You're here: My Writing Blogging » Lentera Susastra » Article: Seseorang yang Tiba Bersama Senja

Seseorang yang Tiba Bersama Senja

sayyid — June 7, 2007 / 3:44 pm

Cerpen Sayyid Madany Syani

Hari-hari biasa. Pukul 18.35

Satu-satu nyamuk hinggap, yang lainnya bersliweran—di dalam rumah, dalam kamar, dapur, halaman belakang, wc, got, bak sampah, atau di depan jalanan hening—di depan, gemerisik rumput bergoyang digoyang angin. Televisi masih nyala, menampilkan berbagai segmentasi gambar—perempuan mengurai mayang—sedangkan di punggung rumah, codot mengetuk-ngetuk pintu, yang lainnya beterbangan cari buah—darah.

Langit di ufuk barat, kuning kemerahan. Beberapa bintang muncul titik-titik. Bulan masih pudar, bertengger di seutas kabel, mengusir aneka burung pagi dari lindapannya di atas tiang itu. Jauh, dari ringkikan roda dua, roda empat, roda enam atau roda-roda besar yang menggilas Karang Putih, rumah-rumah bersetuju, mempersilahkan senja untuk datang sekedar menjadi Janang yang memberitahukan: “malam akan tiba!” “malam akan datang!” “malam akan berjalan!”

Namun, ada yang mengusik upacara rutin para rumah itu. Sampai-sampai, para rumah yang berjejer itu meminta maaf pada Janang malam, karena mereka tidak bisa serius menanggapinya. Ya, dialah seseorang. Seseorang yang selalu datang. Seseorang yang pasti tiba. Seseorang itu, selalu berkelebat cepat. Seperti dikejar jin, atau dikejar orang berparang—ia tetap melaju seperti kuda sembrani. Dalam kayuhan perjalanannya itu, di tangannya, antara lengan dengan batas pinggang selalu saja terkepit sebuah buku. Kadang-kadang buku itu tebalnya duapuluh senti, namun pernah juga di tangannya itu hanya mengenggam sebesar kepal tangan, dengan tebal tidak lebih dari tiga senti. Seperti kepastian kehadirannya itu, buku yang dia kepit pun, semakin menambah daftar panjang kerutinannya yang tidak biasa—cara berjalan, cara menatapnya yang tajam, ransel, rambutnya yang dibiarkan kaku, wajah, tangannya yang selalu basah, bibirnya yang selalu kering, kerah bajunya yang sudah usang, celananya, sepatu, kaus kakinya yang kusam dan banyak ketidakbiasaan lain, sehingga rumah ketua RT pun bingung, penghuni rumah mana seseorang ini?

Hari-hari itu juga. Pukul: 18.37

Belum banyak jangkrik berceloteh di warung. Biasanya, menjelang tengah malam, mereka bertadarus kitab Krik. Tanpa gendang, tanpa talam mereka berdendang—berusaha sabar, membuka lembar demi lembar kitab Krik, walaupun mereka, sudah ditinggal para cacing yang tidur, ketiduran, tertidur dan ditidurkan.

Sebelum jauh semua berjalan, seseorang kembali datang. Langit belum lagi hitam pekat, baru setengah di Timur dan kuning kemerahan di Barat. Ditambah, awan yang kelihatannya telah masak diaduk-aduk angin, berarak menuju kuning kemerahan tadi, mengucap perpisahan pada matahari. Seseorang itu, turun dari sebuah angkot roda empat, ber-cat merah layu, dengan pandangan supir yang menatap sayu ke jalanan di depannya yang hening. Satu-satu kendaraan lewat, pengemudinya persis seperti supir angkot itu. Seseorang itu menghentakkan pintu depan keras-keras. Sekali, pintu itu tidak mau berkompromi. Angkot itu telah bergoyang-goyang, saking berkali-kalinya pintu depan mobil itu didamprat. Sang supir, masih memegang erat kemudi putarnya, tak mengedipkan mata, dengan kaki kanannya masih menggantung diatas pedal gas. Ah, setelah bantingan yang kesekian, pintu itu mau juga ditutup. Angkot pun melaju, mengejar titik hitam di depan—pohon-pohon berlarian.

Seseorang menatap nanar. Membolak-balikkan lalu memutar-mutar buku di tangannya yang ceking. Tubuhnya dibalikkan, mulai berjalan agak cepat, tinggalkan tiang, dan atap pangkalan ojek lama yang barusan rubuh, saking kerasnya getaran bantingan pintu angkot tadi. Mulai masuk perumahan, di tepi kanannya, mesin bubut mati ditinggal pemiliknya yang sudah mengunci pintu rumah. Menyisakan ampas kayu-kayu jati, yang masih harum berembun di tanah hutan Gadut, yang didengung chinsaw proyek. Semakin dikayuh kakinya, meninggalkan jejak tak berjejak dan sebuah nada monoton, dari hentakan-hentakannya.

