Ruang Berbagi Seputar Jurnalisme
Jika Soeharto meninggal hari ini, akan sangat menarik melihat pemberitaan media tentangnya. Bagaimana media akan menempatkan Soeharto dalam konteks sejarah
Indonesia kontemporer.
Apakah ia akan lebih dipandang dalam frame “positif” (pahlawan, pejuang kemerdekaan, bapak pembangunan, bapak yang sayang keluarga, dan sebagainya), atau dalam frame “negative” (koruptor kakap, diktator, pelanggar HAM kelas berat, nepotisme, dan seterusnya). Atau media mencoba bersikap proporsional?
Apakah dalam liputan itu, media lebih mengedepankan pendekatan “elitis” (dari sudut pandang kepentingan elite politik, elite ekonomi, dan elite militer)? Atau, pendekatan “populis” (dari sudut kepentingan rakyat kecil, korban-korban pelanggaran HAM, warga yang tersisih dan tertindas selama pemerintahan Orde Baru, dan sebagainya).
Frame dan cara pendekatan itu bisa kita baca dari pilihan topik, judul, dan lead yang digunakan, dan narasumber-narasumber yang dipilih. Kita sudah tahu, siapa saja figure atau tokoh yang selama ini jadi loyalis Soeharto. Siapa pula yang terang-terangan jadi musuh-musuh Soeharto. Dan, ada pula yang mencoba menempatkan diri di tengah.
Sejumlah media patut dicermati pemberitaannya, karena kedekatan dari figur pemilik media tersebut terhadap Soeharto dan keluarganya. Atau di media-media yang masih ada saham keluarga (anak-anak) Soeharto di dalamnya. Kepemilikan modal jelas bisa mempengaruhi kebijakan redaksional media.
Yang saya sesalkan, banyak wartawan muda sekarang yang kurang punya “kesadaran ideologis.” Mereka pintar secara akademis, karena lulusan universitas ternama, tetapi “polos” dan “lugu” secara politis. Tanpa disadari, mereka jadi mudah “disetir” dan “dikendalikan” untuk membawakan isu-isu, yang sarat kepentingan tertentu.
Masalah Soeharto dan keluarganya adalah salah satu topik yang sarat kepentingan. Cara pemberitaan media kini menjadi salah satu ukuran, sampai seberapa jauh daya kritis dan pemihakan para wartawan kita. Mudah-mudahan, pandangan bahwa wartawan sekarang banyak yang “kurang punya kesadaran ideologis” itu cuma kesan saya saja. Mudah-mudahan… ***
This entry was posted by Satrio Arismunandar on Saturday, January 12th, 2008 at 12:49 am and is filed under Teknik penulisan, Kebijakan redaksional, Nilai berita. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Join the discussion. Add your comment.