Ruang Berbagi Seputar Jurnalisme
REPORTER yang biasa bertugas di lapangan pasti sering menemui pengalaman untuk mengejar-ngejar narasumber penting alias A1. Untuk mewawancarai narasumber secara on the spot (bukan wawancara eksklusif) biasanya wartawan mencarinya dengan mengendus “kerumunan”. Di mana ada kerumunan, di situ biasanya ada narasumber yang sedang diwawancari oleh wartawan-wartawan lain.
Untuk situasi yang demikian riuh-ramai, tidak mungkin seorang wartawan memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum bertanya. Apalagi bila si narasumber sedang terburu-buru.
Dalam sebuah kunjungan ke pulau terpencil bersama beberapa rekan wartawan, saya memutuskan berpisah dengan rombongan dan menyempatkan diri mengobrol (baca: wawancara) dengan seorang nelayan. Saya hampiri dia, berjabat tangan sambil memperkenalkan diri. Lalu kami mulai ngobrol.
Di tengah obrolan, tiba-tiba ada seorang wartawan lain “menyerang” narasumber saya dengan rentetan pertanyaan. Pak nelayan terlihat agak kikuk dan kaget. Suasana akrab dan santai yang sudah saya bangun berubah menjadi ajang interogasi. Akhirnya, saya berinisiatif untuk memperkenalkan si wartawan dengan bapak nelayan itu.
Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh wartawan yang menyerobot itu jelas tidak dibenarkan. Proses wawancara itu unik untuk setiap narasumber. Perlakuan kita ke narasumber juga tergantung situasi. Siapapun orangnya, narasumber adalah narasumber. Mereka adalah subjek pembangun tulisan kita dan sumber informasi bagi berita yang akan kita tulis.
Dari dua jenis situasi dan jenis narasumber di atas, kiranya kita bisa menilai bagaimana seharusnya mewawancarai narasumber.
This entry was posted by Firman Firdaus on Wednesday, May 30th, 2007 at 11:26 am and is filed under Kode etik, Jurnalisme dasar. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
There are 3 comments for this entry. Add yours
toto pribadi
kita perlu etika dan berempati terhadap nara sumber donk….
August 3rd, 2007 at 12:39 pm
esteviana de fatima
saya saya menpunyai cita-cita menjadi wartawan tapi saat ini impian saya belun tercapai karena saya masih duduk dibangku SMA.
yang ingin saya tanya bagai mana menjadi wartawan yang baik,standar2 apa sajakah yang dipakai dalam proses peliputan
April 26th, 2008 at 5:41 pm
ikram
Esteviana,
Nanti ya saya coba kumpulkan bahan2nya untuk ditampilkan di sini.
Terimakasih,
Ikram
May 5th, 2008 at 5:59 pm