit yang tak punya saingan kuat adalah: “Apakah cucu Phoenix Jackson sebenarnya sudah mati?”

Pertanyaan ini merujuk pada sebuah cerita pendek yang saya tulis bertahun-tahun lalu berjudul “A Worn Path” yang menceritakan tentang perjalanan sehari seorang perempuan tua dari pekatnya kedalaman hutan menuju kota dan menuju tempat praktek dokter dengan berjalan kaki demi cucu laki-lakinya; si cucu ditinggal di rumah, sakit secara periodik, dan secara periodik pula Phoenix Jackson meminta obat untuk cucunya; mereka memberikan obatnya seperti biasa, nenek itu menerimanya dan mengulang kembali perjalanannya untuk pulang.

Saya tidak bermaksud untuk membuat pembaca menebak-nebak dengan menyembunyikan fakta apa pun; bukan urusan penulis untuk membuat penasaran. Cerita ini ditulis lewat pikiran Phoenix saat mendapatkan keperluannya. Sebagai penulis yang menyatu dengan karakternya saat menulis cerita, saya harus berasumsi bahwa anak laki-laki itu masih hidup. Sebagai pembaca, anda bebas untuk memikirkan semua kemungkinan yang anda suka, tapi: cerita ini mengundang anda untuk percaya bahwa apa pun yang akan terjadi, Phoenix akan tetap melakukan perjalanan itu selama ia mampu berjalan dan berpegang pada tujuannya. Kemungkinan bahwa Phoenix akan tetap melakukan tugasnya bahkan saat cucunya sudah meninggal terasa dalam pengabdian dan keteguhan menjalankannya. Tentunya, kejujuran artistik, yang seharusnya sudah mencukupi sebagai sebuah fakta, terdapat pada jawaban Phoenix akan pertanyaan itu. Saat seorang perawat bertanya, “Dia tidak mati kan?” Phoenix menjawab sendiri: “Dia masih sama. Dia akan bertahan.”

Cucu itu adalah insentifnya. Tapi perjalanan itulah, upaya mendapatkan keperluan itu, yang jadi ceritanya, dan pertanyaannya tidak terletak pada apakah sebenarnya si cucu masih hidup atau sudah meninggal. Jawaban atas pertanyaan itu tidak mempengaruhi hasil cerita atau makna cerita itu dari awal sampai akhir. Sebenarnya bukan pertanyaan itu yang membuat saya terhenyak, melainkan pemikiran bahwa jika si cucu meninggal, maka ceritanya akan menjadi lebih baik. Kesan ini, tanpa kecuali, terimplikasi setiap kali pertanyaan itu diajukan.

Saya ingin mengatakan pada para pelajar yang mengirimi saya surat bahwa tidak ada yang salah ketika kenyataan adalah apa yang sudah digambarkan, dan tidak ada yang salah ketika kata-kata punya makna sama seperti yang diucapkan. Dan tidak apa-apa pula ketika kata-kata dan tampilan bisa berarti lebih dari apa yang sudah disampaikan atau ditunjukkan—ambiguitas adalah sebuah kenyataan hidup. Tanggung jawab penulis fiksi tidak hanya terletak pada apa yang ia berikan pada pembaca sebagai fakta dari sebuah given story tapi juga pada apa yang dipilihnya untuk jadi implikasi dari cerita yang sudah terbangun itu. Pada akhirnya, implikasi-implikasi ini juga akan jadi fakta dalam artian fiksi yang lebih luas. Tapi menjadi apa-apa, atas dasar prasangka baik, ketika sesuatu dimaknai berbeda dari apa yang diucapkan.

Pergulatan sang cucu adalah sesuatu yang nyata dan bagian dari kejujuran sebuah cerita, cerita tentang pelaksanaan sebuah tugas atas nama cinta. Jika si anak tak lagi hidup, maka kenyataan itu akan tetap muncul pada “buruknya” jalur yang harus dilalui Phoenix. Tapi kematian si cucu tidak dapat memperdalam kebenaran cerita itu, tidak dapat mempengaruhi kebenarannya dengan cara apa pun. Saya rasa saya sudah memberi petunjuk pada hal itu, karena ceritanya mencapai akhir sebelum Phoenix tua sampai di rumah: ia memulai kembali perjalanan itu. Atas pertanyaan “Apakah si cucu sebenarnya sudah meninggal?” saya dapat menyatakan bahwa jawabannya tidak menjadikan ceritanya berbeda. Saya juga dapat mengatakan bahwa karakter si cucu tidak saya buat agar sekedar jadi jebakan untuk Phoenix. Tapi jawaban terbaik saya adalah: “Phoenix masih hidup”.