Berhenti sebentar di depan bangunan tk. Ia lihat sekeliling, tembok penuh dengan warna-warni keriput. Cat di pintu masih leler, menandakan baru disapu oleh kuas penuh cat. Gambar-gambar kartun, berjejer di dinding, melambaikan tangan padanya yang masih tegak berdiri. Mungkin saja berusaha mengejek dirinya.


Pukul 11.00-tahun 2000; setahun setengah, setelah kedatanganku.

“Bang, lihat bagus kan?” Lelaki, yang dipanggil abang tidak menyahut. Sibuk dengan rangkaian puzzle yang dia susun sejak pagi. “Bang!” Tidak beringsut dari duduknya, lelaki hampir remaja itu, masih saja terkonsentrasi dan berusaha menyelesaikan puzzle yang sudah setengah jadi. Angin bertiup pelan, membawa udara panas berdebu masuk rumah. Lelaki itu tampaknya hampir putus asa, dan beranjak sebentar untuk menutup pintu depan yang terbuka lebar.

Sekembalinya dari menutup pintu, alangkah kagetnya ia, melihat puzzle-puzzle di meja berantakan. Mendengus lelaki itu, mencari dimana sang biang keladi. Disusurinya sudut-sesudut rumah, halaman belakang, depan, dan pinggir kolam ikan—nihil. Angin berkesiur, panas, mengantarkan sosok remaja lelaki kembali ke dalam rumah. “Awas nanti!” hatinya mengancam, sembari mengepalkan jemari tangannya yang mulai tumbuh.

Sudah jam setengah 12.

Seorang wanita kecil, berjingkat masuk rumah. Usianya lebih enam tahun. Sesekali membekap mulutnya yang akan bersin, menggesek-gosokkan hidungnya yang gatal, dan mencegah lendir bening itu keluar dari sarangnya yang berongga dua. Terus melangkah kecil, diliriknya kanan-kiri, kosong ia terus melaju. Menyusuri halaman belakang yang rimbun ilalang. Membuka sedikit pintu kayu tua, dan memasukkan badannya pelan-pelan. Aman. Ia terus melaju menuju ruang tengah, berbelok ke kiri, masuk kamar. Ditutupnya pintu kamar rapat, dan menguncinya dari dalam. Dalam hatinya ia merasa menang, sesungging tawa membayang di garis bibirnya yang mungil. Dia akan menunggu disana, sampai abangnya tadi, pergi ke sekolah tepat pukul 12.00. Debu pun berkumpul bersamanya di ranjang reot, bercanda ria dalam nafas yang tersengal, dan berpesta pora, di potongan baju seragam merah mudanya, yang masih lekat ia pakai.

Dalam lamunannya menjelang jam 12, wanita kecil itu berceloteh dalam mimpinya. Ia seperti kembali ditarik oleh waktu—ke belakang, ke jam-jam sebelumnya, hari-hari sebelumnya—ceria bersama teman-teman sekelasnya, bernyanyi, bermain atau sibuk melukis sketsa titik-titik, menjadi gambar yang mendekati sempurna. Kadang, ada juga yang bersedih hati ditinggal pergi ibunya, atau seperti layaknya sebuah sinetron yang menampilkan tokoh antagonis dan protagonis, begitu pula kehidupan wanita kecil itu, di sekolah mininya. Selalu saja ada yang usil terhadap dirinya, namun tidak jarang juga, ada pula yang berusaha untuk bersimpati.—Tk itu, penuh dengan tawa, tangis, dan keceriaan penghuninya. Itulah, yang membuat wanita kecil tersebut, sangat bersemangat ketika fajar tiba. Cepat-cepat ia bereskan keperluan untuk sekolah mininya—seragam merah muda, tas dan sepatu mungilnya. Tak lupa, setelah mandi, ia minta ibu untuk menjalin rambutnya yang setengah panjang dengan pita merah menyala.

12.05

Lelaki itu menekan gagang pintu kamar, dan tidak terbuka juga. Berkali-kali ia bolak-balikkan gagang pintu itu, namun tidak juga bergerak. Bau harum sabun, melekat di seragam putih-birunya itu. Rambutnya yang setengah basah ia sisir belah tengah. Setelah yakin, pintu kamar tidak bisa dibuka, ia pun pergi meninggalkan salam di punggung dan engsel pintu depan. Langkisau masih menggulung pekat, meninggalkan jejak berdebu di belakang lelaki remaja itu.

2001; pertengahan tahun: Sebuah akhir!

Purnama kuning pucat, menatap pagar-pagar tinggi, yang melingkari beberapa gedung dengan cat putih yang juga telah suram. Lorong selasar itu lengang. Sesekali memang terdengar derit roda yang masuk ke ruangan di ujung. Tapi, memang hanya sesekali. Bau khas, sentil dua lubang hidung, kucing hitam muncul dari rerumputan liar, melompat lalu mengeong mengendus kaki pintu.

