You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra
Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA) akan mengadakan Pesta Penyair Nusantara pada 20-22 November 2009 yang bertempat di Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur dan Rumah PENA Kuala Lumpur. Acara ini melibatkan penyertaaan penyair dari Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Thailand dan juga negara Asia Pasifik. Pada masa yang sama Pesta Penyair Nusantara ini merupakan langkah dan sokongan terhadap usaha untuk menjadikan Kuala Lumpur sebagai Bandar Budaya.
Sehubungan dengan itu PENA mengundang para penyair untuk mengikuti acara Pesta Penyair Nusantara tersebut. Akomodasi selama acara ditanggung pihak penyelenggara. Para penyair akan dimintakan untuk membacakan puisi di Pesta Penyair Nusantara. Kirim (3) puisi terbaik kepada
smzakir90@gmail. com
untuk dimua dalam antologi puisi pesta penyair.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Berikut puisi Rendra yang ditulis menjelang kepulangannya, di RS Mitra Keluarga Depok pada 31 Juli 2009
Aku lemas Tapi berdaya Aku tidak sambat rasa sakit atau gatal
Aku pengin makan tajin Aku tidak pernah sesak nafas Tapi tubuhku tidak memuaskan untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra
31 July 2009 Mitra Keluarga
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Krakatau Award 2009 akan menentukan empat puisi-prosaik terbaik dan enam nominasi. Juara I-IV memeroleh hadiah uang masing-masing Rp2 juta, Rp1,5 juta, Rp1 juta, dan Rp500 ribu. Selain itu, juara akan diundang pada acara Festival Kesenian Lampung 2009, November mendatang, terbuka untuk umum. Setiap peserta dapat mengirim maksimal tiga naskah puisi-prosaik, naskah dikirim dalam bentuk print out rangkap empat, karya asli, bukan jiplakan, tidak sedang diikutsertakan pada perlombaan lain, dan tidak pernah dipublikasikan.
Persyaratan lain, naskah maksimal 10 halaman diketik 1,5 spasi. Biodata peserta dan fotokopi kartu identitas (KTP/SIM/kartu pelajar/kartu mahasiswa) disertakan pada lembar terpisah.
Naskah dikirim ke Panitia Krakatau Award 2009, Dewan Kesenian Lampung, Kompleks PKOR Way Halim, Jalan Sumpah Pemuda, Way Halim, Bandar Lampung.
Lomba ini akan ditutup pada 2 Oktober 2009 (cap pos). Pengumuman akan disampaikan lewat media massa nasional dan daerah pada akhir Oktober 2009.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Femina menantang Anda mengeksplorasi berbagai tema dan gaya bercerita.
SYARAT UMUM SAYEMBARA CERPEN & CERBER:
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
SERAMBI INDONESIA (ACEH)
*Esai
“Menulis dengan Merdeka” Oleh: Halim Mubary
*Cerpen
*Puisi
HARIAN GLOBAL (SUMATRA UTARA)
*Puisi
BATAM POS (KEP. RIAU)
*Cerpen
“Djibril dan Aku” Oleh: Pringadi Abdi Surya
*Puisi
RIAU POS (RIAU)
*Esai “Syair Zikir di Tubuh Peluh dalam Telimpuh” Oleh: Khrisna Pabichara
*Cerpen
*Puisi
PADANG EKSPRES (SUMATRA BARAT)
*Esai
“Membaca Budaya Korea lewat Sastra” Oleh: Tjahjono Widijanto
SUMATRA EKSPRES (SUMATRA SELATAN)
*Cerpen
“Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi” Oleh: Lan Fang
*Puisi
LAMPUNG POST (LAMPUNG)
*Cerpen
“Taman yang Pernah Kusinggahi” Oleh: S.W. Teofani
*Puisi
SUARA KARYA (JAKARTA)
*Esai
“Mimpi yang Indah” Oleh: Sunaryono Basuki Ks.
*Cerpen
“Kabar Kematian” Oleh: Mustafa Ismail
*Puisi
SUARA PEMBARUAN (JAKARTA)
*Cerpen
“Aku dan Mario” Oleh: Ema Harifa
*Puisi
JAWA POS (JAWA TIMUR)
*Cerpen
KOMPAS (NASIONAL)
*Esai
“Giliran Budaya Bicara” Oleh: Franki Raden
*Cerpen
“Tukang Cuci” Oleh: Mardi Luhung
*Puisi
Hasan Aspahani, Indrian Koto dan Ook Nugroho
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
KISAH (Kontes Inspirasi dan Harapan) adalah lomba menulis tahunan yang diselenggarakan oleh ESENSI, divisi penerbitan Erlangga Group. Lomba Kisah 2009 ini mengangkat kisah sejati yang memberi inspirasi dan harapan, dengan tema berikut.
“Cinta Melampaui Masa”
Melalui KISAH, Esensi ingin menggugah hati semua orang untuk berbagi kisah yang memberi inspirasi dan semangat hidup pada pembacanya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Selamat Bagi Pemenang….
Tidak ada Pemenang I, II, III untuk Lomba Cipta Puisi Radar Bali Literary Award 2009. Dewan Juri (Eka Pranita Dewi, penyair Tan Lioe Ie, serta penyair Warih Wisatsana) menetapkan 5 Pemenang Utama Terbaik yang juga berhak atas piala Gubernur Bali, yakni:
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
OLEH: DUL ABDUL RAHMAN
Tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan kita saat ini masuk dalam kategori krisis. Banyaknya bencana alam yang menimpa negeri ini karena alam dijamah dengan serakah oleh manusia yang berwajah tak ramah. Jamak manusia terlalu tamak mengeruk hasil hutan untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak sadar bahwa ulahnya itu akan menimbulkan amarah alam di kemudian hari. Banjir bandang, erosi, longsor, adalah bahasa alam untuk menegur manusia yang kadang tak berperikemanusiaan dan berperikealaman.
