You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Edit dan sunting
Arif Gunawan Sulistyono dalam ruang diskusi milis mempertanyakan dua hal. Pertama, kenapa jurnalis kita lebih suka menggunakan istilah-istilah asing tinimbang bahasa asli Indonesia, misalnya “editor” yang ada padanan katanya, yakni “penyunting”.
Kedua, dia mempertanyakan perihal makna “sunting” dan “penyunting” yang ternyata jauh dari aroma jurnalistik.
Untuk pertanyaan pertama, saya rasa tidak masalah untuk menggunakan istilah serapan selama kata/istilah itu memang sudah diserap dan “dibakukan”. Mengenai penggunaannya itu soal selera dan agar ‘reader friendly’ saja, menurut saya. Ingat, seorang wartawan yang dikejar tenggat cenderung mencari kata yang “melayang di udara”, yang mudah diingat.
Lalu, soal makna “sunting”. Di kamus (bahasa Indonesia), sunting berarti “hiasan (bunga) yang dicocokkan di rambut atau di belakang telinga”. Setahu saya, kata ini juga diserap dari khazanah bahasa Melayu. Seorang pengantin perempuan Minang akan dipasangi “sunting” pada pakaian adatnya, artinya pada kepalanya dihias dengan bunga-bunga berwarna emas.
Jika mengacu pada makna tersebut, maka sebetulnya tidak ada pertentangan antara “sunting” sebagai kata dan “sunting” sebagai istilah jurnalistik. “Menyunting tulisan” berarti membuat tulisan itu lebih bagus, lebih enak dibaca. Tulisan dihias, diberi “bunga” sehingga lebih indah.
Begitulah.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 7 komentar untuk artikel ini.
Paman Tyo
Di sebuah koran besar, dan koran kota yang jadi anaknya, berlaku dua istilah: edit dan sunting. Edit berarti apa yang dilakukan oleh penulis, terutama kepala desk. Adapun sunting berarti polesan akhir oleh editor eh penyunting lain. Bingung ya?
Di lingkungan tersebut, juga ada istilah aneh yang berlaku pada sebagian awaknya: wartawan dan redaktur. Oh ternyata wartawan berarti reporter.
Jangan geli lho.
June 5th, 2007 at 11:06 pm
syant
sebenarnya kalau lebih banyak disosialisasikan kata-kata asing yang sudah diserap mungkin kita juga akan terbiasa dengan penggunaannya, karena kita juga semakin akrab dengan maknanya. Cuma kadang kita sendiri ragu-ragu dengan arti kata serapan tersebut, jadinya daripada salah lebih baik ya pakai yang sudah pasti benar. :)
June 7th, 2007 at 7:23 am
Jim
Bahasa itu alat komunikasi. Yang paling penting adalah tujuan komunikasi tercapai antara kedua belah pihak. Mau pake bahasa tarzan atau gado-gado, yang penting toh akhirnya masing-masing pihak bisa mengerti maksud lawan bicaranya.
Kalo mau idealis, tentu saja bahasa yang digunakan harus sesuai pakemnya. Tapi kalo mau praktis, ya suka campur aduk begitu. Sunting lebih nyaman untuk digunakan pada pernikahan … heheheheh.
June 8th, 2007 at 10:53 am
Firman Firdaus
Jim, sepakat soal bahasa alat komunikasi. Tapi, yang dibicarakan adalah bahasa dalam jurnalisme. apakah di koran Anda bisa dengan seenaknya menulis semau Anda?
Kalau redaktur Anda tidak keberatan sih nggak apa-apa, hehe…Tapi saya rasa memang harus proporsional dalam hal ini.
June 8th, 2007 at 5:54 pm
Firman Firdaus
UPDATE: di KBBI Edisi Ketiga (2005) lema sunting sudah ada yang berhubungan dengan jurnalisme.
June 8th, 2007 at 5:57 pm
mulyono
bahasa jurnalis udah banyak yang diotak-atik klo menutut aku kembali lagi ke kode etik jurnalistik aja
sunting : berarti ambil gambar kan !
penyuting : pengedit gambar !
June 19th, 2008 at 1:50 pm
dhie
Memang benar bahasa merupakan alat komunikasi. Akan tetapi, tak dapat disamakan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan.
Dalam bahasa tulisan tidak hanya bisa dimengerti oleh lawan bicara saja tetapi harus memakai kaidah bahasa yang baik dan benar agar ide yang ditulis oleh penulis dapat diterima dengan mudah oleh pembaca.
Di sanalah peranan penting seorang penyunting naskah atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan editor.
July 17th, 2008 at 4:06 pm