You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: Media Kita Lebih Memihak Soeharto?
Ada pengalaman menarik dari hasil bincang-bincang dengan seorang rekan wartawan, tentang hubungan antara sakitnya Soeharto dan pemberitaan media. Saya ceritakan juga soal ini di blog saya. Tapi, tidak ada salahnya jika saya berbagi di sini.
Seorang teman wartawan (yang kebetulan juga aktivis) dapat kabar bahwa Rabu lalu, saat SCTV menayangkan talk show mengenai Suharto dengan pembicara Assegaf, Saldi Irza, pengamat, Moerdiono dan Titik Prabowo. Seharusnya Adnan Buyung Nasution sebagai salah satu pembicara juga di segmen 3 tapi Abang (demikian ABN dipanggil) pulang dengan kesal, tidak mau jadi nara sumber karena melihat bagaimana Rosi wawancara Moerdiono yang mengelu elukan Suharto sebagai bapak pembangunan. Kemudian dilanjutkan statement Titik Suharto yang mengatakan sekali lagi Suharto banyak jasanya bagi Indonesia.
Teman saya, yang mengikuti wawancara tersebut sejak awal sampai akhir juga sangat kecewa karena sebagai wartawan “independen” seharusnya kalau memang Moerdiono dan Titik dijadikan nara sumber, mengapa tidak ada korban korban Suharto yang diwawancara. Kenapa tidak ada korban DOM Aceh, tidak ada korban dari Papua, tidak ada korban Talangsari, tidak ada keluarga orang hilang, korban 65, dan masih banyak lagi. “Apakah karena Titik Suharto pemegang saham SCTV? Walahualam. ….”, ujar teman saya yang wartawan itu. ***
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 13 komentar untuk artikel ini.
daustralala
mungkin karena yang dibicarakan sedang sakit keras? hehe…
Btw, yang benar Saldi Isra, bukan Irza.
January 12th, 2008 at 2:29 pm
arya
bagaimana dengan media yang pernah diinjak2 soeharto? tempo misalnya? hehehe
lantas, bagaimana dengan kompas? pelopor jurnalisme damai (jurnalisme cari aman? hehehe…sorry, but that’s not my opinion), yang dulu saat pak harto lg kuat2nya, jarang disemprit?
ah, jadi ngaco begini
January 12th, 2008 at 6:19 pm
arya
sorry ada yg terlewat, “satrio” ini bung satrio arismunandar?
January 12th, 2008 at 6:21 pm
eriek
Soeharto memang banyak jasa-jasanya selama 32 tahun lebih dalam memimpin Indonesia pada masa Orde Baru. Tapi, tidak terlepas pula banyak dosa-dosa yang dibeberkan sejumlah media pasca reformasi tahun 1998 lalu.
Media semakin berani menyalurkan kritiknya, tanpa takut lagi dibredel atau dibungkam. Kebebasan pers benar-benar ditegakkan. Namun, di dalam media pers tersebut, tentu masih dikuasai keluarga Suharto. Tentu saja, media massa tersebut tidak lagi bisa independen. Kekuasaan pemilik modal menekan media miliknya sendiri. Agar kritik tidak selalu hadir.
January 12th, 2008 at 6:37 pm
Satrio
Buat bung Arya. Iya betul, saya Satrio Arismunandar, mantan wartawan Kompas.
January 12th, 2008 at 7:36 pm
daustralala
Mas Satrio, ikut ABN nih?
January 16th, 2008 at 12:09 am
yati
yah, namanya juga pemilik modal. dan didukung sepenuhnya sama pemilik kepentingan (sby). jadilah kita disetir seperti yang mereka mau. Maafkan Soeharto. lha dia ga nyakitin saya. mbok ya minta maafnya sama korban2 itu….jangan ke saya.
ah, capek dan boseeeen banget liat berita si tua itu
January 16th, 2008 at 2:03 pm
Sekali Lagi Tentang Pemberitaan Soeharto — Telisik Jurnalisme
[…] Sebelumnya rekan kami Satrio Arismunandar sudah curiga kalau-kalau media kita lebih memihak Soeharto. […]
January 26th, 2008 at 9:32 pm
Melayat ke Cendana — Jurnal Politik
[…] Suwiryo yang bertetanggaan dengan Jalan Cendana. Yang paling banyak berseliweran tentulah para wartawan, fotografer dan cameramen. Mereka sibuk mengabadikan momen bersejarah […]
January 28th, 2008 at 1:30 am
Lamsijan
Saya nggak perlu memaafkan Soeharto, memangnya salah apa Soeharto.
Tapi kalau Soeharto banyak jasanya saya setuju, beliau itu bapak Pembangunan. Saya masih inget, Soeharto itu identik dengan SD INPRES. Selesai dibangun 6 bualan kemudian ambruk. Itukan maksudnya bapak pembangunan.
Presiden Soekarno pada saat lengser meninggalkan hutang USD 2 Milyar. Presiden Soeharto USD 200 milyar ya pantaslah kalu disebut bapak pembangunan, buktinya sukses mebangun hutang begitu gede.
Betulkan yang dimaksud pak Murdiono, bapak pembangunan adalah itu . .
Selamat jalan Bapak Pembangunan, saya yakin bapak akan diterima oleh Allah SWT sesuai dengan amal perbuatannya .. ..
January 28th, 2008 at 4:04 am
utuh
SALE AUCTION POSTAGE STAMP
SOEHARTO PICTURES + BONUS 95 JENIS PERANGKO DARI TAHUN 1960 AN.
Aku serahkan semuanya pada anda yang lebih mengerti tentang perangko “kolektor perangko”
http://www.familiarsite.com
ada yang suka / mau sms. 0511.8803889
July 14th, 2008 at 1:12 pm
ikram
Wah, salah alamat Mas…
July 21st, 2008 at 3:11 pm
utuh
Sorry mas Ikram, kalau salah alamat. cuma main ke blog anda. Bingung mau ngomongin apa soal Soeharto. Ok. boss.
August 19th, 2008 at 1:27 pm