Dengan amarah alam itu, maka krisis lingkungan terjadi di berbagai aspek, seperti krisis air, tanah, udara, bahkan krisis iklim. Bukan hanya itu, pun terjadi krisis lingkungan biologis dan lingkungan sosial. Krisis lingkungan biologis terjadi dengan tidak produktifnya lahan-lahan pertanian, pun punahnya flora dan fauna berupa satwa-satwa langka disekitar kita seiring dengan semakin menipisnya hutan.
Itulah akibat dari eksploitasi lingkungan yang semena-mena tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya kelak. Fenomena seperti ini seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya menjaga dan “menghormati” lingkungan sekitar kita. Semua pihak seharusnya berperan mendorong sikap menjaga lingkungan, termasuk para sastrawan.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
SERAMBI INDONESIA (ACEH)
*Esai
“Pong, Ma dan Tuhan” Oleh: Dr. Hasballah Saad
*Cerpen
“Seorang Cut Nyak Dhien” Oleh: Dwi Meilvi Nasvita
*Puisi
HARIAN GLOBAL (SUMATRA UTARA)
*Cerpen
“Air” Oleh: Rina Mahfuzah Nst.
*Puisi
BATAM POS (KEP. RIAU)
*Cerpen
“Kunti Tak Henti Berlari” Oleh: Berto Tukan
*Puisi
RIAU POS (RIAU)
*Esai
“Meneroka Teks Epos Melayu Hikayat Hang Tuah” Oleh: Marhalim Zaini
*Cerpen
“Pulau-pulau Kecil Menakjubkan, Nama-nama yang Menggetarkan” Oleh: Raudal Tanjung Banua
*Puisi
SUMATRA EKSPRES (SUMATRA SELATAN)
*Puisi
LAMPUNG POST (LAMPUNG)
*Cerpen “Sikap” Oleh: Humam S. Chudori
*Puisi
SUARA KARYA (JAKARTA)
*Esai
“Ketika Sastra Dinomorduakan (Tanggapan atas Tulisan Damhuri Muhammad)” Oleh: Romi Zarman
*Cerpen
“Matinya Penjual Bubur Ayam” Oleh: Hendri Ch. Bangun
*Puisi
SUARA PEMBARUAN (JAKARTA)
*Cerpen
“Burung Rajawali” Oleh: Maria Magdalena Bhoernomo
*Puisi
TRIBUN JABAR (JAWA BARAT)
*Cerpen
“Babakan Sumpah Jamilla” Oleh: Esha Tegar Putra
PIKIRAN RAKYAT (JAWA BARAT)
*Esai
“Kiai, Puisi dan Pidato” Oleh: Acep Zamzam Noor
“Sastra, Tragedi dan Kejutan Imajinasi” Oleh: Munawir Aziz
*Cerpen
“Selina Gita” Oleh: Hamsad Rangkuti
*Puisi Beni Setia
JAWA POS (JAWA TIMUR)
*Esai
“Kesatria” Oleh: D. Zawawi Imron
*Cerpen
“Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi” Oleh: Lan Fang
KOMPAS (NASIONAL)
*Cerpen
*Puisi
KORAN TEMPO (NASIONAL)
*Cerpen
*Puisi
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
di dalam buku yang jernih pembahasannya, derrida, yang dikarang oleh muhammad al fayyadl dan diberi kata pengantar oleh goenawan mohamad, buku terbitan lkis, terbaca kata kata di catatan kaki yang dibuat oleh pengarang, di halaman pembukaan.
“dalam sepucuk surat kepada alter egonya, tertanggal 3 september 1977, derrida menulis: setiap hari kau meluangkan lebih dari sehari untuk dirimu. aku benar benar menyangka bahwa kau tak kan kembali lagi. tidak adakah kabar baru tentang pencarian kebenaran? biarkan aku mengetahuinya. “
“ambillah jarak agar aku dapat menulis kepadamu. jika kini aku selalu mengirimi kartu yang sama, itu karena aku ingin mati dan mengakhiri diriku dalam satu tempat yang merupakan sebuah ‘nama’, dan membatasi diriku pada satu kata, satu nama.”
bagi saya sepercik pikiran sudah cukup untuk menyalakan imajinasi dalam diri. cukup untuk memasuki lorong jiwa derrida. bahwa orang itu berupaya menggapai kebenaran dengan keras, dengan setiap hari meluangkan waktu untuk menulis. tapi kebenaran seolah nyala lilin - selalu bergoyang goyang. kadang ia merasa sudah dapat menangkap berkasnya. tapi angin malam membuatnya luput lagi.
“aku benar benar menyangka bahwa kau tak kan kembali lagi,” katanya.
tapi saat ia menulis lagi, berkas cahaya itu kembali lagi. dan nyala lilin itu kembali bergoyang.
begitulah apa yang disebutkannya sebagai kebenaran, seakan upaya menggenggam air dalam tangan - air selalu mengerucut dari balik tangan. atau seakan menggenggam roh dalam badan - roh pun semakin sembunyi ke balik badan.
situasi menulis dalam keadaan seolah termenung seperti itu, memang akhirnya meluncurkan kalimat kalimat sedih. romantis, kata maghie oktaviana tadi di bawah. mungkin tak tepat kata romantis, untuk suasana kejiwaan derrida. yang lebih tepat derrida sedang mengalami melankolia, yang mungkin tak disadarinya, saat ia mengguratkan pena, menuliskan perasaan hatinya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja