Di mana bancinya?

1 comment ikram — August 22, 2008 / 1:55 am

Berita Tempointeraktif ini lumayan membuat bingung. Di mana bancinya?

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) gerah terhadap tayangan kebanci-bancian di televisi. Adegan seorang laki-laki meniru perilaku laki-laki dikawatirkan menimbulkan pengaruh negatif anak-anak

Adegan laki-laki meniru perilaku laki-laki kan nggak bisa dibilang banci, dong :)

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Lowongan Kompas.com

Comments ikram — August 21, 2008 / 10:05 pm

http://www.kompas.com/karir.php

We are an established online news media, focus on Internet technology, multimedia and e-commerce, currently seeking for a professional to fill the following position:

General Requirement :

  • Minimum Bachelor Degree
  • Demonstrates proficiency in creating new ideas/concept
  • Good personality, high integrity and demonstrate the ability to work in a team environment

Reporter (Code: Rep)

  • Minimum Bachelor Degree
  • Interested in writing (open for fresh graduate)
  • Have general knowledge and interested in online journalism
  • Willing to be assigned on shifting schedule

Proofreader (Code: PFR)

<

ul>

  • Minimum Bachelor Degree
  • Excellent knowledge and skills in grammar, editing, writing, and style in both Indonesian and English languages (experience in similar field is preferred)
  • Good personality, high integrity and team work
  • Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Teknologi email tahun 1970-an

    Comments ikram — August 17, 2008 / 6:04 pm

    Saya baru mengetahui kalau ternyata ada teknologi email tahun 1970-an, setelah membaca berita dari Bisnis Indonesia ini. Paragraf terakhirnya berbunyi sebagai berikut:

    Dia menambahkan pegawai tidak menggunakan e-mail perusahaan karena tidak handal, tidak mempunyai infrastruktur sendiri, dan teknologi yang digunakan sudah kuno (tahun 70-an).

    Terlepas dari soal itu, saya kira berita ini kurang lengkap. Ia hanya mengutip keterengan dari orang Indonesia Ferry tentang anggaran telekomunikasi sebelum Mei 2008. Tapi anggaran untuk saat ini? Tidak dijelaskan.

    Alangkah lebih baik kalau wartawan tidak sekedar mengutip informasi dari satu pihak, supaya berita yang ditulis bisa lebih menjelaskan dan tidak bikin bingung.. Ya nggak…

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Bagaimana anda mengukur rasionalitas?

    2 comments ikram — August 11, 2008 / 10:34 pm

    Ada yang menggelitik di berita detikbandung soal kemenangan Dada Rosada dan Ayi Vivananda dalam pemilihan walikota Bandung.

    Seorang pengamat dari Universitas Padjadjaran dikutip mengatakan, ” … masyarakat Bandung dalam memilih lebih rasional dibandingkan saat Pilgub Jabar beberapa waktu yang lalu”.

    Well, saya jadi penasaran. Bagaimana sih caranya mengukur rasionalitas? Mungkinkah rasionalitas ditentukan dari kandidat mana yang menang? Sepertinya segalanya sangat subjektif.


    Masyarakat Bandung Rasional Dalam Memilih Andrian Fauzi - detikBandung

    Bandung - Hasil survey Lingkaran Survey Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP) yang memenangkan pasangan Dada Rosada-Ayi Vivananda (Dada-Ayi) menunjukan masyarakat Kota Bandung rasional. Hal tersebut disampaikan oleh pengamat politik Unpad, Dede Mariana.

    Dalam paparan hasil quick count, disampaikan data distribusi suara satu minggu sebelum hari pencoblosan. Yang menarik dalam data tersebut, sebanyak 33,9 persen pendukung PKS memberikan suaranya untuk pasangan Dada-Ayi.

    “Angka 33,9 persen menunjukan bahwa masyarakat Bandung dalam memilih lebih rasional dibandingkan saat Pilgub Jabar beberapa waktu yang lalu,” kata pengamat politik Unpad Dede Mariana saat ditemui dalam presentasi hasil quick count yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP) di Hotel Savoy Homman, Minggu (10/8/2008).

    Dede juga menambahkan, figur Dada Rosada lah yang membuat pasangan Dada-Ayi menang. “Figur Dada Rosada yang membuat Dada-Ayi menang,” ujarnya.

    Hal senada juga disampaikan oleh direktur LSI Denny JA. “Jika kondisinya Dada Rosada menjadi calon independen, saya yakin Dada akan menang. Figur Dada sangat melekat di masyarakat Kota Bandung. Ini yang tidak dimiliki oleh PKS,” pungkas Denny.

