You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Dewan Pers Bagi-bagi Amplop

Dewan Pers Bagi-bagi Amplop

ikram — January 4, 2008 / 4:07 pm

Ini tulisan lama saya di blog pribadi. Menyesal sekali tak langsung menuliskannya disini…

Rabu (7/11) siang di Hotel Bumi Wiyata Depok ada diskusi yang diadakan Dewan Pers. Topiknya soal penegakan profesionalisme pers. Antara lain, bagaimana cara menghadapi wartawan bodrex yang suka meminta-minta amplop. Pesertanya dari pemerintahan, polisi, dan juga wartawan (wartawan bodrex-nya sendiri konon juga ada yang datang).

Sialnya, saya datang terlambat karena sedang liputan pelantikan panitia pemilu di Balai Kota. Begitu sampai di ruangan, foto-foto sedikit, bikin kopi segelas, eh acaranya selesai – peserta dipersilakan makan siang!

Untungnya ada Yudho (Tempo News Room) dan Arman (Indo Pos) yang lagi mewawancarai Sabam Leo Batubara, wakil ketua Dewan. Saya langsung ikut nimbrung mereka saja. Biarlah sedikit yang penting dapat ilmu.

Sabam mengatakan, kita harus memberantas perilaku memeras yang sering dilakukan wartawan bodrex antara lain supaya “wartawan yang kerjanya benar” jadi terlindungi.

“We have to promote the good guys,” katanya bersemangat.

Dia lalu berlanjut dengan menceritakan dinas-dinas pemerintahan mana saja yang biasanya jadi “sasaran” para wartawan korps bodrex. Misalnya Dinas Pendidikan serta Dinas Pekerjaan Umum. Mungkin karena dua dinas ini memang punya banyak salah atau bagaimana, mereka gampang sekali diperas :)

Kemudian dia juga menyinggung soal organisasi wartawan yang begitu banyak jumlahnya namun tak semuanya beres.

Saya manggut-manggut dengan tenang sebab tidak sedang liputan. Perkara wartawan bodrex memang sudah jadi masalah menahun di Indonesia. Mereka ini tak punya suratkabar (WTS = Wartawan Tanpa Suratkabar) dan kalaupun punya, biasanya dari jenis yang membuat kita bertanya-tanya “apa ada ya?”.

Akhirnya Yudho dan Arman selesai wawancara. Kami pun bergegas menuju ruang makan. Tapi sebelumnya mereka harus menyerahkan tanda peserta dulu di meja pendaftaran. Saya jalan terus di depan.

“Apa ini? Wah, nggak Mas. Nggak!”

Saya menoleh dan melihat keduanya sedang mengibas-ngibaskan tangan. Rupanya, mereka disodorkan amplop *yang isinya pasti uang bukan petasan.

Dewan Pers membagi-bagikan amplop?

Itulah yang jadi keheranan kami bertiga. Isi diskusi tentang pemberantasan pemerasan oleh wartawan, tapi kenapa di ujung acara wartawan malah diberi amplop? Bukankah jadi ironis?

Orang Dewan Pers beralasan, amplop dibagikan sebagai penghargaan kepada para undangan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk diskusi ini. Supaya peserta dari kalangan pemerintah dan kepolisian, misalnya, jadi tidak terbebani. Dan wartawan pun, karena dianggap tidak sedang liputan, sah-sah saja terima amplop.

Tapi bukankah semua peserta sudah dapat gaji masing-masing tiap bulan? Jadi buat apa lagi diberi amplop?

Apalagi wartawan. Bodrex atau bukan, sedang liputan atau tidak, kami ini jangan dibiasakan terima amplop deh Pak!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. M Fahmi Aulia

    jika ndak terima amplop, mungkin kali lain, di buku tamu ada kolom “no rekening” (hahaha…)

    January 5th, 2008 at 5:39 pm

  2. Kristian

    Pemberian amplop sebenarnya adalah pengakuan bahwa gaji dan penghargaan yang diterima oleh wartawan pada umumnya masih jauh dari tingkat yang layak. :) Sekaligus merupakan aktualisasi budaya “salam tempel”…
    Untuk wartawan bodrex, please deh ah!!!!

    January 12th, 2008 at 1:06 am

  3. zymanq

    Bagaimana antisipasi menghadapi wartawan yang memeras??? UUD ?? dasar hukum melawan wartawan itu apa? maklum diriku buta hukum, males bacanya kepanjangan pasal2.

    May 9th, 2008 at 3:34 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • ee lu — bego lu
  • aldit — iya penjelasan ini di butuhkan kalau bisa penjelasan nya harus lengkap
  • Memahami puisi — Artikel pendidikan yang sangat menarik ,,,,,
  • chocovanilla — Saya juga sedang membaca karya PAT tetralogi Buru, saat ini dah buku ketiga "Jejak Langkah". Cuma masih bingung arti kata ...
  • anabalqis — Salam. Saya mencari sahabat saya dari jakarta, saudara akidah gaizillah. Adakah saudara mengenal atau tau alamat emailnya? Akidah seorang penulis ...
  • ibnu junjunan — tolong kasi tau duwnk 3 arti satra menurut para ahli
  • cintya — ada lomba lg g ,,klo ada tlg d kabarin ke email q y di>>>cintya.annisa@yahoo.com....trim's
  • Liana — Beli dvd Rosemary's baby di mana ya?
  • Liana — Beli novel Rosemary's baby di mana ya?
  • isawati — Sosok Wiji Thukul memang unik, nyentrik dan menarik. Jarang seorang penyair yang puisinya begitu terkenal melebihi dirinya sendiri. Jika kita ...