You're here: My Writing Blogging » Teroka Cerpen
Gara-gara membaca halaman tentang Eudora Welty di Wikipedia, jadi menemukan kutipan dari Alice Munro yang mengatakan bahwa cerpen ‘A Worn Path‘ mungkin adalah cerpen paling sempurna yang pernah ditulis.
Oke, status kutipannya Munro memang masih ‘citation needed’, tapi saya langsung mencari cerpen yang dimaksud itu.
Membacanya seperti benar-benar menemukan esensi dari gaya penulisan Welty. Identitas Welty sebagai seorang penulis cerita pendek. Elemen-elemen yang sangat khas Welty tersebar di sana. Mulai caranya yang empatik menggambarkan karakter orang kulit hitam….sebentar, saya harus berhenti sejenak.
Kalau dipikir-pikir lagi, Welty sebenarnya tidak hanya empatik ketika menceritakan orang-orang kulit berwarna, tapi juga ketika menceritakan karakter-karakternya yang lain. Seorang humanis universal ya ungkapan tepatnya?
Lalu juga dialog-dialognya yang terkesan life-like dan penuh dengan warna lokal. Itu juga sesuatu yang menurut saya khas Welty.
Oke, tentang cerpennya. Saya mulai menyetujui ‘kutipan’ (karena belum ada sumbernya) Munro itu. Dilihat dari bentuknya saya merasa bahwa ‘A Worn Path’ sempurna sebagai sebuah cerpen.
Welty menghabiskan sekitar 2/5 bagian awal cerita pendek itu untuk menggambarkan perjuangan seorang nenek bernama Phoenix Jackson untuk menembus hutan. Menggambarkan secara detil tentang apa-apa yang ditemuinya, bukan saja dengan indera penglihatan, tapi juga dengan bebunyian yang dihasilkan dan bebauan yang muncul.
Dengan deskripsi seperti ini:
Her eyes were blue with age. Her skin had a pattern all its own of numberless branching wrinkles and as though a whole little tree stood in the middle of her forehead, but a golden color ran underneath, and the two knobs of her cheeks were illumined by a yellow burning under the dark. Under the red rag her hair came down on her neck in the frailest of ringlets, still black, and with an odor like copper.
kekuatan kata-kata tengah digunakan semaksimal mungkin untuk membentuk sebuah cerita.
Membaca 2/5 bagian awal cerpen itu benar-benar membuat saya merasa bahwa saya sedang membaca cerpen. Saya tidak merasa tengah menonton film.
Ya iyalah.
Tapi begini lho maksudnya, setiap medium kan seharusnya memiliki kekuatannya masing-masing kan? Memiliki sifat kekhasannya masing-masing. Film seharusnya punya sifat dan kekuatan yang berbeda dari cerpen atau novel atau lagu. Nah, “A Worn Path” menurut saya menunjukkan kekhasannya sebagai sebuah cerpen. ‘Produk’ yang berbentuk seperti “A Worn Path” itu ‘hanya’ bisa muncul dalam bentuk cerpen.
Dalam artian itulah, menurut saya, “A Worn Path” menjadi sebuah cerpen yang sempurna. Karena ia benar-benar menjalankan fungsinya sebagai sebuah cerpen. Ia menunjukkan kekhasan sebuah medium bernama cerpen.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Mungkin sebenarnya agak terlambat untuk mulai bicara tentang pertentangan antara the-so-called sastra liberal dan non liberal. Sayyid pun sudah mendokumentasikannya dengan baik di Lentera Susastra (oh ya, sebenarnya Minggu [19/8] lalu masih ada perkembangannya lebih lanjut, nanti coba saya masukkan link-nya ke sini). Jadi, apa yang masih tersisa?
Buat saya perdebatan yang berlarut-larut ini malah jadi refleksi ketidakdewasaan pihak-pihak yang berseteru. Bagaimana tidak dewasa? Mungkin ini sebuah pengamatan subyektif, tapi dari esai-esai yang saling membalas itu, kok malah terasanya ada nada puas ketika sang lawan berhasil dihajar. Seperti tidak ada bedanya dengan bergosip untuk membunuh karakter lawan. Mereka yang terlibat malah terlihat sibuk membangun strategi perlawanan daripada sekedar mempertahankan prinsip, atau apa pun alasan yang digunakan.