    Berdasarkan hasil quick count LSI dan JIP pasangan Dada-Ayi menang mutlak di seluruh kecamatan di Bandung yang berjumlah 30. Dada berhasil meraih suara 64,37 persen.

    Sedangkan dua kandidat lainnya, yaitu pasangan Taufikurahman-Abu Syauqi hanya memperoleh 26,07 persen dan Hudaya-Nahadi berada di posisi bontot perolehan suara 9,56 persen. Versi SLI tingkat partisipasi sebanyak 66,61 persen.(afz/afz)

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Mengkritisi hubungan antara wartawan dan humas

    3 comments Firman Firdaus — July 21, 2008 / 6:00 pm

    MENARIK sekali posting di milis jurnalisme, sampai-sampai membuat saya harus membaginya di sini :)

    Selama ini, hubungan antara humas sebuah instansi atau perusahaan dan wartawan memang seperti tabu untuk dibahas. Seperti dalam posting itu, hubungan keduanya bersifat simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Namun sejauh mana sebaiknya kemesraan dibina?

    ===========================================

    Hubungan Humas-Wartawan, Jangan Terlalu Mesra

    Oleh: S. SAHALA TUA SARAGIH

    HUBUNGAN antara pejabat (praktisi) hubungan masyarakat (humas) dengan wartawan (biasa pula disebut pers), bagaikan hubungan dua orang teman atau mitra yang saling memerlukan. Hubungan kedua orang yang bermitra tersebut bersifat simbiosis mutualisme (saling membutuhkan). Hubungan mereka saling bergantung (interdependen). Mereka benar-benar saling membutuhkan. Dengan demikian, tak satu pihak pun yang boleh menganggap dirinya lebih tinggi dan penting daripada mitranya. Posisi kedua mitra tersebut setara (sama tinggi, sama rendah), namun peran atau fungsi, motif dan tujuan kegiatan masing-masing saling berbeda.

    Humas di lingkungan lembaga pemerintahan daerah, baik lembaga eksekutif maupun legislatif (DPRD), bekerja atas nama dan untuk rakyat atau masyarakat daerah setempat. Mereka bekerja berdasarkan mandat masyarakat. Oleh karena itu, mereka yang bekerja di pemda dan DPRD wajib melaksanakan isi mandat masyarakat yang diembankan ke atas pundak mereka. Mereka wajib melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat atau membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat yang niscaya sangat beragam.

    Demikian pula halnya dengan wartawan. Mereka bekerja berdasarkan mandat masyarakat. Ada dua hal pokok isi mandat masyarakat yang diembankan kepada lembaga pers, yang diaktualisasikan wartawan, yakni hak tahu dan hak memberitahukan. Wartawan wajib mewujudkan isi kedua hak masyarakat tersebut. Nah, salah satu sumber atau narasumber yang sangat penting yang menjadi mitra kerja wartawan pastilah humas pemda dan humas DPRD. Untuk mewujudkan hak tahu masyarakat, wartawan harus tekun dan gigih mencari fakta-fakta (informasi) penting yang dibutuhkan masyarakat di daerah yang bersangkutan. Agar ini dapat diwujudkan wartawan, humas sebagai mitranya harus selalu siap menjawab pertanyaan dan memenuhi permintaan wartawan akan fakta-fakta penting yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat daerah, yang pasti sangat beraneka.

    Ini berarti humas dan wartawan sesungguhnya sama, yakni sama-sama abdi (pelayan) masyarakat. Bedanya, humas yang umumnya berstatus PNS, pastilah digaji negara melalui lembaga pemerintahan, sedangkan wartawan yang umumnya berstatus pegawai swasta, pastilah digaji perusahaan di mana mereka bekerja. Meskipun status dan jenis instansinya berbeda, namun kedua mitra ini harus benar-benar mampu bekerja sama dengan baik dalam posisi dan sikap saling menghormati dan menghargai mitra masing-masing.

    *5 kiat penting *

    Nah, agar hubungan kemitraan ini dapat berjalan dengan baik dan tujuan mereka dapat diwujudkan secara optimal, yakni melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan sebaik-baiknya, maka ada beberapa hal yang sangat penting dilakukan tiap pejabat atau praktisi humas di lingkungan pemda dan DPRD di Tanah Air.

    Pertama, hubungan humas dengan wartawan bersifat profesional. Selain melayani masyarakat, humas wajib melayani wartawan secara profesional. Humas jangan berhubungan terlalu mesra dengan wartawan. Kedua belah pihak, terutama masyarakat yang mereka layani, pasti rugi bila tak ada jarak yang pas antara humas dengan wartawan. Sebagai ilustrasi, dua sejoli yang saling merapatkan wajah (baca: berciuman) pastilah tak mampu melihat wajah pasangannya dengan cermat karena jarak pandangnya tidak pas. Mata tidak/kurang difungsikan, yang berfungsi hanya perasaan (emosi). Celakanya, bila suatu ketika personel humas berselisih atau bertengkar dengan mitra mesranya (wartawan). Maka akibat buruknya tak saja merugikan kedua belah pihak, tapi terutama merugikan masyarakat yang mereka layani, di samping niscaya merugikan lembaga masing-masing. Tanpa mengurangi hubungan mesra, humas harus senantiasa berinisiatif menjaga jarak yang pas dengan mitra sejajarnya (wartawan). Hubungan kedua belah pihak harus sehat, terhormat, dan bermartabat.

    Di mata wartawan humas harus berwibawa, wibawa yang alamiah, bukan sok berwibawa atau wibawa yang dibuat-buat agar disegani wartawan. Humas yang profesional pastilah cerdas, berpengetahuan sangat luas (terpelajar), disiplin, dan benar-benar menguasai bidang pekerjaannya. Ia juga sanggup menganalisis dengan tajam tiap berita di media massa yang menyangkut daerah, instansi, dan para pejabat pemda/DPRD yang bersangkutan. Dengan demikian, humas mampu memberikan masukan yang baik terhadap para pengambil keputusan di instansi di mana ia bekerja. Humas yang benar-benar mampu bekerja secara profesional, termasuk menjaga jarak yang pas dengan mitranya, pastilah dhormati, disegani, dan dipercayai wartawan.

    Kedua, humas harus mengetahui seluk-beluk dunia wartawan atau jurnalisme, termasuk irama kerja wartawan di tiap jenis media massa serta fungsi media massa. Ini berarti humas mesti tahu nilai-nilai berita, tenggat waktu laporan wartawan, peta media massa baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional, Kode Etik Jurnalistik, Kode Etik (Pedoman Perilaku) Penyiaran, Undang-undang No. 40/1999 tentang Pers, Undang-undang No. 32/2002 tentang penyiaran, kekuasaan atau kekuatan media massa, visi dan missi media massa yang beredar/beroperasi di wilayahnya, dan sebagainya.

    Ketiga, humas juga harus/perlu memiliki kemampuan praktik jurnalisme, yakni meliput, wawancara, memotret, menulis berita langsung, berita khas (feature news), dan artikel opini. Selain memperkaya pengetahuan dan praktik melalui bacaan dan pelatihan jurnalisme, humas juga perlu sekali-sekali magang di media massa, terutama di media massa besar.

    Keempat, humas harus mampu mengenal wartawan dan redaktur secara personal. Ini sangat penting, agar humas mampu berkomunikasi dengan efektif dengan mitranya. Humas harus tahu tingkat/jenis komunikasi yang lazim digunakan wartawan yang sedang berbicara dengannya. Sesuai latar belakang budaya daerah dan tingkat pendidikan, tiap wartawan pastilah memiliki gaya berkomunikasi masing-masing. Ada wartawan yang lazim menerapkan komunikasi konteks rendah (menyatakan sesuatu secara halus atau “berputar-putar”, tak langsung ke tujuan). Tapi ada pula wartawan yang biasa menerapkan komunikasi konteks tinggi (berbicara blak-blakan atau berterus terang, langsung ke tujuan). Humas harus mampu berbahasa dengan baik sesuai bahasa dan tingkat bahasa (abstraksi) wartawan yang sedang dihadapi. Humas perlu tahu pula riwayat hidup wartawan yang biasa atau rutin meliput di lingkungan kerja pemda dan DPRD, misalnya tanggal lahir/perkawinan. Humas juga perlu memerhatikan ulang tahun media massa yang beredar/beroperasi di daerahnya. Dengan demikian, humas dapat menjalin hubungan insani (human relations) secara efektif dengan mitranya.

    Kelima, humas jangan bersikap diskriminatif terhadap wartawan/media massa. Semua wartawan profesional (muda atau tua, kaya atau miskin, berpenampilan keren atau “kumuh”) dan media massa (besar atau kecil, lokal atau nasional, baru atau lama, partisan atau independen) harus diperlakukan dengan adil (tak ada “anak emas” dan “anak tiri”). Hal terpenting, humas wajib melayani hanya wartawan yang benar-benar wartawan. Humas tak perlu melayani, apalagi “memiara” wartawan “CNN” (cuma nanya-nanya) alias wartawan yang tak memiliki media massa. Yang dimaksud melayani di sini adalah memberikan fakta-fakta atau informasi penting yang dibutuhkan oleh khalayak media massa di mana wartawan yang bersangkutan bekerja. Ini berarti humas tak boleh merusak idealisme atau profesi wartawan dengan memberikan uang atau yang sejenisnya. Humas sama sekali tak berurusan dengan pemenuhan kesejahteraan wartawan. Ini adalah urusan pihak manajemen perusahaan media massa di mana wartawan itu bekerja.

