You're here: My Writing Blogging » Telisik Jurnalisme » Kode etik
“Meskipun harus diakui bahwa metode polling online masih jauh dari kategori ilmiah, tapi tidak tertutup kemungkinan bagi penyelenggara polling untuk melakukan pembenahan ke arah yang lebih baik.” Itu kesimpulan Eriyanto tahun 2002. Ia pembagi ilmu polling paling murah hati tapi nama dan nomor teleponnya tidak tercatat dalam handphone kebanyakan wartawan Jakarta. Sebab itu, dia tidak basah [...]
MENARIK sekali posting di milis jurnalisme, sampai-sampai membuat saya harus membaginya di sini :) Selama ini, hubungan antara humas sebuah instansi atau perusahaan dan wartawan memang seperti tabu untuk dibahas. Seperti dalam posting itu, hubungan keduanya bersifat simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Namun sejauh mana sebaiknya kemesraan dibina? =========================================== Hubungan Humas-Wartawan, Jangan Terlalu Mesra Oleh: S. SAHALA TUA SARAGIH HUBUNGAN antara [...]
Dari Antara: Divonis Satu Bulan Penjara, Bersihar Ajukan Banding Depok (ANTARA News) - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Depok yangmenyidangkan kasus Bersihar Lubis menjatuhkan vonis hukuman satu bulan penjara dengan masa percobaan tiga bulan. Bersihar yang merasa kecewa dengan putusan tersebut berniat untukmelakukan banding. “Saya merasa kecewa dengan putusan hakim. Bersama kuasa hukumsecepatnya setelah menerima salinan putusan maka [...]
Ini tulisan lama saya di blog pribadi. Menyesal sekali tak langsung menuliskannya disini… Rabu (7/11) siang di Hotel Bumi Wiyata Depok ada diskusi yang diadakan Dewan Pers. Topiknya soal penegakan profesionalisme pers. Antara lain, bagaimana cara menghadapi wartawan bodrex yang suka meminta-minta amplop. Pesertanya dari pemerintahan, polisi, dan juga wartawan (wartawan bodrex-nya sendiri konon juga ada [...]
SAYA akan coba berbagi tentang buku Elemen-elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dengan cara menampilkan kutipan yang, menurut saya, menarik dan patut dinukil. Sedangkan proyek tips untuk menulis di media massa akan tetap berjalan seperti biasa, meski dengan frekuensi yang tidak menentu :D. Tapi, saya coba, di tengah kesibukan yang mendera, konsisten untuk memberi [...]
REPORTER yang biasa bertugas di lapangan pasti sering menemui pengalaman untuk mengejar-ngejar narasumber penting alias A1. Untuk mewawancarai narasumber secara on the spot (bukan wawancara eksklusif) biasanya wartawan mencarinya dengan mengendus “kerumunan”. Di mana ada kerumunan, di situ biasanya ada narasumber yang sedang diwawancari oleh wartawan-wartawan lain.
DI milis jurnalisme sastrawi ada diskusi menarik tentang nasionalisme dan jurnalisme. Adalah ZenRS (BZ) yang memantik diskusi dengan sebuah posting tentang pentahbisan Mas Marco Kartodikromo sebagai “Bapak Wartawan Indonesia”.
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server