You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Wartawan harus memahami apa yang sedang diliputnya
POSTING ini sebenarnya masih berkaitan dengan posting sebelumnya, yakni tentang kapabilitas (kecakapan) seorang juru warta.
Ceritanya, saya termasuk yang kebagian meliput Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali. Sebagai peristiwa besar dan mengglobal, helatan ini mendapat peliputan yang juga besar. Hampir semua jurnalis dari berbagai negara hadir di sana.
Sayangnya, sebagian besar wartawan (Indonesia, terutama), kelihatan masih agak “blank” dengan isu yang hendak diliputnya. Setidaknya menurut kacamata saya. Hal ini terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, baik dalam konferensi pers maupun dalam wawancara informal dengan para narasumber.
Misalnya, masih ada yang bertanya, apa itu CDM, berapakah harga karbon per hektare hutan, dan segudang pertanyaan “standar” yang sebenarnya bisa terjawab jika saja sang wartawan mau berusaha membaca-baca seputar isu ini sebelum berangkat liputan.
Mohon maaf, bukan bermaksud sombong karena saya sendiri sampai saat ini masih terus mempelajari topik yang rumit ini: perubahan iklim dan pemanasan global disertai aspek ekonomi-politik-lingkungan-sosial. Akan tetapi, gemas juga bila melihat jurnalis, yang semestinya bisa menjadi garda depan dalam memberikan informasi yang benar dan akurat, justru malah tidak mengerti apa yang sedang diliputnya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Wartawan sebaiknya memahami panggilan narasumbernya — Telisik Jurnalisme
[…] Judulnya adalah plesetan dari judul tulisan rekan Firman tentang wartawan yang harus memahami apa yang sedang diliputnya. […]
December 22nd, 2007 at 2:22 am
tjahjo
lha, bukannya ini “persoalan besar” jurnalisme indonesia. terutama suratkabar.
reporter turun dengan bekal seadanya, bertanya tentang hal yg remeh, menulis dengan terburu-buru, lalu tulisan diterbitkan dengan banyak kesalahan.
belum selesai! setelah reporter itu semakin “pinter”, maka jadilah dia redaktur.
lalu muncul reporter baru. begitu terus siklusnya.
April 23rd, 2008 at 3:11 pm