You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Bangkitnya Solidaritas Perpuisian Muda Indonesia
Dasawarsa ini, dunia perpuisian seperti lesu berbicara pada para pencinta dan penikmatnya. Banyak persepsi yang berkembang di masyarakat—seperti melecehkan tentang karya sastra terutama puisi. Banyak orang yang menganggap, penyair dan puisinya adalah sebentuk omong kosong. Tidak bisa membawa diri, ke kehidupan yang sejahtera. Bagi mereka, puisi, dunia sastra atau ilmu humaniora pada umumnya adalah sebentuk kehidupan sekunder, oleh karena itu, nilainya tentu jauh lebih rendah daripada ilmu pengetahuan lain.
Orang tidak lagi menghargai puisi. Puisi, hanya dijadikan sebagai ungkapan rasa yang tertulis di diary-diary pada malam hari. Atau, puisi dijauhkan dari bentuknya yang luas, dan dipaksakan untuk jadi corong atau doktrin yang memaksa orang—memasung hak hidup orang. Puisi pun dijadikan bahan olok-olok, sehingga jika membacanya terkesan seperti membual dan sering membuat coreng dan sedih hati para penyair dan masyarakat pencinta sastra.
Penyepelean puisi pun masih terus terjadi. Buktinya, sangat sedikit sekali minat para penerbit buku yang mau menerbitkan sejumput naskah puisi dari penyair-penyair yang kini banyak menjamur di Indonesia. Akhirnya, para penyair pun mencari alternatif media, agar bisa menyalurkan kembali karya-karyanya kepada para pembacanya.
Koran, majalah, buletin, jurnal, web, blog atau millis bahkan kertas-kertas loak menjadi ajang ‘perang’ karya para penyair muda Indonesia—yang karyanya, dianggap belum sepadan untuk diterbitkan menjadi buku. Mungkin langkah ini sebagai perlawanan, terhadap hegemoni penerbit, yang hanya mencari karya fiksi populer seperti novel atau cerpen. Penerbit seperti itu, tidak mau mengambil resiko dengan menerbitkan naskah puisi dari para penyair—mungkin takut, bukunya tidak laku.
Herbarium; Antologi Puisi 4 Kota (Bandung, Padang, Denpasar, dan Yogyakarta) yang diterbitkan oleh PUJA (PUstaka puJangga) dalam 100 halaman ini merupakan hasil dari keringat para penyair muda, yang mempunyai semangat dalam dunia perpuisian. Diawali oleh sebuah pertemuan di Yogyakarta, sederet nama penyair muda yang muncul seperti ingin menuliskan sejarahnya sendiri—dalam dunia berpuisi di tanah persada nusantara. Munculnya antologi ini pun membuktikan, bahwa solidaritas para penyair di Indonesia ternyata bukan isapan jempol belaka. Mereka ibarat sapu lidi, yang yakin jika hanya berdiri sendiri dan bergerak sendiri, maka mereka tidak akan mampu melawan. Untuk itu, mereka bersatu—dengan kata-kata yang ditetaskannya, mereka ingin menunjukkan bahwa ‘sastra masih ada’.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
dolia
aku punya banyak karya puisi sudah hampir 100 lbh……….
gmn ya caranya buwat jadiin buku yang bisa di publikasikan???????
January 6th, 2008 at 9:36 pm