Saya tidak percaya dengan kubu dalam sastra. Ellsworth Toohey mungkin cuma sekedar tokoh fiksi, tapi ia berhasil mempengaruhi saya untuk percaya pada penilaian diri sendiri. Saya sudah melihat Ellsworth Toohey-Ellsworth Toohey lain dan mereka tak jauh beda dengan yang asli.
April 2006 lalu, Sutardji Calzoum Bachri juga sempat bilang seperti ini:
“Semangat cari gampang ini, akhirnya melahirkan para sastrawan medioker. Para medioker tidak punya semangat hidup seribu tahun lagi, tapi sekadar ingin survive sesaat. Atau ingin dianggap berarti dan cukup puas menghadiri komunitasnya. Penulis antologi puisi O, Amuk dan Kapak ini, melihat asyik masyuk dalam komunitas sendiri, menjadi jago kandang, melahirkan sastrawan silaturahmi. Dalam bentuk lain, komunitas ini jika maju dan berkembang akan memperkenalkan satu bentuk sastra Gilda. “Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji,” tegas Sutardji.
Peraih penghargaan Pulitzer 1973, Eudora Welty juga tampaknya bukan orang yang membutuhkan kehadiran sebuah kubu, kok.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan ini, bahwa pengalaman pribadi tidak kalah berharganya dari pengalaman kolektif. Sederhana memang, tapi dari perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini, kenapa masih merasa butuh banyak-banyakan massa sih hanya sekedar untuk menentukan standar selera estetika?
Pembaca kan bukan orang-orang bodoh yang butuh diarahkan ke kanan dan ke kiri kan?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Sebuah ‘kencan’ yang lebih mirip telaah sastra membuat saya kembali membolak-balik kumcer ‘Seribu Kunang-kunang di Manhattan’. Terutamanya pada ‘Musim Gugur Kembali di Connecticut’. Saya mengingatnya samar-samar sebagai cerpen yang isinya tentang hari terakhir seorang laki-laki yang dituduh terlibat aktivitas komunisme dan akan dijemput untuk ditembak. Saya juga ingat ada seorang istri yang hamil, komentar tentang ukuran payudaranya yang makin membesar, dan banyak aktivitas berciuman.
Membacanya lagi, ada satu bagian yang membuat saya semakin merunduk takzim di hadapan Umar Kayam. Rujukannya pada penulis Carson McCullers. Membaca namanya di cerpen itu, membuat saya menahan nafas dan berkata, ‘Damn!’
Pak Ageng ternyata masih punya beberapa trik lagi tersimpan di balik lengan bajunya.
Bukan hanya menyebut McCullers, tapi juga Hemingway, Faulkner dan Steinbeck (the usual suspects, sepertinya), dan Salinger (hah!), Bellow juga Updike. Lainnya ada Dostoyevski, Stendhal, Rabelais, Shakespeare, Beckett, Genet, Darmagandhul, Centini dan Babad Tanah Jawi. Dan, oh, filmnya Ingmar Bergman, The Virgin Spring.
Tapi, dari semua itu, referensinya pada Carson McCullers-lah yang paling membuat saya tercekat. Sama seperti saat saya mengetahui Salinger adalah penulis favorit Umar Kayam, semuanya jadi terasa logis buat saya. Sangat subyektif memang. Tapi saya jadi mengerti kenapa saya menyukai keduanya. Dan sekarang, dengan Carson McCullers, ah.
Saya jadi semakin kehilangan Pak Ageng.
Maksudnya, saya pernah tinggal di kota yang sama dengan beliau selama enam tahun. Kompleks rumah kami di Jakarta juga sebenarnya berdekatan. Ada seorang paman ibu yang pernah bersamanya di Cornell. Bahkan Pak Kayam juga sempat ikut melayat ketika paman ibu saya itu meninggal. Dari semua waktu dan masa itu, ternyata banyak hal yang bisa ditanyakan ke beliau. Kalau saja kita pernah ketemu. Salinger, Hemingway, sekarang McCullers.
