You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Wartawan sebaiknya memahami panggilan narasumbernya
Judulnya adalah plesetan dari judul tulisan rekan Firman tentang wartawan yang harus memahami apa yang sedang diliputnya.
Jadi ceritanya, waktu kasus Ahmad Albar yang diciduk polisi sedang ramai-ramainya, banyak wartawan nongkrong di depan rumah rocker tua itu, untuk memberitakan perkembangan detik-demi-detik mengenai kasusnya. Tapi lumayan sulit sebab rumahnya sepi dan yang keluar-masuk hanya supirnya.
Tunggu punya tunggu, akhirnya keluarlah Alba Fuad. Keponakan Om Iyek (panggilan Ahmad Albar) ini pun langsung dikerubuti wartawan demi sepatah-dua komentar.
Nah, di tengah-tengah itu, seorang wartawan bertanya: “Kabarnya Pa’i gimana Mbak?”
Semua mata menoleh ke arah sumber suara dengan bingung. Pa’i? Siapa itu Pa’i?
“Fachri terakhir sih telfon dia baik-baik saja,” kata Alba.
Barulah semua paham kalau “Pa’i” yang dimaksud adalah Fachri Albar – anak Om Iyek. Tapi bukankah panggilan Fachri itu Ai?
Selesai wawancara dengan Alba, si wartawan ditanya: “Kok nama panggilannya Pa’i sih?”
“Lah kan namanya Rivai Albar. Jadi panggilannya ya Pa’i,” jawab si wartawan dengan polos.
Untunglah nggak ketahuan sama Alba Fuad kalo si wartawan salah data :)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
daustralala
setuju ini. nama panggilan narsum harus dipahami. lumayan juga kan buat bunga-bunga tulisan.
December 27th, 2007 at 7:52 pm