You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Wiji Thukul; Pendulum yang Masih Berdetak

Wiji Thukul; Pendulum yang Masih Berdetak

sayyid — May 31, 2007 / 5:47 pm

<

p class=”abn-entry-text”>Wiji seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kau hendaki tumbuh engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah

(Wiji Thukul; 1987)

Penggalan bait pertama dari puisi yang berjudul “Bunga dan Tembok” diatas adalah secuil dari rasa ‘sayang’ penulisnya terhadap nasib rakyat akar rumput—Indonesia. Seperti yang kita ketahui, selama 30 tahun rasa keadilan dan kebenaran di Indonesia serasa dilucuti oleh tindakan-tindakan represif pemerintah. Dan penulis puisi ini (penggalan puisi diatas) hidup diantara jutaan rakyat Indonesia yang rasa keadilan dan kebenarannya itu dilucuti oleh para abdinya sendiri. Dialah Wiji Widodo atau yang akrab disebut dengan Wiji Thukul.

Pria kelahiran Solo 26 Agustus 1963 yang punya tubuh kurus ini hadir ke dunia sebagai bagian dari keluarga tukang becak. Ironisnya, kehidupan Thukul tak pernah mencapai taraf yang cukup sebagai hak manusia. Kekurangan selalu berjalan berdampingan dengan Thukul. Bahkan ketika ia harus berumah tangga sampai dinyatakan hilang, Thukul merupakan sosok sempurna dari perwakilan rakyat miskin Indonesia.

Tetapi, Thukul tidak tenggelam dan melulu mengiba pada Tuhan mengapa ia dilahirkan sebagai bagian dari rakyat yang papa. Thukul tetap berusaha agar roda kehidupan keluarganya bisa terus berjalan. Sempat ia mencicip pekerjaan sebagai tukang koran, calo karcis bioskop serta tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Sebagai seorang istri, Dyah Sujirah atau yang akrab dipanggil dengan Sipon tidak patah arang manakala suaminya pulang tidak bawa uang. Dengan bermodalkan mesin jahit tua di rumahnya yang hanya berlantaikan tanah, ia melanjutkan roda kehidupan keluarga agar tidak berhenti bergerak. Selain itu, satu-satunya ruang ‘termewah’ di dalam rumah Thukul yaitu terdapatnya ruang perpustakaan kecil. Disana terdapat buku Antonio Gramsci, Bertold Brecht, Raymond Williams dan yang lebih mencengangkan kebanyakan buku-bukunya itu berbahasa Inggris.

Selain menjadi buruh, Thukul tergerak hatinya ketika melihat kerancuan dalam sistem yang menghubungkan pemilik modal dengan buruh. Sampai saat ini, perspektif masyarakat ketika mendengar nama buruh adalah pekerjaan yang menguras keringat dengan upah yang minim. Jadilah Thukul sebagai aktivis pembela kepentingan buruh dan rakyat miskin. Perjuangan Thukul semakin terasah ketika ia bergabung dengan Persatuan Rakyat Demokratik (PRD). Ketika itu, Thukul diangkat sebagai ketua Divisi Budaya. Selain di PRD, Thukul pun aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) dan aktif pula membina Sanggar Suka Banjir di sekitar tempat tinggalnya di kampung Kalangan.

Selain aktif berdemonstrasi atau beraksi di jalanan, Thukul pun hidup dari puisi-puisinya yang berbahasa lugu namun sarat sayatan dan hujaman kepada pemerintahan otoriter kala itu. Salah satu bait puisi yang sampai sekarang telah menjadi fenomena dan selalu diikutsertakan dalam berbagai aksi yaitu;

apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan!

(Wiji Thukul; 1986)

Puisi-puisi Thukul lahir dari kesadaran menjadikan seni sebagai media perjuangan terhadap kesewenang-wenangan. Walaupun disebut sebagai penyair pembangkang tetapi Thukul tetap berada pada garis yang ia pijak sejak awal. Namun dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah sastra sekitar tahun 1994, ia mengungkapkan posisinya, “Saya bukan penyair protes. Saya menyadari proses. Menulis puisi persoalannya selalu kembali ke persoalan diri saya. Begitu saya drop out dari sekolah, saat itulah saya sadar tentang arti hidup yang sebenarnya. Ada semacam pembenturan nilai. Yah, setelah keluar sekolah, akhirnya saya harus memilih menjadi tukang pelitur. Saya harus mengatur diri sendiri dan memilih mana yang baik dan tidak. Kalau di sekolah yang baik sudah ditentukan, padahal itu belum tentu baik bagi kita.”

