You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Berbeda situasi, berbeda pendekatan

Berbeda situasi, berbeda pendekatan

Firman Firdaus — May 30, 2007 / 11:26 am

REPORTER yang biasa bertugas di lapangan pasti sering menemui pengalaman untuk mengejar-ngejar narasumber penting alias A1. Untuk mewawancarai narasumber secara on the spot (bukan wawancara eksklusif) biasanya wartawan mencarinya dengan mengendus “kerumunan”. Di mana ada kerumunan, di situ biasanya ada narasumber yang sedang diwawancari oleh wartawan-wartawan lain.

Untuk situasi yang demikian riuh-ramai, tidak mungkin seorang wartawan memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum bertanya. Apalagi bila si narasumber sedang terburu-buru.

Dalam sebuah kunjungan ke pulau terpencil bersama beberapa rekan wartawan, saya memutuskan berpisah dengan rombongan dan menyempatkan diri mengobrol (baca: wawancara) dengan seorang nelayan. Saya hampiri dia, berjabat tangan sambil memperkenalkan diri. Lalu kami mulai ngobrol.

Di tengah obrolan, tiba-tiba ada seorang wartawan lain “menyerang” narasumber saya dengan rentetan pertanyaan. Pak nelayan terlihat agak kikuk dan kaget. Suasana akrab dan santai yang sudah saya bangun berubah menjadi ajang interogasi. Akhirnya, saya berinisiatif untuk memperkenalkan si wartawan dengan bapak nelayan itu.

Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh wartawan yang menyerobot itu jelas tidak dibenarkan. Proses wawancara itu unik untuk setiap narasumber. Perlakuan kita ke narasumber juga tergantung situasi. Siapapun orangnya, narasumber adalah narasumber. Mereka adalah subjek pembangun tulisan kita dan sumber informasi bagi berita yang akan kita tulis.

Dari dua jenis situasi dan jenis narasumber di atas, kiranya kita bisa menilai bagaimana seharusnya mewawancarai narasumber.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. toto pribadi

    kita perlu etika dan berempati terhadap nara sumber donk….

    August 3rd, 2007 at 12:39 pm

  2. esteviana de fatima

    saya saya menpunyai cita-cita menjadi wartawan tapi saat ini impian saya belun tercapai karena saya masih duduk dibangku SMA.
    yang ingin saya tanya bagai mana menjadi wartawan yang baik,standar2 apa sajakah yang dipakai dalam proses peliputan

    April 26th, 2008 at 5:41 pm

  3. ikram

    Esteviana,

    Nanti ya saya coba kumpulkan bahan2nya untuk ditampilkan di sini.

    Terimakasih,

    Ikram

    May 5th, 2008 at 5:59 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang
  • sayyid — ---UNTUK BUNG HUDAN, Blog ini bukan kepunyaan personal. Tapi, punyanya Asia Blogging Network. Yang mengelola saya sendiri. Salam kenal...