    Inilah kiat utama humas menghadapi wartawan (pers). Bila kelima hal pokok ini dapat diwujudkan dengan baik, niscaya humas sanggup bekerja secara efektif dan efisien dalam melayani masyarakat di wilayah Jabar. Selamat bekerja secara profesional! Tuhan memberkati Anda! (penulis adalah dosen jurnalistik fikom unpad)**

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Lowongan di detikcom

    Comments ikram — July 21, 2008 / 3:07 pm

    http://microsite.detik.com/vacancy/

    VACANCY ON DETIKCOM

    PT Agranet Multicitra Siberkom’s holding company of www.detik.com, Indonesia’s leading of media online & internet services. We would like to invite highest standards of professional in fulfilling our business goal and objectives, for the following position.

    Journalist Requirements:

    • Candidate must possess at least a Bachelor’s Degree in any field.
    • Fresh graduates/Entry level applicants are encouraged to apply.
    • Single, not more than 23 years old
    • Has great interest in Journalism especially
    • News & Politic(code : NEWS)
    • Finance(code : FIN)
    • Information Celebrity (code; HOT)
    • Able to communicate and write in English
    • Energetic, dynamic, creative & like challenges

    If you are ready for the challenge, please submit your application letter with full details of resume and recent photograph not later than July,31, 2008 to:

    HUMAN RESOURCES DEVELOPMENT PT Agranet Multicitra Siberkom nanang@agrakom.com Only short-listed candidates will be notified For Invitation Process will be conducted by sms & email

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Lowongan di Men’s Health Indonesia

    Comments Firman Firdaus — July 2, 2008 / 12:46 am

    Dapat dari milis jurnalisme. Diposting pada 24 Juni 2008. Mudah-mudahan masih ada waktu, soalnya tidak disebutkan tenggatnya.

    Kami mengundang Anda untuk bergabung dengan tim yang telah berhasil menerbitkan majalah Men’s Health Indonesia (majalah gaya hidup pria, sampai saat ini menerima iklan terbanyak di kategori majalah pria) dan beberapa sub- brand dibawahnya sebagai editor.

    Kriteria

    1. Lulusan S 1dari dalam dan luar negeri, mampu menyadur dari bahasa inggris
    2. Memiliki kemampuan menulis artikel features dan gaya hidup dengan gaya penulisan yang unik
    3. Kreatif, memiliki kepekaan visual, berpikir non linear dan keinginan belajar yang tinggi
    4. Minimum pengalaman di bidang media minimal 2 tahun
    5. Pengalaman dan ketertarikan terhadap dunia marketing, finansial, psikologi, teknologi gaya hidup dan kesehatan adalah nilai tambah yang sangat
    6. Berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

    Kirimkan 1. cover letter menjelaskan mengapa Anda adalah individu yang cocok untuk posisi ini, 2. CV lengkap dengan referensi 3. contoh tulisan Anda ( fitur, non edited, maksimal 2 halaman) ke

    bestindo@…

    Hanya bagi pelamar serius. Email yang ditujukan ke alamat saya pribadi, ke milis ini dan atau tidak lengkap tidak akan diproses

    salam Y U D H A K A R T O H A D I P R O D J O

    Berhubung alamat emailnya terpotong, ada baiknya dikirimkan ke alamat majalah bersangkutan.

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Wartawan, profesi paling menyenangkan

    1 comment ikram — June 27, 2008 / 9:57 pm

    Berita okezone.com di bawah ini mengisahkan perlakuan tidak mengenakkan yang diterima wartawan dalam meliput. Setiap kali membaca berita yang mirip-mirip seperti ini, saya selalu bersyukur dalam hati karena seperti kembali diingatkan bahwa wartawan adalah profesi paling menyenangkan.

    Dari sisi gaji, wartawan boleh saja kalah dari profesi lain, misalnya dokter atau pengacara. Tapi dari sisi lain, hey, sejak kapan penderitaan dokter atau pengacara—ketika mereka bekerja—bisa jadi berita? Ada yang pernah membaca berita soal betapa beratnya menangkap ikan di laut? Menyupir di jalanan macet setiap hari? Atau betapa repotnya mengangkat-angkat selang ketika memadamkan kebakaran?