Tapi, cerpen ‘Musim Gugur…’ memang sebuah karya yang dashyat. Ia bisa maju, mundur, meloncat dalam penceritaan tentang masa lalu dan masa sekarang Tono, si karakter utama. Setting waktu yang sebenarnya hanya satu hari itu jadi padat dengan cerita tentang ‘perseteruan’ Tono dengan devil’s advocate-nya, Samsu di masa lalu, sampai ke ide cerita yang tengah digarapnya tentang hubungan segitiga istri-suami-babu. Tapi, adegan hari terakhirnya bersama istrinya itu juga sangat manis. Makan bersama, mandi bersama, percakapan ’serius’ di kamar mandi. Sampai di bagian akhir, walaupun tak menyenangkan bagi Tono, tapi buat saya semuanya jadi terasa pas. Ritme dan kisah dan adegan, semuanya jadi terasa sempurna.
Bertambah satu lagi daftar cerpen favorit.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Saya sudah lama hilang harapan dengan lemari buku ibu saya. Atau ayah saya. Terakhir kali membongkar-bongkar dan mengecek apakah ada judul-judul ‘penting’ yang perlu dicermati itu waktu SMP. Sekarang, kumpulan kolomnya Umar Kayam (lengkap) sudah selesai dibaca. Oh, masih ada ‘Sybil’ sebenarnya yang belum selesai-selesai dibaca. Tapi, setelah itu, tidak ada lagi yang tampaknya cukup menarik untuk digali. Kebanyakan isinya buku-buku manajemen atau teori-teori assessment.
Jadi, sangat mengagetkan sebenarnya, ketika lagi iseng-iseng melihat ke arah deretan buku kok tertumbuk pada nama Sartre. Aneh, karena, pertama, saya tidak bisa membayangkan ibu saya pernah ‘berkenalan’ dengan Sartre. Maksudnya, aku kenal beberapa ‘eksistensialis’, tapi ibu saya sepertinya “doesn’t fit the bill”, istilahnya. Oke, beliau memang belajar psikologi. Tapi pekerjaannya bukan sesuatu yang ‘eksotis’, yang menangani korban-korban apalah, hehe. Dia lebih pada tipe korporat. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, bagaimana Sartre bisa menyelusup masuk ke lemari buku itu.
Nah, yang lebih membuat kaget, judul bukunya “Intimacy: The Brilliant Study of the Corruption of Love” dengan sampul buku yang…duh, benar-benar pose intim. Pas membacanya di angkot saja sampai harus terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak mengangkat sampulnya. Isinya lima cerita pendek yang “menunjukkan tentang kehidupan dari sudut yang baru. Di sini jiwa manusia ditelanjangi dari bungkus peradaban dan lapisan pengalaman dikupas dengan bakat yang tajam–hanya untuk menunjukkan kedalaman opresi pribadi, sensualitas dan neurosis zaman kita dan kejahatan yang menguasai, tempat kejatuhan manusia modern.”
Riset sebentar, Amazon ternyata punya stok yang terbatas akan buku ini. Komentatornya pun baru satu orang. Di daftar yang diajukan pengunjungnya, katanya buku ini memang karya Sartre yang tidak begitu dikenal orang, tapi ada yang berkomentar “his fiction will last longer much more than his silly philosophy” (haha).
Ketawa itu muncul karena, setelah membaca cerpen pertamanya, “Intimacy”, saya tidak yakin apakah saya akan baik-baik saja dengan Sartre. Maksudnya, perbandingan yang ditampilkan antara Lulu si istri yang penuh hasrat dan Henri sebagai suami yang ‘dingin’ dan kaku, menurutku terlalu…apa ya? Klise, sepertinya. Agak stereotip. Seperti pernah membacanya di tempat lain.
Format yang ditampilkan memang agak gila, walaupun saya tidak menyukainya. Sartre ‘hanya’ mengikuti jalan pikiran karakter yang ditulisnya saja. Tak perlu penjelasan panjang-panjang tentang apa yang mereka lakukan atau di mana mereka sekarang. Hanya menuliskan jalan pikirannya saja. Salut untuk energinya mendaftar ‘neurosis’ (benar seperti jaket bukunya) karakter-karakternya walaupun saya tidak menikmatinya.
