Selamat datang di blog Susastra
Bukankah tepat pepatah yang mengatakan bahwa sastra membuat hidup lebih lentur? Pula blog ini, semoga bisa menambah gemulai ranah blogosfer.
Popularity: 15%
Bukankah tepat pepatah yang mengatakan bahwa sastra membuat hidup lebih lentur? Pula blog ini, semoga bisa menambah gemulai ranah blogosfer.
Popularity: 15%
March 6th, 2008 at 3:50 pm
Saya belum tahu bagaimana caranya mengirimkan tulisan. Apakah lewat ini? tapi saya akan mencobanya. Sebab saya suka berangkat dari kebodohan dan ditertawakan. Saya lampirkan sekalian resensi kali ini:
IMC Kuadrat: Islam Mazhab Cinta
Renungan dari Membaca Islam Mazhab Cinta
MEMBAKAR SEMANGAT MENGUKUHKAN JIWA, itulah lukisan saya. Setelah membaca karya Gugun el-Guyanie yang bertitel Islam Mazhab Cinta. Kerisauan ini kembali terobati. Selepas memandang kerusakan alam Nusantara, atas ulang jemari tangan anak-anaknya. Buku yang diterbitkan Kutub Wacana (februari 2008), dieditori Muhsin Kalida, MA dipengantari HM. Nasruddin Anshory Ch. Saya menemukan nalar-nalar produktif sungguh segar, refleksif penuh perhitungan yang didasari kekayaan bathiniah. Setelah penulisnya mengkaji berbagai pengetahuan dari para pakar yang dia sambangi, lewat warisan-warisannya berupa buku dan kitab-kitab lama.
Dia tak sekadar mencoba, tapi merefleksikan setiap gejala alam; apakah bencana, kasuistik benturan ideologi, serta pernik-pertikaian tradisi dengan gerak perubahan modern. Bagi saya, buku itu menjanjikan bakal adanya perubahan besar yang kian berkembang. Usaha kesungguhan dari seorang anak manusia yang mendiami bumi bergejolak, carut-marut yang sering kita lupa mencintainya (:Indonesia).
Saya mendapati hasil perkembangan terbaru dari bulir-bulir pemikiran para cendekia bumi putra tempo dulu, yang diolahnya bagai bencah tanah begitu subur nan bening oleh Gugun el-Guyanie. Di mana tak sekadar mementingkan kekayaan intelektual semata, namun juga membongkar akar kemiskinan yang terus menjerat masyarakat kita. Dia tak semata mengembangkan kepiawian sebagai sosok intelektual dari bumi terjajah gemerlap jaman menggoda tiap mata kelaparan, kehausan pamor. Tapi dia lebih mengedepankan kesadaran umat, agar berfikiran positif akan gejala masa (:jaman) yang kian melindasi orang-orang tersisikan.
Karena berangkat dari keterbatasan terolah. Khasanah yang tampil di hadapan, merupakan buah-buah matang bergelantungan, pada pohon berakar menghujam di tanah tradisional. Inilah kembang harum siap dipetik bagi pengantin peradaban Timur-Barat. Ketika ditelaah, sungguh luar biasa daya kekuatan jiwanya. Seorang cendekia takkan purna jikalau hanya berkutat pada pengolahan nalar saja, sedang yang dia suguhkan berasal hasil praktek dirinya, dalam mengembangkan pribadinya kepada sesama.
Kewajarannya tampil ketika menyadari suatu keterbatasan itu bukan penghalang, namun semacam tantangan harus dilalui. Barang siapa mampu menjebolnya, maka hikmah kobaran rindu perdamaian teratasi, minimal bagi dirinya yang rindu kasih sesama. Andai di kedalaman kalimahnya kita menemukan tampilan sekelumit ego. Itu dapat difahami sebab kepemudaannya terang gemilang. Taklah pantas membetot dengan tanpa menilik selidik bagian yang memang dalam nan penuh makna darinya. Di tangan pemudalah bangsa ini kan sampai lebih santun. Ketika dia terus mengolah materi-materi kejiwaannya, dalam mengembang-terbangkan pemikiran kepada khalayak.
Dia merupakan salah satu intelektual Kutub Yogya. Pada barisannya, kita sanggup mengimpikan Indonesia kelak ditumbuhi para pakar muslim tak lupa umat. Sebab tak keranjingan jabatan oleh atmosfir yang terangkum-bangun dalam lingkungannya ialah alam kebersamaan. Karena pesantren merupakan bentuk tradisi paling kuat, dalam menyebarkan keilmuan Islam. Menjadikan persaudaraan sesama, tanpa tinggi rendah senior-junior, ketika faham wawasan saling berdialog demi memantabkan pribadi, untuk masyarakat lebih luas, yakni bumi jagad ayu, rentetan kepulauan cantik, sekalung indah putri pertiwi.
