You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Menulis di media massa (IV): Menyambar isu
Dari proses mengasah kepekaan dengan mendengarkan berita, misalnya, akan timbul ide untuk memulai sebuah tulisan. Jangan berlama-lama berpikir. Isu-isu bagus biasanya menjadi santapan empuk para penulis kawakan.
Misalnya berita tentang gempa Bengkulu.
Para penulis piawai pasti langsung menyambar isu yang “seksi” ini. Anda pun bisa saja melakukannya dengan pendekatan/angle yang agak berbeda. Contohnya dari sisi bagaimana pemerintah selalu lamban dalam penanganan bencana di mana pun. Ini bisa digeser ke isu soal birokrasi di pemerintahan, infrastruktur birokrasi, ideologi birokrasi (dengan mengutip buku atau pendapat filsuf), dan lain-lain. Anda perlu menulis kerangka berpikir ini agar nanti lancar dalam menulis.
Coretlah poin-poin bahasan yang sudah Anda tulis, untuk menghindari pengulangan.
Jadi, intinya adalah jangan biarkan isu-isu yang beredar itu menguap. Sambarlah.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
muhlisun
Benar menulis merupakan salah satu dari sekian cara untuk menyampaikan permasalahan yang ada di sekitar kita. Dan ini bisa dipastikan bahwa perubahan yang terjadi di sekitar kita begitu cepat.Baik masalah yang sifatnya tidak terlalu penting sampai ke masalah yang butuh perhatian yang khusus dan cepat.
Semakin banyak kita menulis dan perduli dengan hal-hal yan terjadi disekitar kita,maka tentu akan menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan.Apalagi pemerintah kita sudah biasa dengan slogan “tanggap kalau masyarakat masih ribut”tapi kalau masyarakat sudah lupa karena bosan mereka tidak akan perduli.Lihat saja kasus yang terjadi di Indonesia,lumpur Lapindo misalnya,sekarang dilirik pun enggak sama pemerintah.ya soalnya masyarakat(media) sudah tidak sering lagi memberitakanya.Bosan kali soalnya pemerintahnya “budek,bisu,plus ndablek”.
Jadi kalau kita tidak aktif memberitakan keadaan sekitar kita rame-rame,jangan harap mereka mau melirik.Mereka baru mau mendekati kita kalau dah mau itu-tu “Pemilu” dari yang Pilkadal mpe pil yang manis tapi pahitnya mina ampun.setuju kan.?
September 19th, 2007 at 2:24 pm
verdinand
Tulisan yang bagus.
Cukup informatif buat saya yang gemar menulis di media massa.
Offline dan online.
September 19th, 2007 at 5:58 pm
firman firdaus
terima kasih mas verdinand. senang rasanya kalau yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain.
September 20th, 2007 at 8:30 pm