Anehnya, walaupun saya tidak menikmatinya, kok masih penasaran ya untuk menyelesaikan kumpulan cerpen ini. Heran, kok ada penulis yang membuat saya merasa annoyed tapi juga merasa penasaran di saat bersamaan. Jangan-jangan Simone de Beauvoir juga merasakan hal yang sama ya? Hehe.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
James Joyce adalah sosok yang, buat saya, menakutkan. Ulyssess-nya, setelah hanya membolak-balik beberapa halaman, intimidatif. Portrait of a Young Artist-nya juga, di tangan saya, bernasib sama. Nah, Dubliners (kumpulan cerita pendeknya) katanya adalah sebuah peralihan, dari bentuk narasi yang konvensional ke bentuk modernis yang dicapainya lewat Ulysses.
Benarkah?
Saya masih harus membuktikan sih. Soalnya liburan kemarin yang membuat saya memberanikan diri mengepak Dubliners ternyata juga tidak memberi efek berarti. Ia masih tetap tersimpan dalam koper. (Saya punya teori, ketika liburan, kita menjadi orang yang berbeda dari siapa kita sebenarnya. Jadi, kita makan hal-hal yang berbeda, memakai baju yang berbeda, punya cara bicara yang berbeda, dan termasuk membaca hal-hal yang biasanya tidak berani kita baca di kehidupan ‘nyata’).
Tapi, berputar-putar ke situs The Guardian dan mengecek daftar Top 10-nya, ternyata menemukan 10 rekomendasi untuk kumpulan cerita pendek. Dubliners termasuk salah satu di antaranya. Katanya si pemberi rekomendasi:
Joyce wrote (arguably) the greatest novel of the last century, but only after hehad written (unarguably) the greatest short story ever: The Dead.
Sedikit ringkasan dan analisis, ada di sini. Dan ternyata cerpen ini pernah jadi sebuah musikal produksi Broadway (!) (Sebuah cerpen Joyce? Musikal?) yang salah satu bintangnya adalah Christopher Walken.
Oh ya, daftar rekomendasi itu juga mengingatkan akan Hemingway. Reputasinya kan sebagai salah satu penulis cerpen terbaik. Tampaknya harus digali ulang nih, mencari koleksi cerpennya Hemingway. YOI memang pernah menerbitkan ‘Salju di Kilimanjaro’. Tapi seingatku, ada rasa pusing dan mual setelah membacanya karena translasi yang tidak keruan…
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Iseng-iseng berkunjung ke situsnya Chuck Palahniuk, penulis ‘Fight Club’ dan cerpen ‘Guts’ yang pernah saya sertakan link-nya di bawah. Yang saya temukan adalah sebuah link ke sebuah berita tentang kejadian mirip dengan cerpen ‘Guts’ itu.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Hanya sekedar info acara yang saya dapat per email.
SIARAN PERS Lampion Sastra ”SASTRA TAMASYA” (Pembacaan Catatan Perjalanan) 20 Juli 2007 Teater Kecil, TIM Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan ”SASTRA TAMASYA” (Pembacaan Catatan Perjalanan) yang akan diselenggarakan pada Jumat, 20 Juli 2007, pukul 17.00 WIB–selesai, bertempat di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan “Lampion Sastra” yang diselenggarakan oleh Komite Sastra setiap bulannya. Sastra tamasya (travelogue) merupakan catatan perjalanan yang mempunyai nilai sastra. Sastra tamasya kerap merekam manusia, peristiwa, perasaan dan kesan si pengarang selama melakukan perjalanan ke negeri (atau daerah) asing untuk tujuan kesenangan tamasya. Ini akan membedakannya dengan perjalanan dinas atau perjalanan dengan tujuan tertentu lainnya. Pengarang kita belum banyak menyentuh genre karangan yang satu ini. Padahal, sastra tamasya menyediakan sejumlah kemungkinan penulisan sastra. Ia mungkin tidak menyediakan kebulatan naratif yang selama ini dituntut dari sebuah prosa. Tetapi ia memberikan kepada kita serentetan kisah yang sangat erat hubungannya dengan perubahan psikologi si pengarang saat berhadapan dengan yang lain (the other), dunia baru dengan manusia, peristiwa, dan segala hal di dalamnya. Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta kali ini akan menampilkan pembacaan sejumlah travelogue karya Adinegoro, Asrul Sani, Felicitas Hope, Matsuo Basho, Seno Joko Suyono, dan Witold Gombrowizc. Yang akan membacakan karya mereka adalah Alex Komang, Irfan Ardhianto, Noersan Guntur, dan Yulisza Syahtiany. Dari karya-karya mereka kita bisa mengapresiasi sekaligus belajar tentang sebuah alternatif penulisan sastra. Lebih jauh dari itu kita bisa secara bersama-sama ikut mengalami persentuhan dengan dunia luar, dan menghirup berbagai pengalaman baru tentangnya. Sengaja kami sandingkan para pengarang Indonesia dengan dunia agar kita bisa mendapatkan cakrawala yang lumayan beragam. Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Ayu Utami Nukila Amal Zen Hae Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: Ananda (0816 186 2047/e: ananditya@yahoo.com). Dewan Kesenian Jakarta Jl. Cikini Raya 73, Jakarta 10330, Indonesia T: 021-3193 7639 / 316 2780 / 3989 9634 F: 021-3192 4616
Hmm, saya sebenarnya bertanya-tanya seberapa ‘layak’ sebuah sastra tamasya atau travelogue masuk dalam blog berkategori cerpen. Tapi Lampion Sastra edisi-edisi sebelumnya kan memang terus-menerus memunculkan atau mengenalkan prosa dan cerpen dalam berbagai bentuknya.
Kalau menurut bagian yang saya miringkan di atas, bahwa kita bisa belajar sesuatu dari genre yang belum banyak tergarap dalam penulisan sastra padahal ada unsur perubahan psikologi penulisnya ketika berhadapan dengan berbagai unsur baru, maka…apa pun atas nama belajar, kan seharusnya?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Uh oh. Kecepatanku membaca cerpen ternyata tidak setinggi yang diharapkan. Dari rencana akhir pekan yang ingin menghabiskan “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” dan membacanya berganti-gantian dengan “Nine Stories”, aku baru membaca dua cerpen dari masing-masing buku. Tapi, oke, karena sudah berjanji…
Sebelumnya, harus dicatat, metode yang dipakai memang setengah wacko walaupun sebenarnya sangat sederhana. ‘Keilmiahan’ memang amat bisa dipertanyakan. Tapi begini, kalau pak Kayam memfavoritkan Salinger, setidaknya ada struktur atau gaya penceritaan yang diamati benar-benar dan bukan tak mungkin akhirnya teresap dan nggak sengaja muncul juga di cerpen-cerpen pak Kayam kan?
Jadi, yang aku lakukan, pertama membaca satu novel dari “Nine Stories” atau “Esme, For Love and Squalor” lalu satu dari “Seribu Kunang-kunang…”
Cerpen pertama, “A Perfect Day for Bananafish” (Aneh. Teksnya kok begitu mudah ditemukan di internet ya? Salinger kan orang yang sangat paranoid dengan melindungi karya-karyanya. Bahkan dia bisa menutup satu situs karena memasang karyanya tanpa izin hak cipta). Cerita ini, menurutku, sebuah cerpen yang signifikan dalam kronologi tentang keluarga Glass, keluarga yang anak-anaknya jenius semua dan menjadi subyek dalam beberapa cerpen dan novel Salinger. “Franny and Zooey”, salah satunya.
Di cerpen ini, Salinger menceritakan tentang hari bunuh dirinya kakak tertua Franny dan Zooey, Seymour. Adegan dibuka dengan mempelai perempuan Seymour, Muriel dan percakapannya dengan ibunya. Seperti biasa, dialog-dialog Salinger benar-benar papan atas. Life-like. Tapi rasanya dia tidak berusaha terlalu keras untuk menjadikan dialog itu luwes. Terasa alamiah.
Karakter-karakter Salinger yang kharismatis…hmmm, semuanya kharismatis sih, cuma kok sepertinya, buatku Holden dan Seymour berada di satu kelompok yang sama ya? Dan salah satu ‘pemersatunya’ adalah kecintaan dan kepercayaan mereka pada anak-anak. Bahwa anak-anaklah mahluk-mahluk jujur yang dekat pada ‘cahaya kebenaran’. Istilahnya Salinger. Di “Franny and Zooey”, karakter Seymour itu sekedar terasa. Di “A Perfect Day…”, Salinger mengajukan bukti.
