You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Jurnalisme dan nasionalisme

Jurnalisme dan nasionalisme

Firman Firdaus — May 25, 2007 / 7:30 pm

DI milis jurnalisme sastrawi ada diskusi menarik tentang nasionalisme dan jurnalisme. Adalah ZenRS (BZ) yang memantik diskusi dengan sebuah posting tentang pentahbisan Mas Marco Kartodikromo sebagai “Bapak Wartawan Indonesia”.

Marco adalah orang pertama yang menyadari arti penting ketajaman seorang wartawan sebagai penyemai dan ideolog nasionalisme. Tak ada artinya sebuah pers pribumi jika ia tidak diisi dan dikelola oleh wartawan yang punya kedalaman melihat situasi dan ketajaman pena memerjuangkan situasi yang mencengkau masyarakat pribumi yang terjajah.

Artikel panjang Zen ditanggapi oleh Andreas Harsono (AH), yang menolak segala bentuk penokohan dengan alasan…

Jurnalisme tidak berada pada tataran nation atau bangsa. Jurnalisme ada untuk mengabdi pada kebenaran. Pribumisasi jurnalisme hanya akan membuatnya subordinasi dari nation-state. Kalau ia terjadi, maka ia akan gagal menjalankan fungsinya.

Diskusi berlanjut dengan tanggapan dari Zen,

Di sini, AH tidak membedakan (atau mungkin belum sempat) antara “nasionalisme” dengan “nation-state”. Kendati masih satu domain, keduanya tidak persis. Menyamakan nasionalisme dalam konteks pertumbuhan gagasan kemerdekaan seperti yang bergerak dalam nadi Marco dan pada zaman itu dengan nasionalisme sebagai dalih melanggengkan nastion-state yang sudah mapan jelas kecerobohan yang tidak sepele. Konteks yang berbeda akan melahirkan konsekuensi dan pengertian yang juga berbeda.

Sedari awal, diskusi memang tidak mencapai titik temu karena AH tidak menanggapi Bung Zen pada sasaran yang ”semestinya”.

Jika diskusi ingin berjalan linier, sanggahan AH mestinya ditujukan pada ”layak-tidaknya” Mas Marco ditahbiskan sebagai ”bapak wartawan Indonesia”. Yang ingin ditegaskan oleh BZ adalah: ”jika bukan Marco, lalu siapa?”

Tapi saya rasa saya bisa memahami kenapa AH enggan menyentuh soal itu karena:

  1. Perdebatan akan panjang dan melelahkan. Karena penentuan siapa ”wartawan terhebat di Indonesia” akan menghadirkan banyak kontestan dengan kriteria yang sangat bisa diperdebatkan. Misalnya, apakah bapak wartawan itu harus ”seorang yang keras dan berani terhadap penjajah dan pernah mencicipi penjara karena perjuangannya”?

Bagaimana dengan wartawan yang dengan tulisan-tulisannya yang sederhana menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan? Bagaimana dengan wartawan yang rela mengorbankan waktunya untuk mengajari anak-anak jalanan membaca dan menulis? Bagaimana dengan wartawan yang menulis sedemikian banyak buku bermutu, yang dikutip habis-habisan oleh seluruh murid ilmu jurnalistik di seluruh dunia? Bagaimana dengan wartawan perang yang senantiasa berada di tengah desingan peluru hanya untuk melaporkan perkembangan kepada masyarakat? Bagaimana dengan wartawan yang dengan tulisan-tulisannya akhirnya bisa menggagalkan sebuah penggusuran rumah bagi orang miskin? Bagaimana dengan…dengan…

Saya tidak akan menyebut nama-nama di sini karena yang ingin saya katakan adalah betapa sulitnya—bahkan hanya untuk menentukan kriterianya—memilih wartawan terhebat di Indonesia (dan di dunia, mungkin).

  1. AH kelihatannya lebih melihat ”dampak” pemberian predikat tersebut, alih-alih mempersoalkan keabsahan gelar yang diberikan BZ. Ini juga saya bisa mengerti karena (mungkin) pengalaman beliau sebagai wartawan yang banyak menyaksikan kekerasan akibat ketimpangan pusat-daerah. Pendapukan Mas Marco yang “sangat Jawa” dikhawatirkan muncul kecemburuan dari orang-orang timur: Jawa lagi, Jawa lagi…. Tapi, relevansi dengan postingan BZ jadi terasa ”misleading”.

  2. AH menyandingkan perspektif sejarah masa lalu yang dihadirkan BZ dengan realitas kekinian: bahwa wartawan yang memihak penguasa adalah penjilat sejati. Ini saya rasa kesalahan fatal. Di masa kolonial, penjajah selalu pihak yang ”salah”, sedang yang dijajah selalu menjadi pihak yang ”benar”.

Lalu, bagaimana bila sebagian besar tuan tanah atau prajurit-prajurit binaan penjajah adalah bangsa sendiri seperti dituturkan AH dan kita ketahui dari sejarah? Kepada siapa wartawan harus berpihak? Penjajah atau bangsa sendiri? Saya rasa, Mas Marco meski hidup di masa lalu cukup cerdas untuk menyikapi hal seperti ini.

Well, Mas Marco adalah seorang legenda, tiada yang bisa menampik itu. Tapi, biarkan dia tercatat sebagai seorang wartawan yang gigih membela kebenaran, meski diri sebagai taruhannya. Bukankah itu tugas wartawan sesungguhnya?

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...