    Sedangkan profesi wartawan berbeda. Penderitaan mereka, yang hakikatnya adalah resiko pekerjaan, bisa dong jadi berita. Menyenangkan bukan? :)


    Pria Berseragam AU Represif ke Wartawan

    JAKARTA - Tindakan tidak simpatik dilakukan sejumlah pria berseragam Angkatan udara yang mengamankan Kompleks AU di Halim Perdana Kusumah. Mereka mengumpulkan dan menghardik wartawan yang meliput di kediaman Letkol Supriyadi.

    Sejumlah provost mengumpulkan wartawan yang meliput di kediaman Letkol Supriyadi di pos provost, meminta ID Card masing-masing wartawan, dan meminta keterangan satu persatu, Jumat (27/6/20008).

    Tidak cukup sampai di situ, beberapa wartawan pun sempat dimarahi dan dicaci maki dengan bahasa yang tidak layak.

    “Anjxxx kamu, pergi dari sini. Kamu belum dapat izin dari Danlanud,” teriak pria tersebut kepada sejumlah wartawan.

    Sampai saat ini wartawan tidak diperbolehkan memasuki komplek AU Halim Perdana Kusumah. Diketahui, korban pesawat Cassa Letkol Supriyadi beralamat di Jalan Cendrawasih 1 No 11K , Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur. (uky)

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Pantau seeking an Executive Director

    Comments ikram — June 4, 2008 / 9:07 pm

    From Andreas Harsono’s blog:

    Pantau is a registered NGO operated by a group of Indonesian journalists that works to provide news coverage of key issues in the country as well as deliver media training, media capacity building, and peace building programs. Pantau has offices in Jakarta, Banda Aceh, and Ende on Flores Island, and employs 11 people.

    Pantau is seeking an Executive Director who is an experienced journalist interested in helping our NGO develop media-support programs in Indonesia. Much of the work involves managing an NGO, helping develop and supervise projects such as a feature news service, journalism training, and capacity-building for news organisations.

    Additional job requirements: • Working under the Direction of a Board of Directors to implement policies and projects approved by the Board; • Following an introductory period, manage in cooperation with the Board of Directors and a staff of 11 persons; • Learning to plan and design journalism training and development projects; • Writing and editing articles in Bahasa Indonesia for distribution to Indonesian media; • Moderating a mailing list pantau-komunitas@yahoogroups.com with around 2,000 members, mostly journalists and student journalists in many parts of Indonesia; • Eventually coordinating the planning and administration of the organisation; • Understanding financial management and fundraising, and supervising persons responsible for these areas.

    Qualifications: • A background as an experienced and professional journalist in Indonesia; • Writing and conversing in English; • A broad knowledge of many aspects of media an asset; • Experience working at an NGO or an interest in the NGO field a strong asset; • Previous management experience at any level an important asset; • The ability to be well organized and capable of carrying out an organisational plan a strong asset; and • The ability to work as part of a team and to give employees the opportunity to develop their skills to the maximum level an important asset.

    Terms and Conditions: • It is a full time staff position following a maximum of six month probationary period. Pantau cover health and life insurances. It also provides a pension insurance. Pantau Foundation is an equal opportunity employer that does not discriminate in its hiring practices and, in order to build the strongest possible workforce, actively seeks a diverse applicant pool.

    Applications may be submitted by email to aharsono@cbn.net.id or snail mail to Pantau Foundation, Jl. Raya Kebayoran Lama 18 CD, Jakarta 12220, by 17 June 2008.

    We thank all candidates for their interest, however, only those candidates selected for an interview will be contacted.

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    Andreas Harsono mundur dari Pantau

    Comments ikram — May 12, 2008 / 11:04 am

    Setelah hampir delapan tahun memimpin Yayasan Pantau (mulanya majalah Pantau kemudian sejak 2004 berubah jadi LSM), Andreas Harsono memutuskan mundur.

    Saya kira delapan tahun cukup lama buat jabatan ini. Pantau memerlukan orang baru dengan ide-ide segar. Saya juga ingin moving on dengan karir saya.

    Selengkapnya di:

    http://andreasharsono.blogspot.com/2008/05/mundur-dari-yayasan-pantau.html

    Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

    LOCAL SEARCH

    Search only in this blog

    GLOBAL SEARCH

    Search across Asia Blogging Network

    GLOBAL UPDATES

    FEATURED POSTS

    CHANNEL

    COLUMN

    More? Go to Asia Blogging Network Column section.

    COMMENT

    • ee lu — bego lu
    • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
    • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
    • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
    • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
    • tai — fuck bener
    • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
    • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
    • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
    • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?