You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Menulis di Media Massa (II)
LATIHAN. Itu kata sakti jika kita ingin memiliki kemampuan dalam segala hal. Tanpa latihan, apa yang ingin kita lakukan tidak akan mencapai “kesempurnaan”. Pula dalam menulis.
Saya sering mendengar ucapan: “satu-satunya cara menjadi penulis adalah…menulis”.
Latihan menulis tidak perlu terlalu dipikirkan bagaimana caranya. Mulailah dari buku harian. Ya buku harian. Atau, jika Anda blog literate, media blog merupakan jalan paling mudah dewasa ini untuk berlatih menulis. Dengan adanya forum komentar, tulisan kita bisa dinilai oleh semua orang. “Ah, saya takut ntar dikritik.” Jangan takut kritik. Anggap saja konsultasi gratis. Tokh, tujuan kita memang belajar.
Buku harian, yang sifatnya personal, jangan diremehkan. Buku Pergolakan Pemikiran Islam oleh Ahmad Wahib juga berangkat dari buku harian. Belum lagi Catatan Harian Seorang Demonstran oleh Soe Hok Gie.
Latihan menulis secara personal pada dasarnya merupakan usaha mengasah kepekaan kita. Kepekaan adalah modal penting seorang penulis. Kepekaan menuntun kita untuk berbuat, beropini, menentang, dan merespons segala yang terjadi di sekitar kita. Kepekaan juga mengantarkan kita pada ide-ide.
Jadi, mulailah latihan dari sekarang.
Bersambung…
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
Jennie
Firman, saya ingin tahu standar penulisan reportase yang dipakai media cetak Indonesia. AP Style kah? Kok saya lihat bukan juga ya. Tidak banyak yang menggunakan struktur piramida terbalik untuk hardcore news. Para jurnalis kawakan lebih banyak menulis tipe-tipe feature begitu. Apakah untuk Indonesia ada “khas” struktur tertentu? Apa referensi utamanya? Thanks.
July 9th, 2007 at 1:50 pm
Firman Firdaus
thanks jennie,
sependek yang saya tahu, indonesia mengikuti teknik penulisan mainstream. untuk berita straight, piramida terbalik.
jurnalis kawakan lebih bnayak menulis feature? saya rasa di belahan dunia manapun seperti itu jennie. mereka biasanya tidak lagi dibebani tugas “day to day” tapi lebih ke pendalaman isu, analisis, dan sebagainya.
kalau ditanya referensi utama, saya rasa ya mainstream Amerika, seperti kebanyakan media lain.
July 9th, 2007 at 6:37 pm
zenrs
Anne frank, Virginia Wolf, Samuel Peppys, Ahmad Wahib, Soe Hok Gie, Yozar Anwar, dll: dari diari ke diari, sambung menyambung menjadi satu.
Dear Diary….
July 9th, 2007 at 11:27 pm
Jennie
Oh, that part I get it. Well, there are all kinds of feature articles as well. Very subtle nuances, in my humble opinion. Ada juga yang ada dimensi piramida terbaliknya di dalam feature article. Di Indonesia kebanyakan feature artikelnya gaya akademis. Many comunications professors yang ngajar di Indonesia mengakui keterpengaruhan media di Indonesia dengan gaya scholar/akademisnya.
Feature articles di Time dan Newsweek saja walaupun termasuk kompetitor, bisa dilihat perbedaannya. Walaupun then it depends on the writer-nya lagi.
I think Indonesian journalism is slightly different from American style. There is a subtle nuance khas Indonesia.
Just my two cents.
July 10th, 2007 at 2:19 am
firman firdaus
maybe you’re right Jennie. But truthfully, I cannot see the tendencies, if you want to make a generalization. some writers write “a very American way”.
I don’t know jennie, hehe.
July 11th, 2007 at 9:53 pm