“Seribu Kunang-kunang…” juga menaruh kekuatannya pada dialog.
Oh ya, sebelum membahas lebih jauh, ada sesuatu yang aku catat. Ternyata, dari jaman cerita itu ditulis sampai masanya wanita-wanita Sex and the City itu muncul, yang namanya martini itu selalu identik dengan Manhattan. Kenapa ya? Di cerpen itu, Jane-nya bolak-balik membuat martini.
Oke, balik ke dialog. Dari situ terasa ada sesuatu yang agak mirip. Tapi, membandingkan keduanya, aku menemukan ini. Jane di “Seribu Kunang-kunang…” diberikan ‘properti panggung’ seperti piyama yang sudah dibelikan untuk Marno tapi tak dibawa pulang, Marno yang tak jadi menginap dan (sepertinya) nggak akan menelpon, dan obat tidur. Rasa kesepiannya tampak ditonjolkan lewat kejadian dan properti itu. Tapi Seymour, aku jadi bertanya-tanya, apa ya yang membuatnya bunuh diri. Kesepiankah? Kemarahannya atau ketidakpercayaannya akan dunia? Keputusasaannya menghadapi kenyataan bahwa anak-anak pada akhirnya akan menjadi orang dewasa dan dia…akan kembali sendiri?
Mengenal Seymour juga aku coba lakukan lewat “Raise High the Roofbeam, Carpenter”, cerita tentang hari pernikahan Seymour yang tidak berlangsung ‘normal’ dilihat dari kacamata Buddy, adiknya yang kedua. Di salah satu adegan, Buddy membaca tulisan tangan adik mereka, Boo Boo, di cermin kamar mandi, menggunakan lipstik. Katanya, “Be happy”.
Garuk-garuk kepala Apa ya yang membuat Seymour melakukannya. Ada beberapa tebakan liar, tapi belum ada yang, menurutku, terasa ‘pas’.
Keluarga favorit Salinger ini tampaknya tidak sejernih namanya untuk ‘dibaca’.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Berputar-putar di Bookslut edisi terbaru dan menemukan sebuah esai dengan argumen kreatif. Isinya, pembuktian penulisnya, Weston Cutter, seorang lelaki, yang berani mengatakan: American women are better short story writers than American men.
Sebetulnya, aku perlu membaca ulang esai itu dan memikirkan sejauh mana ‘kebenaran’ esai itu, setidaknya dari cara penyusunan bukti-buktinya. Tapi untuk argumen dasarnya yang menarik itu, esai itu patut mendapat sebutan di sini.
Dan, berbicara tentang argumentasi tentang karya yang lebih ‘baik’ atau lebih…hmm…jelek? Tidak baik? Sulit memilih ungkapan tepatnya. Oke, aku bakal memakai istilah ‘lebih baik dibanding yang lain’. Ternyata pemilihan Cerpen Terbaik Kompas 2005-2006 mendapat beberapa komentar.
Nah, ini yang dari dulu aku penasaran tapi nggak pernah terjawab secara sempurna. Kenapa sih juri yang namanya disebut di komentar-komentar itu selalu jadi sasaran tembak? Maksudnya, apakah sumber daya dan kekuatan yang dimilikinya setara seperti Ellsworth Toohey?
Oh ya, esai di Bookslut itu mengingatkanku bahwa situs The New Yorker juga punya koleksi cerpen-cerpen. Ada karya penulis “L’Amant” Marguerite Duras, pemenang Nobel Sastra dari Afrika Selatan Nadine Gordimer, dan penulis kontemporer Inggris yang sepertinya ’statusnya’ sebagai penulis sudah menyeberang ke ke-selebriti-an, Zadie Smith.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Akhir minggu ini, sepertinya aku akan mencoba menerapkan teori intertekstualitas dengan membaca berganti-gantian “Nine Stories”-nya JD Salinger dan kumpulan cerita pendeknya Umar Kayam yang “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”. Sekedar eksperimen kecil-kecilan lhoo.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.