You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Article: AJI Bandung tentang liputan media soal kematian Soeharto
ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN KOTA BANDUNG (AJI Bandung) Sekretariat : Jalan Aceh 56 Bandung Telp / Fax : 022 – 4261548 e-mail : ajibandung@yahoo. com
Bandung, 28 Januari 2008
No : 002/AJIB-Sekre/ Statemen/ I/2008 Hal : Pernyataan AJI Bandung pada peliputan media atas kematian mantan Presiden Soeharto
Kepada Yth, Jurnalis di seluruh Indonesia (untuk disiarkan)
Salam Independen!
AJI Bandung ikut berbelasungkawa dengan meninggalnya Presiden Ke-2 Indonesia, Soeharto.
Jurnalis histeris melihat kejadian Soeharto sakit dan akhirnnya meninggal sehingga menafikkan profesionalisme dan etika sebagai jurnalis. Contohnya, tontotan perkelahian antar jurnalis di lobi RSPP, lalu aksi dorong-mendorong yang memecahkan kaca di lobi dan kesalahan data dalam pelaporan.
Perilaku jurnalis tidak profesional itu tidak hanya merugikan publik yang ingin mendapatkan informasi dengan akurat, tapi menghambat publik yang memiliki hak mencari layanan kesehatan atau sedang menjalani proses perawatan di rumah sakit tersebut.
AJI Bandung menyesalkan ketidakprofesionalan jurnalis tersebut. Dan, menurut kami, hal ini terjadi karena pola rekrutmen yang terlalu sederhana untuk jadi reporter sehingga persoalan teknis dan etika kadang terlewatkan.
Seharusnya desak-desakan yang terjadi selama di RSPP dan di Cendana tidak perlu terjadi jika perusahaan menyediakan peralatan liputan yang layak untuk para jurnalis. Misalnya, untuk jurnalis radio mereka seharusya memiliki boomer untuk merekam suara. Dan, para jurnalis televisi seharusnya memiliki peralatan kamera yang lebih canggih untuk merekam gambar dari jauh.
Karena itu, AJI Bandung meminta manajemen media lebih memperhatikan kebutuhan teknis reporter lapangan serta menjamin independesi redaksi bahkan dari pengaruh pemilik media sendiri, sesuai amanat Undang-undang Penyiaran.
Selain itu, AJI Bandung juga menyesalkan bingkai media massa selama 24 jam terakhir. Konglomerasi media massa di Indonesia telah mengantarkan publik untuk melupakan tragedi selama 32 tahun kekuasaan Soeharto. Produk televisi saat ini hanya untuk menonjokan pencitraan positif keluarga Cendana dan cenderung mengesampingkan kasus hukum Soeharto. Ini berarti, reformasi 10 tahun untuk menegakkan hukum telah dibelokkan media massa dalam liputan mereka. Tentu ini bukan bahan pelajaran yang bagus di masa mendatang.
Parade sirkus media massa ini, telah mendorong masyarakat Indonesia tidak kritis terhadap persoalan bangsanya sendiri. Parade sirkus media ini telah menafikkan hukum sebagai pilar negara.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung
Agus Rakasiwi
Agus Rakasiwi/Freelancer
081586056397/ 022 70422998 www.agusnews.wordpress.com
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
mata jogja
diawal paragraph saya terkesan dengan pandangannya. tetapi ditengah2 seruan, saya kurang paham dengan seruan yang dilontarkan oleh AJI Bandung ( dan sepertinya dengan AJI kota lainnya. Seperti ada kesamaan tuturan dan pola pikir.) apa hak AJI meminta sebuah perusahaan untuk melengkapi peralatan reporternya, wong reporternya saja mau bekerja tanpa peralatan ?
kedua soal istilah tragedi 32 tahun kekuasan Soeharto, ini tragedi menurut siapa ? Media waktu itu memang tidak sebebas sekarang, tetapi kondisi itu justru menumbuhkan daya ekspresi dan kreatif media. ( Saya duga, anda belum mengalami masa-masa Orde Baru dan hanya belajar dari referensi/buku2). bertanyalah lebih banyak pada para orang tua. janga hanya belajar dari satu sumber saja.
January 29th, 2008 at 6:38 pm