Ruang Berbagi Seputar Jurnalisme
2 replies — ikram on February 25th, 2008
Howard Owens dari GateHouse Media punya sepuluh cara bagi wartawan “menemukan kembali” jurnalisme. Berikut ini terjemahan dari artikelnya yang berjudul “Ten things journalists can do to reinvent journalism”.
2 replies — Firman Firdaus on December 14th, 2007
POSTING ini sebenarnya masih berkaitan dengan posting sebelumnya, yakni tentang kapabilitas (kecakapan) seorang juru warta.
Ceritanya, saya termasuk yang kebagian meliput Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali. Sebagai peristiwa besar dan mengglobal, helatan ini mendapat peliputan yang juga besar. Hampir semua jurnalis dari berbagai negara hadir di sana.
Sayangnya, sebagian besar wartawan (Indonesia, terutama), kelihatan masih […]
2 replies — Firman Firdaus on November 18th, 2007
SAYA masih menjumpai beberapa media yang masih menerjemahkan “climate” sebagai “cuaca”. Jangan dulu bicara makna, lha terjemahannya saja sudah salah. Climate itu jelas-jelas iklim, sedangkan cuaca dalam bahasa Inggris “weather”. Lalu, bedanya apa?
Iklim adalah pola cuaca yang terjadi dalam jangka waktu panjang, 30-100 tahun. Contoh: iklim tropis, sub-tropis, iklim panas, iklim dingin. Sedangkan cuaca adalah […]
2 replies — ikram on September 25th, 2007
Pertama-tama, kami mengucapkan terimakasih kepada Ivan Lanin yang telah menanggapi kritik kami mengenai artikel di Wikipedia yang sempat membingungkan. Tidak hanya itu, artikel Wikipedia malah sudah dibetulkan (Betapa senang bukan, jika kritik kita didengar orang dan mampu menimbulkan perubahan?)
Jadi elemen jurnalisme ada sembilan.
Kedua, nah ini dia masalahnya. Elemen jurnalisme (tentu masih menurut Bill Kovach dan […]
3 replies — ikram on September 23rd, 2007
Jadi ceritanya barusan ini saya berjalan-jalan ke Wikipedia (tidak usah di-hyperlink pasti sudah tahu ya) dan membaca-baca artikel “Journalism”.
Eh, ternyata ada subjudul “The Elements of Journalism” yang isinya membingungkan ini. Saya kutipkan:
According to The Elements of Journalism by Bill Kovach and Tom Rosensteil, there are nine elements of journalism. In order for a journalist to […]
3 replies — Firman Firdaus on September 19th, 2007
Dari proses mengasah kepekaan dengan mendengarkan berita, misalnya, akan timbul ide untuk memulai sebuah tulisan. Jangan berlama-lama berpikir. Isu-isu bagus biasanya menjadi santapan empuk para penulis kawakan.
Misalnya berita tentang gempa Bengkulu.
Para penulis piawai pasti langsung menyambar isu yang “seksi” ini. Anda pun bisa saja melakukannya dengan pendekatan/angle yang agak berbeda. Contohnya dari sisi bagaimana pemerintah […]
One reply — Firman Firdaus on August 20th, 2007
PADA bahasan sebelumnya, saya menganjurkan untuk mulai berlatih menulis secara personal sebagai cara mengasah kepekaan. Sebenarnya ada banyak cara lain untuk mengasah kepekaan.
Membaca, tentu saja. Membaca buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Artikel opini di media massa, cerpen, atau novel. Selain untuk mempertajam intuisi, membaca juga merupakan jalan untuk menambah wawasan dan referensi. Siapa tahu berguna […]
2 replies — Firman Firdaus on August 17th, 2007
SAYA akan coba berbagi tentang buku Elemen-elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dengan cara menampilkan kutipan yang, menurut saya, menarik dan patut dinukil.
Sedangkan proyek tips untuk menulis di media massa akan tetap berjalan seperti biasa, meski dengan frekuensi yang tidak menentu :D. Tapi, saya coba, di tengah kesibukan yang mendera, konsisten untuk memberi […]
One reply — Firman Firdaus on June 4th, 2007
Arya Gunawan, jurnalis yang sekarang bekerja untuk badan PBB Unesco menulis tentang betapa pentingnya verifikasi (cek dan ricek) dalam melaporkan suatu peristiwa. Sayangnya, hal penting ini sering diabaikan oleh para jurnalis kita yang notabene sudah bekerja di surat kabar bergengsi sekalipun.
Salah satu alasan yang sering dikuarkan adalah karena “tidak terpikir karena dikejar tenggat”. Tapi, apakah […]
3 replies — Firman Firdaus on May 30th, 2007
REPORTER yang biasa bertugas di lapangan pasti sering menemui pengalaman untuk mengejar-ngejar narasumber penting alias A1. Untuk mewawancarai narasumber secara on the spot (bukan wawancara eksklusif) biasanya wartawan mencarinya dengan mengendus “kerumunan”. Di mana ada kerumunan, di situ biasanya ada narasumber yang sedang diwawancari oleh wartawan-wartawan lain.
Recent Comments