Wiji Thukul; Pendulum yang Masih Berdetak
Thursday, May 31st, 2007
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kau hendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah
(Wiji Thukul; 1987)
Penggalan bait pertama dari puisi yang berjudul “Bunga dan Tembok” diatas adalah secuil dari rasa ‘sayang’ penulisnya terhadap nasib rakyat akar rumput—Indonesia. Seperti yang kita ketahui, selama 30 tahun rasa keadilan dan kebenaran di Indonesia serasa dilucuti oleh tindakan-tindakan represif pemerintah. Dan penulis puisi ini (penggalan puisi diatas) hidup diantara jutaan rakyat Indonesia yang rasa keadilan dan kebenarannya itu dilucuti oleh para abdinya sendiri. Dialah Wiji Widodo atau yang akrab disebut dengan Wiji Thukul.
Popularity: 20%