Sumber sebuah cerita kadang bisa menjadi petunjuk yang dapat dipercaya bagi si penulis—atau dapat memberikannya petunjuk—pada subyek utamanya; dalam hal ini mungkin ia bisa berfungsi sama bagi pembacanya. Suatu hari saya melihat seorang perempuan tua seperti Phoenix. Dia sedang berjalan sendirian; saya melihatnya, dalam jarak pandang tanggung, di tengah lanskap hutan musim dingin, dan mengamatinya secara perlahan berjalan sepanjang batas penglihatan saya. Melihat perempuan tua itu membuat saya menulis cerita ini. Saya menciptakan sebuah keperluan untuk perempuan itu, tapi itu hanya jadi bagian kecil dari figurnya sendiri: keperluan apa yang dapat membuatnya pergi selain ada seseorang yang memaksanya? Kepergiannya adalah hal penting, ketahanannya menghadapi kondisi alam adalah hal nyata, dan ‘penting’ dan ‘nyata’ adalah hal yang ingin saya simpan dan saya upayakan untuk tetap muncul. Lewat imajinasi, saya membawanya cukup dekat untuk dideskripsikan wajahnya, membuatnya hadir di mata pengamatnya, tapi bayangan akan figur tubuh yang berjalan menyeberangi lapangan di musim dingin adalah imaji yang tersimpan dan tak dapat terhapuskan, dan perspektif yang menghilang ke kejauhan adalah kenyataan yang patut dicatat.

Ketika menulis, saya menciptakan untuk karakter saya beberapa petualangan—mimpi-mimpi dan kegagalan-kegagalan dan satu atau dua keberhasilan kecil, beberapa dorongan semangat untuk kebanggaan pribadinya, beberapa fantasi indah untuk menghiburnya, satu atau dua peristiwa yang membuatnya ketakutan, momen yang membuatnya merasa malu, momen untuk menari dan bersolek—karena ini seharusnya adalah sebuah perjalanan, dan semua hal di atas adalah bagian dari perjalanan itu, tak lepas dari ketidaktentuan hidup.

Benang naratif, dalam artian yang lebih dalam, tentu saja merupakan sebuah petunjuk proses pencarian jejak akan makna, dan kontinuitas yang sebenarnya pada sebuah cerita terletak pada majunya proses itu. Kekuatan dramatis yang sebenarnya dari sebuah cerita bergantung pada dashyatnya emosi yang memunculkan cerita itu. Nilai emosionalnya adalah ukuran kemampuan jangkauan cerita tersebut. Jika ada setitik kepuasan untuk “A Worn Path”, maka kepuasan itu bukan berasal dari situasinya tapi dari subyeknya: sebuah kebiasaan yang punya akar dalam bernama cinta.

Dari semua aspek yang mengelilingi cerita ini, dunia yang jadi bagian dari plot cerita, yang saya harapkan menjadi jelas adalah jalur rusak itu merupakan satu-satunya kepastian. Kebiasaan atas nama cinta itu membantu memotong kebingungan dan ketika bangkit dari jatuh atau menemukan jalan keluar dari kesulitan. Kebiasaan ini bahkan membantu mengingatkan jalan ketika cinta itu, pada satu saat, lupa akan alasan keberadaannya. Jalan kecil ini adalah satu-satunya hal yang penting.

Kemenangan Phoenix adalah saat ia melihat diploma yang tergantung di kantor si dokter, saat ia menemukan, “nailed up on the wall the document that had been stamped with the gold seal and framed in the gold frame, which matched the dream that was hung up in her head”. Kepulangannya dengan membawa obat hanya masalah mengikuti jejak langkah yang sudah dibuatnya. Kepulangannya adalah bagian dari perjalanan, dan bagian dari cerita, tanpa perlu dijelaskan lagi.

Jika anda adalah penulis cerita, jalan yang ditempuh Phoenix tua bisa berfungsi paralel dengan cara kerja anda. Menuju ke sana adalah masalah yang paling penting dan paling menyerap tenaga, dan masalah inilah yang jadi alasan untuk menuliskan cerita itu. Satu-satunya petunjuk anda adalah keyakinan akan subyek yang dikerjakan, tentang apa subyek ini sebenarnya. Seperti Phoenix, anda bekerja seumur hidup untuk menemukan jalan anda, menembus semua halangan atau tampilan palsu dan kesedihan-kesedihan yang anda bawa sendiri, untuk tiba pada sebuah makna—menggunakan ciptaan-ciptaan imajinasi anda, mungkin dibantu sedikit dengan mimpi dan serpihan keberuntungan. Dan akhirnya, seperti Phoenix, anda harus berasumsi bahwa, dalam bekerja, yang anda bantu adalah kehidupan, bukan kematian.

Tapi anda tetap akan melakukan perjalanan ini kan, walaupun hanya bersandar pada sebuah harapan?

(Eudora Welty, 1974)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL UPDATES

FEATURED POSTS

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...