Saya tak gegebah mengatakan ini, saat melihat para santri almarhum KH Zaenal Arifin Thoha yang masih di masa kini. Masa orang-orang sudah terlanjur ugal-ugalan dengan motif gengsi serta arogansi kekayaan semu. Namun dengan riangnya para santri itu menaiki keterbatasannya (naik sepeda ontel) untuk kuliah ke UIN Yogya, atas jaraknya 5kiloan dan ini setiap hari. Menelusuri perbedaan, warna-warni yang tambil menyeberangi pandangan. Tidakkah yang mengamati lebih jauh faham merasai dirinya daripada yang berkelebat cepat itu, ada sesuatu terjatuh namun tak terketahui. Isi buku ini dapat diilustrasikan; mengambili paku-paku di tengah jalan, batu-batu pemikiran posmo-kebablasan dijumput, ditaruh di pojok-pojok laluan, guna tak mengganggu pandangan makna jalan lurus.
Inilah tirakat terbesar, desir fikiran saya kepadanya. Ketika pelajar yang lain membangun kembangkan proyek demi masa depan, namun di lingkungan Hasyim Asyari masih menikmati pergulatan jiwa dalam berbagai ilmu pengetahuan yang diwarisi perpustakaan oleh Gus Zainal. Oh, inikah kemapanan jiwa yang telah menanggulangi kemiskinan raga (?). Senada kalimah hikmah para ulama terdahulu: “ilmu takkan hadir kecuali melewati keterbatasan-keterbatasan. Serta kepayahan menuntut ilmu, jauh lebih berharga dari lautan mutiara. Yang kegigihannya dinaungi para malaikat bersayap hikmah.”
Kembali kepada nalar kalbu Gugun el-Guyanie mengenai Islam Mazhab Cinta, saya fikir dia tak berlebihan melabelkan bukunya dengan stempal tersebut. Setidaknya saya manghormati keindahan analisanya yang dipadu irama-ramai sejarah. Dia menguliti habis masa lampau lewat kacamata obyektif dalam menghadirkan gambaran kekinian. Saya sebut itu karya penggalian, pengerukan terdalam. Demi hadirnya sumber mata air kesadaran bagi pembaca, di samping bagi dirinya yang muda. Tetapi sekali lagi, ketika bahan-bahan sejarah berserak dari berbagai sumber telah dimamah-kunyah, hadirlah keluasan. Yang mana kurang penting, apakah baru belajar melawan, sebab makna kesadaran itu sama. Dia tak dalam keadaan tergopoh ketika menghadirkan buku itu. Pun tidak kelelahan, dalam melagukan irama jiwa-nalarnya, yang telah terbukti diberbagai media masa.
Sering kali saya merasa malu pada anak muda yang cerdik-cendeki, ketika menengok usia saya belum menghasilkan apa-apa. Sementara sosoknya telah memantabkan pribadi (secara lahiriah-nalarnya dan bathiniah-jiwanya). Berangkat dari niatan mulia, memurnikah khasanah keilmuan di bumi putra. Olehnya saya tak segan berguru padanya selalu, setiap datang ke Yogya. Gemetar saranya, ketika jiwa ini diajaknya bertukar-bentur pengalaman, antara berbagai hal; apakah perjalanan suatu organisasi, pengelanaan para pencapai ilmu. Semua itu telah dia miliki, atas gesekan bersama saudara-sudaranya yang lain di LKKY.
Kecenderungan dia pada volume pemikiran Nurcholis Madjid, Fuzlur Rahman pun para ulama tempo dulu. Tidak membuat mati nalarnya, atau menyepitkan gerak runcing penanya. Malah saya mengamati semakin indah seperti sampan digoyang berbagai ombak, namun tak tenggelam. Sebab sudah menguasai teknik bathin wacana yang didengungkannya. Serta dia tak segan melucuti pemikir yang kurang obyektif semacam kepemilikan Max Weber. Sungguh, andai anak-anak manusia tanah air ini, semua pemberani, tentu nalar-nalar kebangsaan kita tidak tertindas mesin perusak, dari sejarah menyimpang atas segelintir keinginan, belahan bumi bernama hasrat menguasai.
Para pembaca buku IMC tentu tak menyangka. Kalau kini penulisnya sedang menyelesaikan kuliah S1, tepatnya saat tulisan ini saya buat, dia tengah dalam detik-detik pengujian skripsi. Ketidaktersangkaan itu wajar. Karena sering kali kita lihat para pengajar (dosen), banyak yang membangun gugusan gagasan berupa buku, namun kalimah-kalimahnya gagap. Seperti mentalnya direbus ketakutan rasa malu berlebih. Padahal itu tak beralasan, andai mereka menempatkan jiwanya sebagai “yang berpsoses.” Ada yang terbelit berkata kesibukanlah, keluargalah serta jenis-jenis mementalkan ragawinya dalam suntuk menggeluti keilmuan. Yang nyatanya sebagai kran mahasiswa. Malu rasanya, jika murid lebih piawai mengayunkan pedang yang diwarisi dari gurunya, yang tak kuasa memegang dari sang empu sebelumnya. Ini seringkali khalayak mengatakan; “itulah kerendahan hati, kesahajaan para guru.” Oh begitu garangnya mitos tersebut memperosotkan, melucuti jiwa-jiwa pengajar, menjadi yang tumpul, lunglai lumpuh total.
Padahal lewat kekaguman, kita dapat belajar pada yang lebih muda. Bukan sebaliknya mematikan rasa pribadi dengan menutup diri, atas dasar merasa telah mencapai dakian tertinggi. Marilah berhenti sejenak, tidakkah cara pendakian awal menghantarkan pada pengalaman-pengalaman lebih lanjut (?). Tentunya kalau kita buka kaca mata, akan terpampang teknik dakiannya di berbagai macam tebing pengalaman. Dan kita menemukan pengetahuan tak serupa. Sementara yang hanya melihat-lihat, akan ketinggalan kereta. Tidakkah kita harus bepergian (?) Menghantarkan sesama menuju pemahaman lebih membumikan keilmuan? Tak sebatas memakan roti, minum teh di pagi hari suguhan mereka. Padahal kita telah mengetahui, beras ketan hasil bumi lebih kaya gizi, dibanding roti berbahan sagu dari pulau jauh, belahan bumi lain yang kita kira cendekia.
Sayangnya, negara kita belum menjangkau ke sana, menyatukan para cendekia, guna mencipta semacam jaringan demi menanggulangi keterkejutan masa depan. (Oh, dimanakah ujud ICMI?) Yang sampai kini, bangsa ini terus digilas, dilintas, dilibas faham-faham kapitalisme serakah, liberalisme yang mengangkangi nalar-nalar fitroh dengan ketawa. Benar memang sejarah keilmuan Islam berangkat dari kebebasan bernalar, mencari ilmu ke sebrang jauh (negeri Cina kata makolah). Tapi bukan berarti yang telah berilmu sihir mengamalkan dengan menguasai yang lain. Namun selaginya digunakan demi menyembuhkan yang kesurupan. Di sini saya tak menuduh pihak lain, sebab saya tak memiliki berkas-berkas bukti serupa, tapi kehawatiran sebaiknya dirasai selalu. Agar tak terseok, terperosok jauh meninggalkan yang terpegang, sedari kehadiran kesadaran semula.
Seperti yang dinaikkah Gugun el-Guyanie. Seharusnya pemerintah tak curiga prodak-prodak militan dari pesantren. Dengan alasan yang tersirat adanya bom di Bali misalnya. Tidakkah perjuangan kemerdekaan negara ini, tak lepas dari semangat kemerdekaan, gerilya para santri dan kyai di dalam menghadapi, merangsek melawan penjajah? Hutang kita telah banyak pada kaum santri dan kaum abangan. Tetapi kerapkali kita memberinya tumpeng berbentuk kecurigaan. Sungguh air susu dibalas tuba, kitab kuning dibalas turunnya ninja, dengan mengira semua kyai dukun santet. Malanglah negara yang tak menghargai pahlawan, lupa diri serakah jaman edan, bal gedual aspal diuntal.
Tema-tema yang ditawarkan IMC ialah perkara sekitar kita. Merekam sejarah dijadikannya kamus sosial mengenai soal untuk kejadian serupa sebagai jawaban kekinian serta nantinya, sebab kerap kali berulang atas kebiasaan cara pandang kita. Dan Gugun memberikan khasana pembedahan yang cukup segar, jika kita tak berpandang sebelah mata merasa pandai. Meskipun yang dikemukakan ada perihal lama. Tetap saja dapat kita ambil, atas jarak itu jembatan merenungi berbagai permasalahan di depan, dengan kalbu cinta sesama. Ada tema-tema kurang menarik bagi saya, tetapi karena penyajiannya menawan, sehingga tak sadarlah saya merampungkannya. Diri ini diajaknya terlibat ke dalamnya nan nyaman dibuatnya.
El-Guyani, merupakan salah satu tentara Allah dari Kutub yang memiliki fersi madzab cinta. Pasukan intelektual dari pesantren Hasyim Asyari-nya almarhum Gus Zainal ini. Di samping Gugun, ada Muhammadun, Rusdy, Mufid, Syaiful Anam, Mukhlis, Yunus, &ll. Kita tunggu saja buku-buku mereka yang tentu memberikan hasana kasih sayang bagi sesama. Yang berangkat dari keterbatasan, bahu-membahu berdasar cintanya kepada agama serta negara. Setiap saya ke jogja bertemu mereka, sering kali mendesirkan kalimat; tentunya tahun-tahun mendatang, mereka menjadi pioner-pioner pembaharu Islam di bumi Nusantara, bumi sholawat Ceng Ho, para pemberani berkendara kalbu keimanan. Sungguh saya merinding cemburu terkagum dibuatnya. Salam hormatku bagi mereka semua.
Nurel Javissyarqi, senin 3 Maret 2008, pengelana
dari desa Kendal-Kembali, Karanggeneng, Lamongan.