Malam itu, di ruang yang lainnya, ibu tak henti mendesah. Bulir-bulir air mata, bercampur bersama keringat yang telah kering, di bajunya, atau di kerudung kuningnya. Kakak tak mau kalah, bersahutan mendesah bersama ibu, mencoba menenangkan hati ibu, tapi tak bisa menahan rasa nyeri yang menyerang dada. Aku, hanya menatap dua perempuan itu saling berpagutan dalam sedih. Sebenarnya, ingin sekali aku berteriak, untuk menumpahkan rasa yang menghujam hati. Tapi, aku kulum dan aku telan bulat-bulat seluruh perasaan itu, kurahasiakan dari ibu dan kakakku.

Angka di jam tanganku menunjukkan angka 11. Di luar, burung hantu berdeku ria, terbang dan hinggap dari dahan yang satu, ke yang lainnya. Sementara aku, kakak dan ibu, masih menunggu dalam waktu yang masih terseret-terseok di selasar-selasar kosong.

“Oh, Tuhan, mengapa harus gadis kecilku itu?” Ibu kembali memulai desahannya itu. Memijit jari-jemarinya sendiri, berusaha membuang luka jauh-jauh.

Tidak ada yang menyahut, aku maupun kakakku. Aku sendiri masih terbuai dengan pikiran-pikiran yang kecamuk. Sedang kakak, masih juga menyimpan tangis yang siap untuk ditumpahkan setiap saat. Tiba-tiba, aku terkaget, ketika pintu di depanku bercericit. Ibu, sontak berdiri diikuti oleh kakak dan kakiku yang tiba-tiba juga ingin ikut berdiri.

“Bagaimana keadaannya dokter?” Ibu, masih menyimpan tangis dalam bicaranya. Orang yang dipanggil dokter, hanya terpaku diam. Menatap dinding kosong di depan. Berjalan selangkah-selangkah. Cuma sedikit menoleh ke Ibu, kakak dan aku. Aku heran, ia pun juga mendesah dan membuang nafas panjang ke samping kirinya. Menggelengkan kepala, lalu berjalan kembali menyeret sepatu sehingga menimbulkan bunyi yang sepertinya memilukan.

Tangis ibu pecah lagi. Membanjiri pipinya yang keriput. Aku masih heran, dan mencoba untuk mencari tahu lebih jauh ke dalam ruangan. Disana, berdiri seorang suster muda, membereskan peralatan-peralatan kedokteran yang tercecer di lantai. Di atas ranjang, terbujur sosok yang menurutku tidak asing lagi. Kubuka ujung selimut itu pelan—wajah biru gadis kecil di depanku, menyimpan sekulum senyum yang belum sempat dilemparkan. Terdengar lamat-lamat suara ibu yang pecah tangisnya, kakak pun juga, dan suara suster yang berusaha menerangkan, gadis itu terkena radang paru-paru.


Hari-hari yang sama, pukul 18.39

Lelaki itu, lama bermenung di depan bangunan bergambar. Setetes terurai juga di wajahnya yang berusaha untuk tegar. Buku yang ia genggam, telah basah akibat keringat yang leler di telapak tangannya. Pelan, ia kayuh kembali kakinya. Wajah yang sedari tadi tertekuk, pelan pula ia tegakkan. Rumah-rumah yang juga dari tadi menatapnya, bersama Janang malam, pun ikut merasakan kesedihan hati seseorang itu yang kembali mengayuh kencang kakinya.

Azan baru berkumandang dari corong mesjid, berusaha menggagahi dengung chinsaw di bukit hutan Gadut, atau ingin menyamakan diri dengan suara mesin pengeruk bukit Karang Putih. Dalam perjalanannya, seseorang itu mengucapkan kata; adik. Pelan sekali, seperti berbisik, membelai dedaunan yang jatuh dari pohon-pohon jati.

Padang Februari-Maret 2007

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • VERA — aslm... pengumuman pemenangnya kpn sehhhhhhhhhh?????
  • yogi — Sangat mencengangkan dan membingungkan, tetapi bagus buat review presentasi nanti. Well done hahaha
  • Jawquaday — hed kandi various artists i know you got soul oracular spectacular mgmt pieces of what rhinos ohmygod 80s pop culture ...
  • iiK — UnTuK bUMi.. seanDainya seorang anDrea ADA PAda posisi anDa... apa yang anda lakukan???????? ada kalanya oRang beraDa di atas dan ada kalanya juGA ...
  • iiK — AnDreA......................... Penginspirasi seMua peLajar daN guru2 di Indonesia.. anJriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit........... aKu saLuuuuuuuuuut banGet................... teTap jaDi yanG TERBaIk......... […]
  • Dehrccjx — nice site,
  • Cbjdaphg — Nice day,
  • Heri Juanda — saya juga stringer di the associated press (AP Photo) untuk Aceh. sekiranya ada info lowongan untuk jadi fotografer di wilayah ...
  • aslam — kalau bisnisIndonesia butuh kontributor untuk wilayah Sul-Sel atau Sul-Bar, saya bisa dihubungi di 085255936678 Thanks. Aslam
  • dedik — ikut..dong walau gaak menang