Seorang teman seperjuangannya bernama Linda Christanty pernah menyatakan pada sebuah situs internet bahwa sajak-sajak Thukul itu tidak puitis dan pasti terkesan vulgar bagi banyak mahasiswa pada masa Orde Baru. Bagi mereka (mahasiswa), sulit membayangkan keindahan dalam keadaan yang kumuh dan miskin seperti kehidupan buruh, tukang becak, atau masyarakat yang sengaja dimarjinalkan. Tak bakal ada keindahan dalam got yang bau dan keringat yang mengucur deras, yang bisa memicu kelahiran karya sastra. Kemiskinan dan penderitaan hanya melahirkan lembaran pamflet, bukan sajak atau puisi. Keindahan sejati hanya terkandung dalam kisah-kisah cinta yang wangi. Keindahan tak bisa beriringan dengan protes yang mengandung kemarahan, tuntutan, dan kekecewaan, seperti apa yang disebut Thukul sebagai puisi.

Selain berpuisi, Thukul juga aktif mengayomi para buruh di lingkungannya untuk berteater. Konsep sebuah teater buruh di Afrika Selatan mengilhaminya. Buruh-buruh memerankan pengusaha, satpam, mandor, supervisor, dan diri mereka sendiri. Buruh yang memerankan majikan berdebat dengan buruh yang memerankan dirinya. Mereka belajar bernegosisasi lewat teater. Selama ini para buruh merasa tak punya kemampuan menjelaskan tuntutan mereka di hadapan pengusaha atau pihak departemen tenaga kerja yang mereka sebut ‘orang-orang pintar’ itu. Kalimat-kalimat mereka selalu dipatahkan dengan kelihaian pengusaha berargumentasi. Tuntutan-tuntutan kesejahteraan mereka tak dipenuhi. Thukul melatih buruh-buruh berbicara, membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk berhadapan langsung dengan pemilik modal yang menentukan upah mereka dalam kehidupan nyata. Latihan ini semacam simulasi. Meski pengusaha punya pembela hukum, buruh-buruh tak perlu gentar. Dengan bersatu, kekuatan mereka akan lebih besar dan didengar.

Dalam kondisi Orde Baru yang suram, Wiji Thukul menunjukkan dirinya kepada pemerintah bahwa ia dan kaum buruh lainnya bukan sampah. Ketika kondisi dalam negeri (pemerintah) memusuhinya, puisi-puisi Thukul malah mendapatkan penghargaan Werdheim, sebuah anugerah bergengsi untuk karya-karya kemanusiaan. Puisi-puisinya itu memperoleh pujian, meski ia mengatakan tak pernah menulis puisi untuk menang perlombaan. Panitia penghargaan memberinya hadiah sejumlah uang. Tetapi sayangnya Thukul tak bisa datang ke Belanda untuk menerima langsung hadiah tersebut. WS. Rendra, penyair Indonesia yang juga memenangkan penghargaan Werdheim pada tahun yang sama dan datang untuk menghadiri penganugerahan itu menawarkan diri untuk dititipi uang hadiah Thukul. Namun, hadiah tadi tak pernah sampai ke tangan Thukul. Selain itu, pada tahun 2002 Thukul pun dianugerahi penghargaan Yap Thian Hien Award. Dewan Juri Yap Thiam Hien Award 2002 terdiri dari Prof. Dr. Soetandyo Wignjosoebroto, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dr. Harkristuti Harkrisnowo, HS. Dillon, dan Asmara Nababan, pada 27 November 2002, memutuskan secara bulat pria bernama asli Wiji Widodo sebagai penerima Yap Thiam Hien Award ke-10. Wiji terpilih setelah menyisihkan sekitar sembilan puluhan peserta lain dan mengalahkan dua orang nominasi lainnya. Dewan juri juga menjelaskan alasan mendasar sehingga mereka memilih Thukul yaitu, karena ia seorang reminder dan representasi orang yang tidak mengerti HAM secara teoretis, tetapi aktif dalam memperjuangkannya.

Perjuangan Thukul hingga saat ini masih terus diusung, terutama oleh kalangan buruh yang senantiasa menjadi sapi perahan para pemilik modal. Walaupun hingga detik ini, Wiji Thukul tidak pernah diketahui apa ‘mati’ atau masih hidup, tampaknya hal itu bukanlah sesuatu yang memusingkan bagi para aktivis pergerakan buruh dan aktivis sastra perlawanan. Kebanyakan para aktivis, merasakan kehadiran Thukul ketika puisi-puisi pamflet yang fenomenal seperti “Peringatan, Suara, Bunga dan Tembok” dibacakan sewaktu aksi. Seperti pendulum waktu, perjuangan yang terukir pada bait-bait puisi Thukul akan terus berdetak. “Tidak ada yang hilang di dunia ini, tetapi hanya berpindah ke suatu tempat yang mata kita tak bisa menjangkau semua itu.” Begitulah ungkapan seorang aktivis pergerakan buruh ketika ditanya oleh penulis tentang Wiji Thukul. Maka, bersatulah buruh se-dunia. Hanya ada satu kata; Lawan!

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang