You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme
Yuli Ahmada — September 2, 2010 / 12:37 pm / 3 comments
Kerajaan bisnis dinasti Bakrie semakin agresif merebut sumber-sumber pembentuk opini sejak anak perusahaannya, PT Lapindo Brantas Inc, terpojok karena lumpur di Sidoarjo. Mereka tidak cukup puas menanamkan pengaruh lewat strategi public relation yang nyaris mustahil berhasil tanpa sokongan duit melimpah.
Yuli Ahmada — September 2, 2010 / 3:31 am / 1 comment
Hampir semua media terkemuka, bukan saja di Indonesia tapi juga di luar negeri, tidak mencantumkan gelar akademik wartawan dalam susunan redaksi maupun laporan byline. Mari mencomot contoh dari media luar negeri dulu, mulai The Washington Post, The Christian Science Monitor di Amerika Serikat sampai The Guardian di Inggris. Media dalam negeri juga begitu, taruh contoh [...]
Yuli Ahmada — September 1, 2010 / 3:33 am / 1 comment
Sejak berubah tampilan, saya jarang sekali mampir ke situs Majalah TEMPO. Maka, ketika baru saja mampir, saya jadi kaget melihat foto Puteri Indonesia 2008 di sebelah kanan sidebar. Semula saya kira memang iklan tapi setelah saya gulir ke kanan, ternyata fotonya terlalu akbar. Sangat tidak proporsional.
Yuli Ahmada — September 1, 2010 / 2:47 am / Comments
Coba ketikkan “buttermilk pancakes” di Google. Hasil pencarian teratas niscaya menyuguhkan content dari Knol, layanan baru cuma-cuma dari Google. Inilah problem lama tapi terbaru dari Google sebagai mesin pencari sekaligus penyedia content.
Yuli Ahmada — August 31, 2010 / 11:28 am / 3 comments
“Meskipun harus diakui bahwa metode polling online masih jauh dari kategori ilmiah, tapi tidak tertutup kemungkinan bagi penyelenggara polling untuk melakukan pembenahan ke arah yang lebih baik.” Itu kesimpulan Eriyanto tahun 2002. Ia pembagi ilmu polling paling murah hati tapi nama dan nomor teleponnya tidak tercatat dalam handphone kebanyakan wartawan Jakarta. Sebab itu, dia tidak basah [...]
Yuli Ahmada — March 14, 2010 / 4:49 pm / 1 comment
Ini peluang bagus buat jurnalis suratkabar, majalah, media televisi, radio, maupun media online. Ada dua lembaga dari Jerman, Internationale Weiterbildung und Entwicklung (InWEnt) dan Peace and Conflict Journalism Network (Pecojon) yang bakal memberikan kursus gratis soal jurnalisme damai. Mereka menyebutnya jurnalisme peka konflik.
Yuli Ahmada — March 14, 2010 / 4:44 pm / Comments
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bersama lembaga the Dag Hammarskjöld Scholarship Fund for Journalists menawarkan beasiswa buat para jurnalis dari negara-negara berkembang tahun 2009. Tenggat waktu pengiriman pendaftaran sampai 20 Maret 2009.
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server