You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Dewan Pers Bagi-bagi Amplop
Ini tulisan lama saya di blog pribadi. Menyesal sekali tak langsung menuliskannya disini…
Rabu (7/11) siang di Hotel Bumi Wiyata Depok ada diskusi yang diadakan Dewan Pers. Topiknya soal penegakan profesionalisme pers. Antara lain, bagaimana cara menghadapi wartawan bodrex yang suka meminta-minta amplop. Pesertanya dari pemerintahan, polisi, dan juga wartawan (wartawan bodrex-nya sendiri konon juga ada yang datang).
Sialnya, saya datang terlambat karena sedang liputan pelantikan panitia pemilu di Balai Kota. Begitu sampai di ruangan, foto-foto sedikit, bikin kopi segelas, eh acaranya selesai – peserta dipersilakan makan siang!
Untungnya ada Yudho (Tempo News Room) dan Arman (Indo Pos) yang lagi mewawancarai Sabam Leo Batubara, wakil ketua Dewan. Saya langsung ikut nimbrung mereka saja. Biarlah sedikit yang penting dapat ilmu.
Sabam mengatakan, kita harus memberantas perilaku memeras yang sering dilakukan wartawan bodrex antara lain supaya “wartawan yang kerjanya benar” jadi terlindungi.
“We have to promote the good guys,” katanya bersemangat.
Dia lalu berlanjut dengan menceritakan dinas-dinas pemerintahan mana saja yang biasanya jadi “sasaran” para wartawan korps bodrex. Misalnya Dinas Pendidikan serta Dinas Pekerjaan Umum. Mungkin karena dua dinas ini memang punya banyak salah atau bagaimana, mereka gampang sekali diperas :)
Kemudian dia juga menyinggung soal organisasi wartawan yang begitu banyak jumlahnya namun tak semuanya beres.
Saya manggut-manggut dengan tenang sebab tidak sedang liputan. Perkara wartawan bodrex memang sudah jadi masalah menahun di Indonesia. Mereka ini tak punya suratkabar (WTS = Wartawan Tanpa Suratkabar) dan kalaupun punya, biasanya dari jenis yang membuat kita bertanya-tanya “apa ada ya?”.
Akhirnya Yudho dan Arman selesai wawancara. Kami pun bergegas menuju ruang makan. Tapi sebelumnya mereka harus menyerahkan tanda peserta dulu di meja pendaftaran. Saya jalan terus di depan.
“Apa ini? Wah, nggak Mas. Nggak!”
Saya menoleh dan melihat keduanya sedang mengibas-ngibaskan tangan. Rupanya, mereka disodorkan amplop *yang isinya pasti uang bukan petasan.
Dewan Pers membagi-bagikan amplop?
Itulah yang jadi keheranan kami bertiga. Isi diskusi tentang pemberantasan pemerasan oleh wartawan, tapi kenapa di ujung acara wartawan malah diberi amplop? Bukankah jadi ironis?
Orang Dewan Pers beralasan, amplop dibagikan sebagai penghargaan kepada para undangan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk diskusi ini. Supaya peserta dari kalangan pemerintah dan kepolisian, misalnya, jadi tidak terbebani. Dan wartawan pun, karena dianggap tidak sedang liputan, sah-sah saja terima amplop.
Tapi bukankah semua peserta sudah dapat gaji masing-masing tiap bulan? Jadi buat apa lagi diberi amplop?
Apalagi wartawan. Bodrex atau bukan, sedang liputan atau tidak, kami ini jangan dibiasakan terima amplop deh Pak!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
M Fahmi Aulia
jika ndak terima amplop, mungkin kali lain, di buku tamu ada kolom “no rekening” (hahaha…)
January 5th, 2008 at 5:39 pm
Kristian
Pemberian amplop sebenarnya adalah pengakuan bahwa gaji dan penghargaan yang diterima oleh wartawan pada umumnya masih jauh dari tingkat yang layak. :) Sekaligus merupakan aktualisasi budaya “salam tempel”…
Untuk wartawan bodrex, please deh ah!!!!
January 12th, 2008 at 1:06 am
zymanq
Bagaimana antisipasi menghadapi wartawan yang memeras??? UUD ?? dasar hukum melawan wartawan itu apa? maklum diriku buta hukum, males bacanya kepanjangan pasal2.
May 9th, 2008 at 3:34 pm